
"Sini kau, katamu dia tidak apa-apa ... kenapa bisa pikun begitu?"
Sadar jika hal ini tak masuk akal, Zeshan kena batunya. Padahal, dia hanya melakukan tugas sebagai dokter, itu saja. Lagi pula mana mungkin dia mengada-ada dan faktanya memang Lengkara tidak separah itu.
Sengaja Bima mengajak Zeshan menepi, meninggalkan Lengkara yang terus menatap ke arahnya seakan memang tengah berusaha mengenali. Sungguh, tatapan itu membuat Bima takut saja.
"Pikun? Amnesia mungkin."
"Apapun itu, intinya dia lupa ... lupa aku, lupa dirimu dan lupa dirinya sendiri. Apa masuk akal? Pendarahan di bawah, tapi kepala yang bermasalah bagaimana ceritanya?" desis Bima menekan Zeshan dengan berbagai pertanyaan hingga membuatnya merasa gagal menjadi dokter.
"Entahlah, tapi satu hal yang perlu kau tahu ... di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin kecuali kau gigit kepalamu sendiri."
Titik terakhir perjuangan Zeshan, dia menyerah dan menepuk pundak Bima sebelum menjauh. Entah karena dia lelah atau tidak punya jawaban lagi, yang jelas kini dia sudah kembali menghampiri Lengkara layaknya dokter pada pasien.
Bima menatapnya dari kejauhan, dari cara bicara Lengkara memang meyakinkan jika tidak mengenali dunianya. Namun, Bima masih berpikir keras apa mungkin hal semacam itu bisa terjadi.
"Jadi gadis ini bernama Lengkara? Ah bagaimana ini, aku rasa dia terjebak di duniaku ...."
Hati Bima terkoyak medengar pernyataan semacam itu. Hati kecilnya mengatakan mustahil, tapi di sisi lain dia justru memilih percaya dan melangkah sebegitu beratnya.
"Kau siapa sebenarnya?" tanya Bima mengeraskan rahang seraya mengikis jarak hingga keduanya begitu dekat.
"Uh, aku menyukai pria sepertimu," ucapnya lancang sekali mengedipkan mata dan memang terlihat bukan Lengkara sama sekali, "Kenalkan, aku Xandria, datang dari masa depan untuk menyam_ arrrgghh!! Sakit, Mas!!"
"Jangan bercanda, Ra, sama sekali tidak lucu kamu tahu?" Bima yang sejak tadi sudah hampir gila, tapi Lengkara yang makin menjadi membuatnya kesal juga.
"Apa terlalu kentara? Sial, kemampuanku menurun rupanya," ucapnya seraya mengusap pelan kening yang baru saja menjadi obek jitakan Bima.
"Dasar sarap, buang-buang waktuku saja." Setelah Bima, kini Zeshan yang meluapkan kekesalannya.
Bukannya marah, Lengkara justru tertawa kecil menatap Zeshan yang kesal padanya. Kaku sekali hidupnya, padahal sudah bertahun-tahun bersama, tapi sama seolah tidak mengenal satu sama lain.
"Marah ya?"
__ADS_1
Bima tidak menjawab, jujur saja dia ingin marah sebenarnya. Namun, sudah pasti tidak bisa dan hal itu takkan mungkin dia lakukan. Dia hanya menatap lekat wajah Lengkara yang sejak kemarin menjadi pusat perhatian sang ibu, lingkar hitam di matanya memang menegaskan jika dia cukup lelah.
"Apa yang kamu pikirkan? Hm? Andai benar-benar terjadi bagaimana? Aku begitu khawatir menunggumu terbangun, Ra ... kenapa bisa sejahil ini," tutur Bima lembut sekali, kening keduanya menyatu hingga Lengkara bisa menatap mata Bima dari jarak yang begitu dekat.
"Ingin saja, tadi pagi aku juga menunggumu, sebelum mas menunggu aku bangun, aku sudah lebih dulu menunggu."
"Benarkah? Kamu sudah bangun sejak tadi?"
Lengkara mengangguk, dia tidak sedang berbohong dan memang nyata adanya sebelum ini dia sudah terbangun dan mendapati Bima tertidur di sisinya. Pikiran itu muncul ketika Bima memeluknya erat ketika terbangun, dia suka saja melihat Bima panik, itu saja.
