Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
Bonus Chapter #6


__ADS_3

Masih dalam momen bahagia di Bali, setelah sepanjang hari menghabiskan waktu di pantai untuk bersenang-senang Bima dikejutkan dengan panggilan telepon dari Yudha. Jika hanya sekali mungkin biasa saja, tapi yang membuat Bima panik ialah Yudha menghubunginya hingga puluhan kali.


"Kenapa, Mas?"


"Sebentar, Sayang mas telepon Yudha lagi."


Melihat wajah Bima yang tampak pucat, Lengkara jelas saja bingung sendiri apa yang terjadi. Terlebih lagi, jika sudah berhubungan dengan Yudha. Pasca kecelakaan pesawat yang sempat membuat Bima panik kala itu, Bima memang setakut itu andai Yudha kenapa-kenapa.


Tahu akan kepanikan sang suami, Lengkara memilih diam dan menunggu Bima bercerita. Cukup lama Lengkara memberikan waktu agar Bima tetap fokus mendengar penjelasan Yudha, hingga kala panggilan itu berakhir Bima mendadak meminta Lengkara bersiap merapikan pakaian dan harus pulang besok pagi.


"Apa? Kok mendadak gini? Ada masalah apa, Mas?" tanya Lengkara bingung, kenapa bisa Bima sepanik itu dan mendadak dalam mengambil keputusan.


"Yudha mendapat musibah, Sayang, kita harus pulang secepatnya."


"Musibah? Musibah gimana?"


Lengkara mengikuti langkah Bima yang terlihat panik di sana. Agaknya sebelum pria itu menikah akan terus menjadi orang ketiga dalam setiap momen yang membuat Lengkara kesal sendiri.


"Yudha kecelakaan, dia menabrak seseorang dan kini dia ketakutan di rumah sakit, aku harus menemuinya, Kara."


"Ya, Tuhan? Mas Yudha ...."


Sempat mencaci maki Yudha, seketika dia terdiam dan mengikuti perintah Bima tanpa protes. Sekalipun yang pulang hanya mereka bertiga tidak apa, Lengkara tidak bermaksud mengganggu liburan keluarganya.


"Tenang, Mas, kita pulang dan mas Yudha tidak akan kenapa-kenapa."


"Jika sampai terjadi apa-apa bagaimana, Kara? Aku takut dia dipenjara," gumam Bima dengan pikiran yang sudah kemana-mana, sungguh dia memang sangat takut kehilangan Yudha.


"Tidak akan, percayalah mas Yudha selalu punya cara menyelesaikan masalahnya, serumit apapun."

__ADS_1


Lengkara mengenal Yudha melebihi mengenal dirinya sendiri. Meski mereka tidak bersama pada akhirnya, tapi Kara percaya Yudha sama sekali tidak berubah. Tanpa bermaksud membuat Bima cemburu, Kara menjelaskan dengan perlahan agar Bima tidak panik berlebihan.


"Hm, kamu benar."


.


.


Niat hati pulang berempat bersama kedua putranya, tapi setelah mendengar penjelasan Bima semua yang tengah menikmati liburan di Bali turut pulang juga.


Meski sama sekali tidak mengerti apa mungkin mampu turut menuntaskan masalah atau tidak, yang jelas mereka tidak tega andai bersenang-senang di atas penderitaan Yudha, pria yang sudah berjasa di keluarga Megantara.


Setelah tiba di Jakarta, Bima segera menemui Yudha seorang diri ditemani Papa Atma demi meminta maaf pada pihak keluarga korban. Ketika mereka bertemu, Yudha tampak pucat dan tubuhnya bergetar dalam pelukan Bima.


"It's okay, kau tidak salah dan semua ini murni kecelakaan, Yudha."


Yudha mengangguk, dia tidak mampu berucap dan merasa amat tenang sejak Bima datang. Beberapa saat mereka saling menguatkan, Bima melepaskan pelukannya.


"Ngawur, kenapa justru kau yang minta digalikan liang lahat?"


"Kau tidak lihat wajahku? Kakaknya galak sekali, lebih brutal dari Sean kau tahu!" desis Yudha seraya menunjukkan lebam di wajahnya.


"Hm, dari lebamnya pasti sangat sakit ... kakaknya preman?"


"Shuut!! Jaga bicaramu, nanti kau juga dipukuli sepertiku," bisik Yudha kemudian, seketika Bima menggeleng pelan.


Entah bodoh atau bagaimana, padahal yang Bima ketahui kemampuan bela diri Yudha sudah jauh berkembang, aneh saja kenapa dia tidak menghindar ketika dihajar hingga babak belur begitu.


"Sekarang rencanamu bagaimana? Bukankah beberapa hari lagi kau harus ke Shanghai?"

__ADS_1


"Entahlah, aku akan pastikan sampai besok ... sepertinya hal itu tidak dapat diurungkan, kecuali jika aku mati, benar, 'kan?" tanya Yudha yang kemudian diangguki oleh Bima. Hampir saja dia menawarkan diri untuk mewakili Yudha, tapi sepertinya pria itu kini paling anti jika harus melalaikan kewajibannya.


"Baguslah, semoga ada jalan keluarnya ... dan aku harap, Ka-lila bisa pulih agar tidak memberatkan dirimu, Yud," ujar Bima pelan setelah susah payah memerhatikan liontin yang sejak tadi Yudha genggam.


"Hm? Kau tahu namanya?"


"Itu, selalu kau genggam, kenapa tidak kau kembalikan? Apa mamanya tidak mencari benda itu?" tanya Bima kemudian, sementara Yudha terlihat mengatupkan bibirnya seketika.


"Rencananya begitu, tapi sepertinya lain kali saja," jelas Yudha kemudian mengembalikan benda itu ke saku kemejanya.


"Iya, kau yang mengerti kapan waktunya ... kau sudah makan? Wajahmu pucat, apa sakit?"


Yudha menggeleng, jawaban pria itu sontak menjadi alasan Bima menariknya untuk sekadar mengisi perut. Sama sekali tidak Bima duga, jika sejak kemarin perut pria itu masih dalam keadaan kosong.


Seketika, dia merasa berdosa lantaran kemarin-kemarin terlalu bersenang-senang, sementara Yudha makan saja tidak bisa. Hari ini, dia akan menemani Yudha agar tidak terlalu hilang arah. Tidak lupa, Bima mengajaknya bercanda agar sejenak bisa lupa dengan masalahnya.


"Oh iya, aku sudah persiapkan kado pernikahanmu bersama Soraya, kau pasti suka."


"Apa?" tanya Yudha sama sekali tidak berminat, entah kenapa dia malas saja.


"Kon_dom bentuk naga," jawab Bima tergelak dan membuat wajah Yudha berubah masam seketika.


"Dasar gila, pakai sendiri!! Kalau perlu bentuk dinosaurus biar nyahok si Kara."


"Hahaha sialan, memang ada?"


"Entah!! Pertanyaanmu berbobot sekali, Bimantara!!"


.

__ADS_1


.


🥀 Edisi Bayar hutang 🥀


__ADS_2