Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 125 - Tetap Papa


__ADS_3

Matahari tampak hangat, pagi hari ini cuaca Semarang cukup bersahabat. Hiruk pikuk ibu kota perlahan kembali hidup, suara klakson dan lalu lalang kendaraan masih terngiang di telinga Bima.


Mendapat kabar dari Yudha tepat tengah malam, Bima sebenarnya ingin berangkat detik itu juga. Namun, Yudha melarang dan memintanya datang keesokan hari saja karena memang tidak memungkinkan.


Ditemani Lengkara, Bima melangkah cepat melewati koridor rumah sakit. Faktanya, mau sesakit apapun hatinya, seorang papa tetap papa dan Bima tidak dapat menolak fakta itu. Dia panik, kacau bahkan tadi malam tidak bisa tidur lantaran khawatir sesuatu terjadi.


Satu hal yang Bima takutkan, jujur dia belum siap jika harus kehilangan papanya. Bahkan, ketika masuk ke ruangan rawat inap sang papa air mata Bima menetes meski papanya tengah disuapi Yudha dan tampak baik-baik.


"Pa ...."


Jantung Bima masih berdegub kencang. Yudha tidak mengatakan bagaimana kondisi terakhir sang papa, entah sengaja atau bagaimana yang jelas Bima merasa terjebak.


Hanya saja, senyum teduh papanya seketika membuat Bima memalingkan muka dan menyeka air mata. Mana mau dia terlihat jelas tengah menangis, kembali lagi gengsi Bima luar biasa dan hal itu tertangkap jelas oleh Lengkara.


"Kau datang? Mendekatlah, Bima ... izinkan papa memelukmu," ucap Papa Atma menatap lekat putranya.


Sempat berpikir untuk menyerah, dunianya bahkan gelap sekejap tadi malam, hingga dia kembali terbangun lantaran tangisan Bima dan Yudha pertama kali turun ke dunia terdengar menyayat kalbunya.


Tangan Papa Atma tampak bergetar, cukup sulit memang untuk membuat pria berhati batu seperti Bima luluh hanya dengan air mata. Bahkan, sang putra seakan enggan mendekat sebelum Lengkara memintanya untuk melangkah.


Sudah tentu alasannya malu, terlebih lagi dia melakukan hal semacam itu di hadapan Yudha yang sejak tadi menatapnya dengan senyum tak terbaca. Namun, demi istri Bima menurut dan pertama kali setelah bertahun-tahun dia merasakan pelukan seorang papa.


Sudah sangat lama, bahkan dia sudah lupa kapan terakhir Papa Atma memeluknya seerat ini. Mungkin ketika dia duduk di bangku SMP, tepatnya saat Bima memenangkan olimpiade matematika tingkat nasional.


Berbeda dengan dahulu, bukan pujian atas otak cerdasnya yang Bima terima. Melainkan permintaan maaf dari Papa Atma, puncak tertinggi penyesalan seorang ayah, dia bahkan merendah serendah-rendahnya demi menggapai maaf dari Bima.


"Hentikan, Pa ... papa yang kukenal tidak begini," ucap Bima menghentikan papanya, sejak tadi dia merasa seolah tidak sedang bicara dengan orang yang berbeda.

__ADS_1


"Maafkan papa, Bima."


Kembali ucapan itu dia ulangi, Papa Atma takkan berhenti sebelum Bima menerima maafnya secara langsung. Sementara Bima yang memang dasarnya tidak peka jelas saja hanya diam meski hatinya sudah memaafkan, Yudha sampai berusaha berbicara dengan bahasa isyarat pada pria kaku itu.


.


.


"Apa?" tanya Bima tanpa suara, tapi gerakan bibirnya cukup jelas dan terbaca oleh Yudha.


"Katakan jika kau memaafkan Papa, Bima." Yudha tetap berusaha meski tahu kemungkinan berhasil sangatlah kecil.


"Hah?" Sesuai dugaan, jangankan satu kalimat, satu kata saja dia tidak mengerti.


"Ya,Tuhan dia benar-benar tidak mengerti? Apa dia betah papa begitu sampai tahun depan?"


Bima memang begitu berbeda dengannya. Jika hanya sebatas menunggu Bima, maka percuma saja. Terpaksa Yudha ambil tindakan dan kini mendekat, dia yang akan mencoba bicara agar pelukan itu berakhir segera.


"Hm, benar, Pa. Apa yang papa perbuat tidak akan pernah aku lupakan dan_ maksudnya perlahan akan aku lupakan." Bima memang sejujur itu, apa yang dia rasakan dia ungkapkan dan tidak memiliki keahlian untuk mengambil hati sebenarnya.


Yudha yang mendengar pengakuan saudaranya hanya mengerjap pelan. Walau keadaan sang papa sempat sekarat semalam, sama sekali Bima tidak memiliki niat untuk menyenangkan papanya walau sedikit saja.


"Jika papa benar-benar ingin meminta maaf, ibu adalah orangnya, bukan aku, Pa," tambah Bima kemudian, dia memang tidak semanis Yudha, bukan bakatnya menghibur seseorang.


"Iya, papa mengerti ... tapi, sebelum kau pergi lagi boleh papa bertanya, Bima?"


"Soal apa, Pa?"

__ADS_1


"Apa kau masih membenci papa?" tanya Papa Atma kemudian, mata sendunya berharap sekali Bima takkan membencinya lagi.


"Tidak, Pa. Aku bersyukur Papa menganggapku ada ... maaf jika caraku membuka mata papa terlalu kasar, tapi aku sudah pastikan nama baik papa tidak akan tercemar." Meski gengsi Bima tinggi, tapi untuk minta maaf jika dia merasa bersalah jelas saja tidak akan keberatan.


"Tidak, Bima. Papa yang seharusnya berterima kasih, benar katamu. Papa terlalu bodoh dan terlalu percaya dengan kelembutannya," sesal Papa Atma kemudian. Meski terlambat, tapi setidaknya bukan sampai akhir dan hubungan bersama sang putra masih bisa diselamatkan.


Lengkara menyaksikan dengan jelas bagaimana Bima kembali mendapatkan sosok papa yang dia rindukan. Sosok papa yang kerap Bima ucapkan kala mimpi buruk, melihat pemandangan itu, hatinya sungguh menghangat.


"Terima kasih kalian sudah datang, terutama Lengkara ... kau pasti yang membujuknya bukan?" tanya Papa Atma lembut pada wanita cantik yang berdiri tidak jauh dari Bima, sudah jelas menantunya berperan penting dalam hal ini.


"Tidak, Pa ... Mas Bima benar-benar khawatir, bahkan sejak awal Mas Yudha menelpon tadi malam dia sudah panik."


Sama seperti Yudha, Lengkara seolah sengaja membuat Papa Atma terharu dengan hal manis yang Bima lakukan tanpa sadarnya. Sontak Yudha menutup mulut, khawatir jika dia yang tersenyum tertangkap basah oleh Bima dan kembali menjadi masalah.


"Papa bahagia mendengarnya, tapi dimana Raja? Apa tidak ikut?" Mata Bima membola mendengar pertanyaan Papa Atma.


"Hah? Raja? Raja diman_ astaga, ketinggalan." Bima menatap sang istri yang kini mengerutkan dahi, dia benar-benar lupa soal Raja.


"Ketinggalan dimana? Bandara? Biar aku yang jemput."


"Bukan."


"Lalu?"


"Di Jakarta," jawab Bima seketika membuat Yudha tersedak ludah.


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2