Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 151 - Mesin Waktu


__ADS_3

Jakarta, kediaman Bimantara Aksa 17:30 WIB.


"Terima kasih, Runi."


Sejak tadi menjadi beban pikiran kedua putranya, di sudut kota yang lain pria itu tengah menikmati secangkir teh hangat dengan biskuit susu favoritnya. Beralasan terjebak macet, Papa Atma menghampiri mantan istrinya sore ini.


Padahal, sebenarnya dia baru tiba ke Jakarta satu jam lalu. Tanpa direncanakan, dia hanya mengikuti kata hati hingga berakhir di rumah mewah milik putranya. Putra yang dia besarkan dengan goresan luka menganga dan terasa perih setiap harinya, Bimantara Aksa.


"Sama-sama, Mas."


Sebagai tuan rumah, Seruni hanya melakukan tugas untuk menjamu tamunya, tamu tak diundang tepatnya. Pertama kali mengetahui Papa Atma berada di teras depan, Bu Seruni pikir pria itu datang bersama Bima juga.


Namun, tebakannya salah besar dan kini Seruni seakan terjebak keadaan. Hendak bagaimana dia bersikap, sejak kejadian beberapa bulan lalu dia bahkan malu berhadapan dengan mantan suaminya.


Jelas saja sore ini dia semakin membeku, tangan Bu Seruni kini terasa dingin dan berkali-kali menatap ke pintu utama dengan harapan salah-satu putranya muncul seketika. Tidak mengapa sekalipun akan diledek seumur hidup, tapi Seruni merasa lebih aman andai ada Bima maupun Yudha di sini.


"Bima tidak akan datang, aku pergi tanpa sepengetahuan mereka, Seruni," ucap Papa Atma usai menghirup teh hangat yang seketika menghangatkan tubuhnya.


"Ah iya, aku hanya melihat hujan di luar, belum reda juga ternyata," ucap Bu Seruni tersenyum kaku, dia menunduk segera demi menyembunyikan kegugupannya.


"Apa kedatanganku mengganggumu?"


"Ti-tidak, tidak sama sekali," jawab Bu Seruni mencoba biasa saja meski saat ini jantungnya seakan berpindah dari tempat semula.


"Semoga saja, kau tidak lupa aku bisa membaca isi hatimu," ucapnya tersenyum tipis.


30 tahun berlalu, pria itu masih sama. Pria sempurna yang selalu berhasil membuat jantung Seruni berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, bahkan senyum tipis itu masih berhasil membuat hati Seruni berdebar tak karu-karuan.


Tidak ada yang berubah, meski kini wajah itu mulai menua, tapi ketampanannya masih begitu nyata. Ketampanan yang membuat Seruni buta dan bahagia bahkan hanya mendengar namanya saja.


Dalam diam pikiran Seruni melayang, membuka tabir kenangan dimana Atma bersikap hangat padanya. Sangat singkat, tapi membekas bahkan di saat kedua putranya sudah begitu dewasa.


Sama seperti sekarang, kala itu hujan mendera ibu kota, Seruni merasakan dingin padahal keringat membasah di sekujur tubuhnya. Samar terdengar, pintu dibuka dari luar hingga Seruni memaksakan diri untuk bangun segera.

__ADS_1


"Kau demam, kenapa tidak bilang dari tadi?" tanya Atma panik sekali, dia melepas jaketnya sedikit tergesa.


"Mas pulang? Aku baik-baik saja, nanti sembuh sendiri."


"Siapa yang menjamin kau sembuh? Tubuhmu panas sekali ya, Tuhan ... tidurlah, aku akan siapkan air hangat."


Dia sigap sekali, Atma bahkan membatalkan rencananya untuk ke Jakarta setelah mengetahui istrinya tiba-tiba demam tinggi. Jangan ditanya bagaimana perasaan Seruni, dimanjakan pria yang begitu dia cintai sejak lama adalah anugerah terindah dalam hidupnya.


