
Sesuai dengan keputusan Bima, masalah ini tidak menjadi tanggung jawab Yudha seorang. Bukan karena dia tidak percaya Yudha, tapi Bima tahu bagaimana sulit saudaranya itu. Akan tidak lucu jika Yudha harus menanggung semua beban dari masalah yang terjadi.
Meski belum terlalu jelas, Bima sudah mulai menarik kesimpulan dari apa yang terjadi. Sebenarnya masalah ini tidak berkaitan secara langsung dengannya, melainkan Papa Atma. Bisa dipastikan akan sangat menyakitkan, dan seharusnya Bima bahagia.
Namun, dia tidak punya waktu untuk menjadikan hal itu sebagai sebuah alat menertawakan papanya andai nanti dugaan Bima benar. Bermodalkan beberapa informasi yang dia dapatkan dari Yudha, dia mencoba mencari tahu siapa pria bernama Panji itu.
Tidak begitu sulit bagi Bima mencari tahu tentang pria itu. Hanya butuh waktu beberapa hari, dia mulai menggali dan mengetahui beberapa fakta tentang pria yang ternyata pernah menjadi seorang narapidana itu.
Sudah cukup lama, masa lalu Panji tidak tertata dan sama sekali tidak dapat dibanggakan. Selama ini Bima mengetahui sosok Panji dari papanya, itu juga karena Bima bertanya tentang siapa yang ada di foto masa lalu sang papa.
Perihal kehidupan pribadi dan apa yang dia alami sama sekali Bima tidak tahu, entah karena memang ditutup-tutupi atau hanya sang papa tidak begitu peduli. Terserah, hal itu bukan sesuatu yang utama.
Terpenting sekarang, Bima sudah menggenggam identitas pria yang sangat dia yakini sebagai ayah kandung dari adiknya. Sedikit lancang dia berpikir seperti itu, tapi memang secara kasat mata dan apa yang disampaikan Yudha sudah jelas sekali bukan kebetulan semata.
Tidak hanya Bima, tapi Yudha juga turut bertindak dengan mengawasi Gilsa. Sesuai tebakan Bima, wanita itu memang perlu diawasi. Usai kedatangan Panji waktu itu, menurut penuturan Yudha, Gilsa lebih kerap berdiam diri di rumah dan turut membatasi ruang gerak putranya.
Tidak hanya Raja, tapi Arjuna juga kena imbasnya. Kedua putra Gilsa sama-sama dikekang dan tidak bebas seperti dahulu. Bahkan, sekalipun keluar harus bersama Papa Atma atau didampingi pak Chan.
Seperti yang Bima katakan, selama mengawasinya Yudha harus bersikap biasa saja. Mulut pedas dan kebiasaan asal bicara membuat Bima khawatir rencana mereka justru berakhir gagal total.
Kerja sama antara keduanya terjalin sempurna, jarak tidak membatasi Bima dan Yudha untuk berdiskusi tentang masalah mereka. Hingga, di titik akhir penelurusan mereka, Bima meminta Yudha membawa kedua adiknya demi memastikan kecurigaan yang membelenggu hatinya.
__ADS_1
Semua berjalan baik-baik saja, Gilsa sama sekali tidak curiga. Walau beberapa waktu lalu sempat ketar-ketir, kini Gilsa merasa tidak ada masalah. Panji tidak lagi menghubungi setelah dia ancam dan mengikuti kemauan Gilsa agar dia tidak datang lagi ke rumah utama mereka.
.
.
Hingga, hari ini dia ketenangan Gilsa sedikit terusik kala kedua putranya tiba-tiba pamit untuk ke Jakarta. Dia pikir bersama sang suami, tapi ternyata bersama Yudha. Jelas saja tidak dia izinkan, tapi sayangnya sikap Raja dan Arjuna begitu pembangkang usai dia kekang.
"Ke Jakarta doang, lagi pula sama kak Yudha apa salahnya?" protes Raja kala sang mama memintanya untuk kembali ke kamar.
"Tetap tidak boleh, kecuali sama Papa!!" tegas Gilsa berkacak pinggang dan berusaha agar terlihat menakutkan di mata putranya.
Dia merasa mamanya aneh, sejak minggu lalu dia dibuat bingung kenapa begitu dikekang bahkan bermain saja tidak boleh. Padahal, dia sudah begitu dewasa dan sudah sepantasnya merasakan kebebasan dalam hidup.
"Rindu bisa telepon, kenapa harus didatangi segala?"
"Aku mau lihat rumahnya, mau ketemu kakak ipar dan keluarga besarnya kalau diizinkan," jawab Raja santai, sesuai petunjuk Yudha sewaktu di kamar dan berhasil membuat mamanya menghela napas pelan kasar.
"Tetap tidak boleh ... kembali ke kamar kalian, Arjuna juga!!" sentak Gilsa meninggi dan berhasil membuat telinga Yudha terasa sedikit sakit.
"Tidak mau, aku mau ketemu kak Bima, Ma."
__ADS_1
Dua-duanya menolak, jelas saja mereka berani bertingkah lantaran Yudha yang menjadi pelindungnya. Ditambah lagi, Papa Atma juga mengizinkan mereka dan berhasil membuat mereka bebas meski tenggorokan Gilsa terasa sakit.
"Mas!! Kenapa kamu izinkan mereka pergi?" Setelah kepergian Yudha dan kedua putranya, Gilsa beralih pada Papa Atma yang memang tidak melarang sedikit saja.
"Apa salahnya? Bukankah Yudha adalah kakak mereka, Gilsa? Lalu kenapa kau setakut itu mereka pergi bertiga?" tanya Papa Atma sembari fokus dengan koran yang dia baca, terlihat santai dan tidak merasa ada malasah sedikitpun.
"Mas, kita tidak tahu tujuan Yudha membawa mereka berdua untuk ap_"
"Maksudmu? Apa putraku punya tampang penjahat? Yudha tidak sepertimu, sekalipun dia tahu Raja adalah adik tiri, tapi dia tidak sekeji itu."
Papa Atma memilih pergi dan berlalu dengan membawa surat kabar di tangannya. Dia memilih tempat lain yang sekiranya lebih tenang. Walau, dia juga kurang tahu apa alasan utama Yudha mengajak adiknya ke Jakarta, akan tetapi sebagai papa dia percaya saja Yudha mampu menjaga kedua adiknya.
Lain halnya dengan Papa Atma, saat ini Gilsa justru panas dingin dan sibuk berperang dengan pikirannya. Firasatnya terlampau buruk, dia tidak yakin jika Yudha hanya membawa Raja dan Arjuna untuk menghabiskan waktu, terlebih lagi ini bukan akhir pekan dan seharusnya Yudha masuk kerja.
"Bagaimana aku bisa tenang jika Raja dan Arjuna ada di bawah pengawasan Yudha. Aku harus kembali menghubungi Panji lagi ... iya, hanya dia yang bisa menghentikan Yudha."
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1