Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
Bonus Chapter #5


__ADS_3

Istilah cinta datang terlambat agaknya bukan isapan jempol belaka. Terbukti dengan ketulusan cinta Bu Runi yang akhirnya terbalas jua walau terlambat. Sayang, cinta Papa Atma terlambat begitu lama bahkan tiga puluh tahun lamanya.


Mereka kembali dipersatukan dengan versi terbaik menurut takdir. Sempat putus asa dengan teguhnya pendirian Seruni, tanpa Atma duga jika dia akan berubah pikiran hanya karena bualan Yudha dan juga Bima.


Mengatasnamakan penyakit jantung yang Papa Atma derita, Yudha dan Bima sepakat mengelabui sang ibu dan mengatakan jika alasan Papa Atma masuk rumah sakit ialah karena tidak bisa melupakan masa lalu.


Bu Seruni yang terlahir dengan kelembutan hatinya percaya begitu saja akan ucapan Yudha. Bagaimana tidak, melihat mantan suaminya terbaring di rumah sakit selama satu bulan terakhir membuatnya merasa iba dan perasaan itu kembali menggelora dalam diri Bu Seruni.


Hingga, permintaan Papa Atma untuk memperbaiki kisah usang itu dia terima pada akhirnya. Bukan main bahagianya Papa Atma, tubuh lemah pria itu benar-benar membaik setelah mendapatkan kesempatan kedua dari wanita yang telah dia sia-siakan sewaktu muda.


"Izinkan aku memperbaikinya, Seruni ... aku ingin sisa hidupku yang mungkin tidak akan lama ini habis untuk beribadah bersama wanita yang ternyata aku cintai sejak lama."


Begitulah permintaan yang Papa Atma lontarkan pada Bu Seruni kala menjalani perawatan di rumah sakit. Setelah mendapat banyak sekali penolakan, Bu Seruni luluh juga dan bersedia memulai kembali ibadah paling panjang bersama pria yang sejak dahulu dia ingini, Atmadjaya Aksa.


Pria gagah yang kini kembali bugar setelah kembali menjadi suaminya. Kisah usang yang dahulu tersemat dalam kenangan, kini kembali mereka ulang. Dahulu, pantai adalah salah-satu tempat yang ingin Bu Seruni datangi bersama pria yang sangat dia cintai.


Sayang, impian itu harus pupus lantaran kehadiran orang ketiga dalam pernikahan mereka. Tanpa dia duga, hal itu Tuhan kabulkan setelah putranya dewasa. Kebahagiaan keduanya seolah berlipat ganda, terlebih lagi begitu melihat kedua cucunya.


"Andai dulu aku tidak bodoh, mungkin Bima dan Yudha bisa sebahagia Dewangga dan Dewantara," tutur Papa Atma menghela napas panjang, hingga akhir penyesalan itu akan tetap mengalir dalam darahnya.


"Jangan disesali, semua sudah terjadi dan sekalipun disesali tidak akan merubah apapun, Mas."


"Iya aku tahu, tapi aku tidak bisa berpura-pura untuk tidak menyesal, Runi."


Mata Papa Atma seketika membasah. Dia terus saja merasa bersalah, terlebih lagi ketika dia dipertemukan dengan Papa Mikhail yang mampu memberikan kasih sayang penuh pada kelima anaknya sejak kecil hingga sudah dewasa.


"Tidak apa-apa, yang terpenting sekarang Yudha dan Bima sudah bahagia dan tumbuh sebagai anak yang tetap membanggakan walau dibesarkan dengan ketidaksempurnaan kita berdua."

__ADS_1


Satu hal yang dimiliki Bu Seruni dan tidak Papa Atma temukan pada diri wanita lain ialah ketulusan dan tutur lembutnya dalam bicara. Mata Bu Seruni setulus itu dalam menatapnya, padahal luka yang Papa Atma torehkan luar biasa dalamnya.


"Semoga ... oh iya, apa Yudha sudah menelpon? Sudah sore, apa mungkin masih di jalan?" tanya Papa Atma seketika mengingat tentang Yudha yang saat ini belum diketahui dimana dia berada.


Satu-satunya yang tidak ikut ialah Yudha, pria itu mengatakan ada urusan penting dan tidak dapat dia tunda. Anehnya, sudah sore begini sang putra belum juga mengabari. Padahal, jika dihitung-hitung, harusnya Yudha sudah tiba di Jakarta saat ini.


"Kita tunggu saja, dia juga kadang lupa karena terlalu lelah."


"Putraku yang satu itu kerja terus, apa otaknya tidak penat?" Papa Atma memang sedikit bingung dengan kegigihan Yudha, statusnya sebagai pemimpin perusahaan tidak membuat jam kerja Yudha berkurang, yang ada justru semakin bertambah.


"Yudha putraku, Mas, aku yang melahirkannya."


"Heh? Sejak kapan aturannya begitu? Jelas-jelas dia begitu karena putraku," balas Papa Atma tak mau kalah, sebuah interaksi yang teramat manis dan sempat Bima abadikan di bawah kemilau senja pulau dewata.


"Putraku, Seruni."


"Aih, Papa dan Ibu hanya punya satu anak atau bagaimana? Kenapa hanya Yudha yang diperebutkan?" Sejak tadi dia mendengar, lama-lama kesal juga hingga merasa bak anak terbuang.


"Astaga anak ini, sudah sana!! Ganggu saja," ucap Papa Atma yang membuat Bima mengerjap pelan. Dia pikir akan dibujuk, tahunya makin merasa terbuang saja.


.


.


Lain halnya dengan Bima yang baru merasa bak anak terbuang, di sisi lain Zean sedang merasa bak anak terkutuk. Hanya karena bercanda akan mengadu pada sang mama, Zean masih berlari terbirit-birit demi menghindari kejaran papanya.


"Kembali kau!!"

__ADS_1


"Bercanda, Pa!! Jangan marah, aku tidak akan bilang mama kalau papa mau lihat bule bugill," teriak Zean sekuat-kuatnya hingga membuat Papa Mikhail benar-benar meradang.


Sama-sama lupa usia, tingkah keduanya bahkan disaksikan banyak pasang mata, termasuklah Mama Zia. Beruntung saja sudah hidup bertahun-tahun, dia mengenal sang suami melebihi siapapun, jadi dia santai saja.


"Mama kok santai papa lihat bule bugill?" tanya Syila penasaran, sejak tadi dia terbahak menyaksikan sirkus dadakan itu.


"Mama santai, lagian bule mana yang mau sama papamu ... kalau kamu sendiri gimana, Syila? Itu Zean yang mulai, pasti dia juga loh."


Seketika mereka juga tergelak, tak terkecuali menantu Mama Zia yang paling kalem, Zalina. Kalau Mikhayla jangan ditanya, jelas saja paling heboh bahkan membuat Oma Kanaya mencubitnya.


"Sakit, Oma."


"Diam makanya, Oma mau lihat matahari tenggelam di sana, Opamu sangat suka."


"Benar, kita lupa bagian favorit Oma sebentar lagi dimulai ... matahari tenggelam yang perlahan berganti bulan dan semesta menyambut dewi malam, seketika aku ingat Opa huhu mau nangis," ucap Lengkara yang tiba-tiba mencebik dan meneteskan air mata hingga membuat suasana berubah seketika.


"Lengkara mulai deh, aku kan sedih juga ... Evanku mana ya, mau peluk!" Sama iyanya, dia yang mengejek Lengkara nyatanya lebih parah dan menangis persis balita kehilangan ibunya.


"Dasar stres, Via mending ganti mama saja deh," tutur Lengkara pada putri Mikhayla yang mampu bersikap jauh lebih dewasa dibandingkan mamanya.


"Jangan dong, Tante, walau begitu tetap mamaku dan aku sayang Mama Khayla selautan, masa mau ganti."


.


.


🌹 Masih Mau? 🌹

__ADS_1


__ADS_2