
"Karena hanya ini kenangan yang kupunya tentang kamu, Ra, apalagi."
Begitu jawaban Bima, terdengar sederhana, tapi Lengkara bisa menafsirkan ucapan pria itu. Dia tidak bodoh, dan tidak akan berpura-pura bodoh, Lengkara begitu memahami watak pria sebenarnya. Terkadang, memang tidak semua orang mampu mengungkapkan apa yang dia rasakan secara terang-terangan, Bima adalah salah-satunya.
Bahkan, usai mengungkapkan itu dia pamit pergi lantaran merasa terlalu lama menyita waktu Lengkara. Memang sudah malam sebenarnya, Bima hanya ingin Lengkara segera istirahat karena besok pagi, dia akan datang kembali.
Padahal, hingga detik ini Lengkara masih berdiam diri di tepian ranjang dengan membawa kemeja Bima dalam genggaman. Parfumnya masih sama, Lengkara hapal betul aroma tubuh Bima setelah semuanya terbongkar.
Tepatnya, di saat mereka menjalani rumah tangga sungguhan dengan Lengkara yang mulai berusaha menerima. Ya, saat-saat itu masih Lengkara ingat jelas, saat dimana dia mungkin menyakiti hati Bima dengan menangisi Yudha yang kala itu menolak untuk berjuang bersamanya.
Lamunan Lengkara terlampau panjang, sejauh itu ternyata jika dia dalami. Namun, Lengkara menepis hal itu dari pikirannya, dia enggan mengenang luka dan kini beralih mengecek teleponnya. Sebelum benar-benar pergi Bima sempat memberikan nomor teleponnya pada Lengkara, dia berpesan siapa tahu butuh suatu saat nanti.
"Iyaaa sebentar."
Lengkara terperanjat kala mendengar ketukan pintu dari luar, biasanya Rona yang kerap pindah ke kamarnya lantaran terlalu sempit berdua. Salah-satu hal yang sedikit merepotkan, tapi Lengkara sudah terbiasa dengan sahabatnya ini.
"Sebentar, Rona!!" pekik Lengkara merasa kesal lantaran didesak semacam itu, apa salahnya menunggu.
"Gery?"
Betapa terkejutnya Lengkara kala menyadari yang kini berdiri di depan pintu bukanlah Rona, melainkan Gery. Pria itu juga sahabatnya, tapi lebih dulu menjadi kekasih Rona.
__ADS_1
"Belum tidur?" tanya pria itu dengan tatapan tidak terbaca, tanpa izin Lengkara dia masuk dan berbalik menutup pintu kamar segera.
Lengkara yang merasa janggal dengan sikap Gery jelas tidak tinggal diam, dia meminta Gery keluar segera lantaran khawatir Rona justru salah paham. Sayangnya, pria itu seolah tengah terbawa pengaruh alkohol hingga kemarahan Lengkara terdengar lucu baginya.
"Kau garang sekali ... aku jadi penasaran jika di ranjang bagaimana? Aku yakin kau lebih liar dari Rona," bisik Gery kala jarak mereka begitu dekat, tanpa perlu dijelaskan Lengkara paham betul apa yang tengah terjadi padanya.
Secepat mungkin dia menghindar, tapi semudah itu pula Gery menariknya kembali hingga Lengkara terbentur ke dada bidang pria itu. Sama seperti Jack yang kemarin kurang ajar, Gery juga sama bahkan terang-terangan meminta.
"Menjauhlah, Badjingan!! Sadar yang kau lakukan? Kita berteman, Gery!!" bentak Lengkara mendaratkan telapak tangan kala Gery berusaha mencium bibirnya.
"Teman? Kau dengar, Sayang ... tidak ada pertemanan antara pria dan wanita, terlebih lagi sudah dewasa, yang ada hanya saling memenuhi kebutuhan, benar begitu?" tanya Gery begitu percaya diri dengan aroma alkohol yang menguar dari napasnya.
"Ayolah, Lengkara ... aku tahu kau ingin merasakan milikku juga? Hm? Jika kau mau, aku akan meninggalkan Rona demi dirimu, Ra," ucapnya tersenyum tipis dan terlihat menjijikan di mata Lengkara.
Lengkara tidak akan menangis, walau Gery benar-benar serius bahkan berhasil menarik Lengkara ke atas tempat tidur. Sebisa mungkin dia bertahan, teriakannya tidak mempan entah apa yang terjadi pada Rona di kamar sebelah.
Hingga di saat Gery hendak mengungkung tubuhnya, saat itu juga Lengkara meraih telepon genggam miliknya dan memukul kepala Gery dengan sudut benda pipih itu. Tidak berhenti di sana, Lengkara mencakar wajah Gery dan menendangnya hingga terjungkal.
Saat itu Lengkara gunakan untuk meninggalkan kamar segera, dia yang tenggelam dalam kekesalan sengaja mengunci pintu kamarnya dari luar. Tidak tentu arah dan tujuan, Lengkara tetap berlari dengan lutut yang terasa lemas.
Sejak tadi tidak menangis, tapi begitu berada di dalam lift dia meraung. Jemarinya bergetar, tidak ada pilihan lain yang bisa dia hubungi selain Bima. Nyatanya benar, ucapan Bima selalu berbisa dan pada akhirnya dia benar-benar butuh juga.
__ADS_1
Belum sempat Bima menyapa, dia meminta pria itu datang segera. Tanpa diminta bercerita, Lengkara mengadu dengan tangis yang tersedu-sedu, mungkin menyesal karena terus membantah kekhawatiran Bima sejak tadi pagi.
"Tenang di sana, tunggu mas dan jangan kemana-mana."
Hanya itu yang Bima ucapkan, kendati demikian dia meminta Lengkara untuk tidak memutuskan sambungan teleponnya. Tidak berselang lama, bahkan tidak sampai sepuluh menit Bima sudah terlihat menghampiri Lengkara.
Masih dengan kaos yang Lengkara berikan, hanya celananya telah berganti dan kini pria itu hanya mengenakan sendal. Dia menarik Lengkara dalam pelukan, memastikan tidak ada bagian tubuhnya yang terluka dan mengusap keringat di kening Lengkara berkali-kali.
"Badjingan itu dimana? Sepertinya benar-benar harus mati di tanganku." Bima jelas emosi, sejak awal Lengkara menghubunginya dada Bima sudah naik turun.
"Jangan masuk!! Aku takut ... bawa saja aku pergi, kemanapun, Mas."
Lengkara menggenggam ujung baju Bima erat sekali. Saat ini yang dia butuhkan adalah perlindungan, Lengkara takut dan dirinya masih terkejut, itu saja. Melihat Lengkara yang begini, Bima hanya menghela napas kasar, kekhawatirannya benar-benar terjadi dan kini Lengkara tertampar pernyataannya sendiri.
"Harusnya memang kubawa sejak tadi," gumam Bima sedikit menyesal niatnya tidak terealisasikan.
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1