
Tanpa pikir panjang, Yudha bergegas ke kamar Raja. Berbagai pertanyaan menyerbu pikiran Yudha. Bagaimana bisa dia terkunci, apa yang sebenarnya terjadi dan masih banyak lagi. Karena memang aneh saja, awalnya dia pikir Raja benar-benar pergi entah itu lari pagi atau semacamnya.
Oleh karena itu dia tidak begitu memusingkan kenapa adiknya tidak ikut sarapan. Kini, semua dugaan itu terpatahkan dengan segudang tanya dan kebingungan. Lebih bingung lagi, kala dia menyadari di luar juga tidak ada kunci pintu yang tersedia.
Yudha kembali meminta sang adik berusaha mencari kuncinya lebih dahulu. Namun, jawaban Raja sama dan memang tidak ada di sana. Pikiran Yudha belum buruk sepenuhnya, besar kemungkinan Raja yang tidak teliti atau Arjuna kurang kerjaan.
Dia tidak mempermasalahkan hal itu, hingga Yudha meminta seorang pelayan untuk mengambilkan kunci cadangan yang tersedia. Hal aneh kembali terjadi, pelayan yang biasanya selalu bergerak cepat kini butuh waktu cukup lama hanya untuk mencari sebuah kunci.
"Lama sekali ... apa kau mencarinya di Afrika?"
"Maaf, Tuan, kunci kamar itu hanya tersisa satu dan tempatnya juga sudah berbeda," jawab pria itu sedikit bergetar, dia juga bingung sebenarnya kenapa bisa kunci cadangan itu tidak berada di tempat biasa dan hanya ada satu.
Belum sempat Yudha membuka pintunya, Gilsa tiba-tiba berteriak dan menampar sang pelayan begitu kuat. Sontak Yudha menatapnya penuh tanya, dia semakin bingung dengan apa yang terjadi pagi ini.
"Lancang!! Apa yang kau lakukan?" tanya Gilsa dengan dada yang kini naik-turun, matanya sesekali tertuju pada kunci yang kini sudah berada di tangan Yudha.
Dia terlambat, hendak bagaimana sekarang dan besar kemungkinan dia tidak memiliki daya untuk melawan kehendak Yudha. Seketika wanita itu pucat pasi dengan lidah yang tampak kelu, dia bingung bagaimana hendak berucap demi menghentikan Yudha.
"Kak Yudha buruan!! Aku hampir telat."
"Jangan dibuka!! Berani kau membukanya maka kau berhadapan denganku, Yudha." Gilsa menekan setiap perkataannya, wajah wanita itu tampak serius dengan tatapan super tajam dan berharap akan membuat Yudha tunduk.
__ADS_1
"Dasar aneh, Mama tidak dengar suaranya?"
Yudha kembali pada tujuan utama, dan saat itulah dia kembali dibuat bingung lantaran Gilsa tiba-tiba melarangnya. Dia menahan tangan Yudha dan meminta kunci itu kembali, jelas saja hanya ditanggapi senyum tipis oleh Yudha.
"Dia harus belajar, Mama tidak suka Raja buang-buang waktu."
"Raja sudah selesai ujian ... jadi berhenti memberikan alasan dia harus belajar atau lainnya," ucap Yudha santai dengan mata yang terus menatap lekat wanita itu, gelagatnya semakin aneh dan Yudha sangat mengerti jika wanita itu gusar luar biasa.
"Aku mamanya, aku yang lebih tahu tentang hidupnya jadi kau jangan ikut campur," tekan Gilsa masih berusaha menahan pergerakan Yudha.
Namun, apalah arti tenaga Gilsa jika Yudha sudah bertindak. Pada akhirnya dia kalah juga dan kini semakin panik ketika pintu terbuka lebar. Raja yang ternyata sudah siap dengan pakaian dan bola basket di tangannya hanya menghela napas kasar.
"Masuk, kamu tidak boleh kemana-mana, Raja."
"Berapa kali mama bilang, teman-teman kamu membawa pengaruh buruk jadi berhenti dan lebih baik belajar, Raja ... kau harus lulus S2 bahkan lebih jika bisa," ucap Gilsa yang hanya membuat Raja memutar bola matanya malas.
"Aku bukan anak perawan dan aku bisa membatasi diri, jadi Mama berhenti mengkhawatirkan aku berlebihan."
Apa yang dia alami pagi ini benar-benar membuat suasana hati Raja memburuk. Bagaimana tidak, dia yang sengaja menyiapkan diri untuk pertandingan bersama teman-temannya harus merasakan hal semacam ini.
Tanpa perlu dijelaskan, Raja menyimpulkan jika semua ini adalah ulah sang mama. Awalnya dia biasa saja, dia berpikir mungkin kunci kamar itu tercecer tanpa dia sadari dan memilih untuk mandi dan bersiap lebih dahulu.
__ADS_1
Namun, setelah susah payah dia mencari bahkan memanggil seseorang di luar, baru Raja mulai merasa aneh dan meminta bantuan Yudha. Hati Raja semakin kacau lagi kala Gilsa kembali memintanya untuk masuk ke kamar dengan dalih harus belajar.
Jelas saja dia berontak, Raja enggan dan memilih mengabaikan panggilan Gilsa. Hingga ketika melewati ruang tamu, papanya bahkan meminta Raja berhenti demi menyapa tamunya. Jika pada sang mama dia masih berani melawan, berbeda dengan Papa Atma.
"Ini putraku yang ketiga, namanya Raja."
Raja mengikuti keinginan sang papa sebagaimana mestinya. Dia mencium punggung tangan pria asing yang baru pertama kali dia temui itu. Tatapan matanya membuat Raja risih, dia bahkan berpikir apa ada yang salah dengan wajahnya hingga dia memilih tertunduk dalam dan menghindari tatapan pria itu.
"Kau mau kemana?" tanya Panji masih terus menatap Raja yang tampak menghindari dirinya.
"Main basket, Om."
"Main basket? Wah om juga sangat suka ... tanya pada papamu," ujar Panji yang kemudian disambut gelak tawa oleh Atma.
Suasana itu tampak hangat, tapi Yudha justru menatapnya berbeda. Dari kejauhan, dia memerhatikan mereka. Sesuatu terlihat begitu janggal, terutama pada pria bernama Panji itu.
"Tidak beres, semua terlalu aneh hanya untuk sebuah kebetulan," batin Yudha kini merogoh ponsel dan kemungkinan besar laporan kali ini akan lebih cepat sampai pada Bima.
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -