
"Jika membahas masalah itu, aku juga berhasil menata diri dan berdamai dengan luka yang menyeret kita bertiga ... aku, kamu dan mas Yudha tidak lebih dari sekadar pelajaran, Mas."
Di antara banyaknya ucapan Lengkara, kalimat itu yang paling membekas dalam ingatan Bima. Hingga Lengkara berlalu pergi, pria itu masih belum bisa melupakannya. Bima tidak salah dengar, dengan jelas Lengkara mengatakan bahwa mereka bertiga tidak lebih dari sebuah luka yang dia jadikan pelajaran.
Agaknya, di antara mereka bertiga yang justru terjebak dalam luka adalah Bima. Dia yang menjadi pihak ketiga, tapi justru dirinya yang paling susah lupa. Awal perceraian dia memang baik-baik saja, tapi seiring dengan berjalannya waktu Bima merasa ada sesuatu yang hilang dari dalam dirinya.
Semakin lama, Bima semakin tidak beres dan mulai kehilangan jati diri. Atmadjaya mengira perubahan Bima diakibatkan penderitaan Yudha. Oleh karena itu selama Yudha menjalani pengobatan, perusahaan kembali dalam kepemimpinan papanya.
Namun, setelah Yudha membaik Bima justru semakin tidak dapat diandalkan hingga membuat Atmadjaya marah besar dan mempercayakan perusahaan ke tangan Yudha. Mudah saja, Yudha yang memang terbiasa dan cukup lama berkecimpung di lingkungan orang-orang hebat jelas saja mampu menggantikan saudaranya.
Terlebih lagi, menjadi seorang pemimpin perusahaan dan bisa beristirahat dengan tenang tanpa khawatir ditekan atasan adalah harapan Yudha sejak lama. Bima iri dengan kepercayaan sang papa yang berpindah? Terlebih lagi, saat ini papanya sudah berbeda. Jelas saja tidak, dia bersyukur karena Yudha dipertemukan dengan papanya dengan versi yang lebih baik.
Sayangnya, setelah dua insan itu berdamai dengan apa yang terjadi, nestapa justru mengekang dirinya. Bima yang tidak pernah mengenal wanita jelas terpikat pesona Lengkara, terlebih lagi wanita itu pernah menjadi istri, bukan hanya dekat biasa.
Walau memang singkat, bahkan tidak sampai satu bulan. Namun, untuk melupakan wanita yang pernah berbagi selimut dan tempat tidur bukan hal mudah bagi dirinya, terlebih lagi Lengkara adalah wanita pertama dalam hidup Bima.
"Sekadar pelajaran? Apa tidak bisa lebih dari itu, Ra?"
Bima menatap sendu tempat tidur yang kini tak lagi berpenghuni. Pria itu mengepalkan dan bingung sendiri hendak kemana meluapkan amarahnya, marah karena apa dia juga tidak mengerti.
Akan tetapi, yang jelas perasaan semacam ini sudah bergemuruh dalam diri Bima sejak tadi malam. Tepatnya di pesta ulang tahun Caren, adik sahabat lamanya. Pertama kali melihat kedatangan Lengkara, mata Bima sudah terpaku pada wanita cantik bergaun hitam itu.
Dia sempat tertegun, tersenyum dan bernapas lega setelah mengetahui bahwa mantan istrinya baik-baik saja seperti kata Zean. Awalnya Bima ingin menyapa, karena sejak lama dia mencari dan meraba keberadaan Lengkara.
Namun, ketika melihat Lengkara justru menghampiri seorang pria di sana mendadak Bima kecewa. Dia sangat marah, terlebih lagi kala Lengkara tidak menolak sentuhan pria itu. Seketika firasatnya semakin buruk dan menganggap bahwa Lengkara yang baik-baik saja adalah kebohongan Zean agar dia berhenti bertanya.
__ADS_1
Pagi ini Lengkara memberikan penegasan, dia memang baik-baik saja. Pria itu memejamkan mata dan tengah berpikir langkah apa yang harus dia ambil. Lengkara sudah telanjur pergi, dan dia tidak sempat bertanya dimana tempat tinggalnya.
"Bukankah aku masih punya Kenzo untuk bertanya? Lengkara pasti teman adiknya ... mana mungkin tidak tahu."
Sejak menjadi mantan suami, kecerdasan dan otak Bima agaknya sedikit menurun. Seharusnya sejak tadi jalan keluar semacam ini sudah terpikir sejak tadi, kemana otaknya.
"Ck ... kenapa harus menghubungiku di saat seperti ini."
Baru saja hendak menghubungi Kenzo, panggilan suara dari Yudha masuk dan terpaksa Bima mengurungkan niat. Entah dalam rangka apa Yudha menghubunginya kali ini.
"Kenapa?"
"Kau dimana? Kenzo bilang kau pergi tanpa pamit dan belum pulang sampai sekarang."
"Hotel? Kau pasti mabuk lagi, jangan macam-macam kau, Bima ... aku tidak bersedia mendonorkan hatiku andai kau terkena sirosis hati."
Lihatlah caranya bicara, apa tidak ada kalimat yang lebih manis sedikit untuk memberikan perhatian pada seorang adik? Entahlah, kenapa bisa Bima memiliki saudara semacam ini.
"Tidak, aku tidak nyaman di sana."
"Aku tidak bisa percaya padamu, panggilan video cepat ...."
"Alay!! Aku bukan kekasihmu gila," kesal Bima meninggi, tapi tetap saja panggilan video dari Yudha itu dia terima demi membuatnya percaya.
"Perlihatkan kamarmu, bukan wajahmu."
__ADS_1
Bima menghela napas panjang, dia sudah lelah dan mendapati perlakuan Yudha yang begini jelas saja tenaganya seolah habis seketika. Kendati demikian, Bima tetap memperlihatkan keseluruhan sisi kamar tanpa tersisa.
Hingga, Yudha memintanya berhenti dan menetap di tempat tidur. Wajahnya berubah serius dan mengira melontarkan pertanyaan yang luar biasa menyebalkan di telinga Bima. "Benar begitu, Bima? Apa sekarang kau berpindah profesi menjadi seorang cassanova?"
"Kau mau mati, Yudha?"
"Akui saja tidak masalah, wanita mana yang berhasil menggetarkan hatimu hingga rela membayar untuk ditemani tidur?"
"Siallan, aku tidak membawa wanita bayaran ke kamarku!! Jaga bicaramu," sentak Bima menanggapi Yudha seserius itu, dia marah dan ingin merobek mulut Yudha jika bisa.
"Kenapa kau begitu marah? Aku hanya bertanya ... jika memang tidak, bisa kau jelaskan yang di lehermu itu apa? Dan kenapa ikat pinggang dan kemejamu berceceran di lantai? Bukankah seorang Bima tidak pernah melakukan hal semacam itu? Sudahlah, aku paham bagaimana permainan seorang pria, kau tidur bersama wanita, 'kan?"
"Iya!! Aku memang tidur bersama wanita dan tadi malam kami berdua panas sekali sampai terbakar. Puas kau?!"
"Ah hanya terbakar, seharusnya jadi abu, Bim."
"Kau saja yang jadi abu!!" umpat Bima sebelum kemudian mengakhiri panggipan itu secara sepihak. Hanya karena Yudha, dia mendadak lupa apa yang sejak tadi ingin dia lakukan dan berakhir gusar sendiri.
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1