Bahkan, Atma menunda kepergiaannya hingga dua hari kedepan hanya demi memastikan Seruni baik-baik saja. Entah perhatian pada buah hati yang ada dalam kandungan atau untuk dirinya, Seruni tidak peduli, yang jelas dia merasakan sisi lembut Atma yang sejak lama dia dambakan.


"Seruni," panggil Atma pelan, senyum Seruni kian mengembang kala pria itu mendekat.


"Iya, Mas?"


"Kamu baik-baik saja?" tanya pria itu memastikan, Seruni yang terlalu tenggelam mengagumi Atma justru terdiam seolah tidak mampu mengalihkan pandangan.


"Runi, kamu dengar aku? Seruni!!"


"Hah?"


.


.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi padaku."


Lamunannya terlalu jauh, sampai menyatu dengan kenyataan. Papa Atma tampak kebingungan, dia sudah berpikir macam-macam dan menduga jika mantan istrinya tengah kerasukan.


"Kamu kenapa? Apa ada yang dipikirkan?" tanya Papa Atma kemudian, Bu Seruni yang bingung hendak menjawab apa sontak mengangguk seraya tersenyum kaku.


"Baik, tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja."


Entah berapa lama dia tenggelam dalam lamunan. Namun, saat ini pelayan yang Papa Atma panggil untuk mengambilkan air putih tampak bernapas lega dan berlalu pergi setelah Bu Seruni mengatakan jika dirinya tidak apa-apa.

__ADS_1


"Jangan melamun, tidak baik untuk kesehatan."


"Ehem, kurasa begitu," jawab Bu Seruni seraya membuang napas perlahan, dia mengusap lehernya yang tak gatal dan meratapi seberapa memalukan dirinya di hadapan Atma.


Suasana kembali terasa canggung, Bu Seruni menyeruput teh hangat itu perlahan demi mendapatkan ketenangan. Aneh sekali, pertama kali bertemu Atma dia tidak begini. Setelah enam bulan berlalu, dan semua drama itu usai terlalu banyak hal yang membuatnya tidak bisa bersikap biasa di hadapan Atma.


Maklum saja, kedua putranya seolah sengaja menciptakan celah agar komunikasi mereka kian terjalin baik. Entah itu Bima ataupun Yudha sama saja, sama-sama jahil.


"Hampir magrib, apa tidak sebaiknya kamu pulang, Mas?"


"Hm? Pulang?"


"Iya, atau kemana begitu ... tidak ada anak-anak di sini, aku rasa tidak pantas saja," ucap Bu Seruni pelan, susah payah dia mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan hal itu.


"Iya, aku lupa," jawabnya kemudian, Papa Atma hendak beranjak berdiri, tapi sesaat kemudian dia mengurungkan niat dan kembali duduk manis di hadapan Seruni.


"Ada apa?"


"Sejujurnya aku datang untuk ini. Mungkin sudah sangat terlambat, tapi selagi ingat tidak ada salahnya," ucap Papa Atma mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dari sakunya.


Mata Bu Seruni membola kala menatap benda itu, terlebih lagi kala Papa Atma membukanya. "Aku membelinya waktu itu, tapi karena aku yang bodoh, aku baru memiliki keberanian untuk memberikannya padamu setelah Bima dan Yudha sudah dewasa," ucap Papa Atma penuh sesal, bertahun-tahun mengkhianati hati ternyata lebih sakit.


Bukan hanya Atma yang sakit, menatap kalung itu Seruni juga lebih sakit. Kalung yang sempat membuatnya demam karena begitu menginginkannya saat kandungannya memasuki trimester kedua, saat dimana Gilsa kembali sebagai orang ketiga dalam pernikahan mereka dan membuat jiwa Seruni seolah terpisah dari raganya.


"Pulanglah, di luar sudah gelap dan aku tidak ingin nanti timbul fitnah, Mas." Tanpa kata, Seruni tidak ingin berada di sana lebih lama hingga memilih berlalu meninggalkan Papa Atma yang tengah merasakan sesak dalam dada.


"Aku sedang menjalani karma atas semua rasa sakit yang kuberikan padanya di masa lalu."


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


Haiyaaaa, give away sampai jam 22:59 ya, see you❣️


__ADS_2