.
.
"Mas ingin menghukummu, tapi karena dia, mas akan berbaik hati kali ini," tutur Bima seraya mengusap pelan perut sang istri.
Tatapan keduanya kini tertuju ke tempat yang sama. Bima hampir kehilangan harta paling berharga miliknya, jelas dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama nantinya.
"Bukan salahmu, tapi aku sendiri tidak merasakan kehadirannya sama sekali." Sungguh, Lengkara tidak menyadari hal itu. Mungkin karena dia juga terlalu sibuk, telat datang bulan bukan sekali dua kali, ditambah lagi jadi dia memang tidak sadar akan hal itu.
"Setelah ini jangan terlalu keras lagi, mas bisa berjuang sendiri tanpa perlu kamu melakukan apapun, kamu itu tulang rusuk, biarkan mas menanggung semuanya dan kamu cukup diam di rumah, paham?"
Sejak beberapa waktu lalu Bima sudah katakan agar Istrinya tidak begitu memaksakan. Namun, hal itu justru Lengkara abaikan dan dia seolah tidak ingin kehilangan momen kala dirinya tengah digilai banyak kalangan.
"Terus barang-barang yang belum aku promosikan bagaimana? Mereka sudah telanjur bayar."
"Akan aku kembalikan, bahkan ganti rugi jika perlu ... sudah waktunya kamu berhenti, istirahatmu benar-benar kacau karena pekerjaan itu, Kara." Jika kemarin-kemarin pendirian Lengkara terlalu kukuh, kali ini Bima tidak ingin mengalah.
Beruntungnya Lengkara patuh tanpa banyak membantah. Dia mengiyakan ucapan Bima bahkan tidak menolak kala Bima memintanya untuk berjanji. Tidak apa, dia kembali harus menepi dari dunia yang dia sukai demi keluarga kecilnya.
"Bibirmu kering sekali," ucap Bima mengusap pelan bibir pucat sang istri yang tampak begitu kering, wajar saja toh memang sakit.
"Oh iya? Aku butuh vitamin sepertinya." Lengkara mengedipkan mata seolah tengah menggoda sang suami hingga pria itu tertawa kecil.
__ADS_1
Jelas sekali maknanya, Terlebih lagi kala Lengkara mengalungkan tangan di leher sang suami. Tidak lain dan tidak bukan tujuan mereka adalah sama, jarak di antara keduanya kian menipis. Namun, belum sempat menyatu, keduanya dikejutkan dengan keharian seseorang di sana.
.
.
"Papa?"
"Teruskan saja, papa tidak lihat sungguh," ucap Papa Mikhail berbalik secepat mungkin. Dia bersiul dan perlahan meninggalkan ruang rawat putrinya.
"Tu-tunggu, Pa!!" Bima panik, entah siapa yang menghubungi Papa Mikhail hingga tiba-tiba sudah berada di rumah sakit.
"Papa!! Ini bunganya." Ternyata mertuanya tidak sendirian, melainkan didampingi Kak Zean yang kini baru tiba dengan seikat bunga mawar putih di tangannya.
Bima sempat panik dengan kehadiran Papa Mikhail. Dia khawatir sang papa akan marah besar, tapi sepertinya tidak. Kemungkinan besar Mikhayla memberikan pengertian padanya agar bisa bersikap bijak, mungkin.
"Ah iya, apa tidak ada bunga lain? Papa tidak suka."
"Tidak ada, Pa, cuma ini ... atau kalau papa mau nanti Zean tukar sama bunga tabur, kiloan belinya jadi ban_"
"Anak kurang ajar, kau kira hendak kemana?"
"Kan cuma bilang, tapi kenapa Papa cuma di pintu? Kau tidak mengizinkan papa masuk, Bim?" tanya Kak Zean seketika membuat Bima meneguk salivanya pahit, hendak beralasan apa dia saat ini.
"Bu-bukan begitu, Kak, ini salah paham."
"Lalu apa? Wajahmu sampai merah begitu? Papa tampar Bima ya jangan-jangan?" tuduh Zean asal bicara hingga membuat Papa Mikhail naik darah, sontak dia merampas ikatan bunga segar itu untuk putrinya.
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1