Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 88 - Kualat


__ADS_3

Hanya karena menunggu Bima, suasana di rumah utama mendadak panas luar biasa. Tidak hanya kepala Atmadja yang sakit, kepala Gilsa juga demikian. Bahkan, malam ini mungkin pria itu tidak dapat tidur nyenyak, dia khawatir dan tenggelam dalam rasa bersalah kala mengetahui anak buahnya memukul Bima tanpa perintah.


Sama sekali Atma tidak meminta pengawalnya menyakiti, tujuan pria itu merampas satu-satunya harta Bima ialah agar pintu hati sang putra terketuk dan kembali, itu saja. Namun, agaknya Bima justru memberikan sertifikat rumah itu tanpa banyak bicara.


"Bagaimana lagi caraku membuatnya pulang," gumam pria itu menatap langit kelam, tiada bintang dan tampaknya akan segera hujan.


Demi Tuhan Atma tenggelam dalam kekhawatiran, beberapa kali dia berpikir apa mungkin terlalu berlebihan kini. Hanya saja, sebagai papa dia memang agak sedikit tersinggung dengan keputusan Bima yang memilih bungkam dan seolah sengaja merahasiakam banyak hal di hadapannya.


Tidak hanya soal niat Bima untuk kembali pada Lengkara, tapi juga pernikahannya tiga tahun lalu. Entah apa alasan Bima menjadi begitu tertutup padanya, tapi yang jelas terkait permintaan tak masuk akal Yudha tiga tahun lalu baru Atma ketahui belum lama dan itu juga karena Yudha yang mengakuinya.


"Dasar anak nakal."


Atma berdecak dan masih terus memandangi langit kelam itu. Setelah apa yang dia lakukan tadi pagi, Atma justru memikirkan bagaimana putranya hidup setelah ini. Sementara, sejak dahulu Bima terbiasa serba ada dan bergelimang harta.


Sementara Atma gusar dan sakit kepala memikirkan putranya, di sisi lain yang dipikirkan tengah baik-baik saja, bahkan sangat baik. Sedikitpun dia tidak memikirkan balik Atma, pria itu hanya tenggelam dalam kenikmatan duniawi yang lagi-lagi membuatnya terlena dan lupa akan rasa sakit yang dia terima.


Malam ini begitu dingin, hujan yang tadi dia ramalkan benar-benar turun dan semakin mendukung kegiatan mereka. Decitan ranjang bersamaan dengan dessahan dan rintihan kedua insan yang tengah memadu kasih berpadu di sebuah kamar sederhana itu.


Seperti yang Lengkara katakan pada Yudha, malam ini keduanya akan kembali berperang. Beruntung saja pria itu benar-benar pulang, jika tidak maka tentu saja hati mungil Prayudha Bagas Tami akan terluka meski dia mengatakan sangat baik-baik saja.


Kendati demikian, Lengkara masih was-was dan bergerak dengan hati-hati di atas tubuh kekar sang suami. Satu hal yang perlu dia ingat, rumah ini tidak sebesar kediaman utama keluarganya di Jakarta. Lagi pula, jarak antara kamar ini dan kamar ibunya tidak begitu jauh, siapa tahu saja derit ranjang ini sampai ke telinga mertuanya.


Lengkara yang mandiri dan tidak malu dalam mengekpresikan perasaannya adalah hal tak ternilai bagi Bima. Istrinya memang cantik, tapi jika dipandangi dari bawah seperti ini maka cantiknya berkali lipat.

__ADS_1


"Kamu cantik sekali malam ini, Ra," puji Bima pelan masih dengan tatapan penuh damba yang tertuju hanya untuk istrinya seorang.


Beberapa saat dia biarkan Lengkara memanjakan miliknya dengan Bima yang fokus pada buah sintal favoritnya. Hingga, Lengkara mulai melemah dan saat itu juga Bima menarik tubuh sang istri untuk bertukar posisi.


"Kenapa dituker, belum lima men_nitthhh."


Selalu, tidak ada celah untuk dapat bicara dengan baik jika Bima sudah berkuasa di atasnya. Dia tidak segera menjawab pertanyaan yang Lengkara lontarkan, pria itu hanya tersenyum seraya bergerak lembut menggantikan sang istri beberapa saat lalu.


"Kamu capek, biar mas saja yang mempimpin," ucapnya kemudian menunduk dan mengecup pelan bibir lembut Lengkara, bibir yang seolah menjadi candu dalam jiwa Bima hingga pria itu tidak pernah mampu untuk lupa.


Perlahan semua memang aman-aman saja, Bima bermain lembut dan gerakannya masih sedikit masuk akal. Namun, perlahan Lengkara merasa pria ini semakin menggila seolah tidak melakukannya setahun yang lalu.


"Mas, pelan!!"


Panggilan Lengkara sama sekali tidak dia hiraukan, Bima semakin brutall bahkan membuat Lengkara bingung suaminya kerasukan atau bagaimana. Napasnya sudah terengah-engah, keringat menetes dari dagu dan membasahi dada bidangnya, sial Bima yang begitu terlihat tampan sekali.


"Pelan-pelan tolonglah," pinta Lengkara mulai lelah karena sejak tadi dia abaikan begitu saja.


"Kenapa? Sakit atau kenapa?" tanya Bima sedikit lebih pelan, dan sukses membuat Lengkara meremmas sprei lantaran nikmat tak tertahan itu kian menjadi saja.


"Bukan ... nanti didengar ibu." Lengkara memerah seraya mencubit lengan Bima.


"Oh soal itu, jangan khawatir ... di luar hujan dan ibu sudah tidur jam segini."

__ADS_1


Bima pikir sang istri merasakan sakit hingga dia sejenak bergerak lebih pelan, jika tahu alasannya hanya itu jelas bukan masalah. Tidak sampai satu menit, dia kembali menggila dan membuat Lengkara terombang-ambing rasanya.


Bima benar-benar haus, dahaganya seakan tidak lega jua. Agaknya resep yang Zean sarankan dan dia coba usai makan malam benar-benar bekerja dengan sempurna, sungguh kakak ipar yang berjasa.


Tidak peduli keadaan, bahkan kilatan petir dan hujan lebat di luar sana seakan Bima anggap sebagai pelengkap. Padahal, Lengkara sudah sepanik itu dan berkali-kali memanggil namanya.


"Mas Bim_"


"Sebentar, Ra ... sedikit lagi."


"Kyaaaaaaaaaaa!!!"


Detik-detik terakhir menuju pelepasannya, teriakan sang istri melengking di telinga Bima kala petir menggelegar bersamaan dengan ambruknya ranjang yang dia banggakan sebelum memulai permainan.


"Sayang ... ranjangnya." Bima meneguk salivanya susah payah kala menyadari kerusakan yang kini terjadi.


"Sudah kubilang pelan-pelan, kamu sih!!" ucap Lengkara mengerucutkan bibir dan kali ini Bima memang salah besar.


"Aku sudah ***_"


"Bima!! Lengkara!! Ada apa, Nak?!!"


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2