Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 35 - Tanpa Cinta


__ADS_3

"Aku pamit."


Terdengar sederhana, tapi sama sekali tidak ada yang menduga jika pamitnya Lengkara bukan pamit biasa. Satu bulan pasca Bima menjatuhkan talak, Lengkara memilih pergi ke negeri paman Sam untuk menata kehidupannya.


Tidak seperti keinginan Yudha, Lengkara sudah tidak lagi tertarik dengan dunia hiburan atau semacamnya. Bahkan akun sosial media dengan jutaan pengikut benar-benar Lengkara lenyapkan.


Jelas hal itu dia gunakan sebagai langkah mengubur kenangan bersama Yudha. Sejak meninggalkan rumah, dia sudah bertekad tidak akan tenggelam dalam luka. Sama sekali, Lengkara tidak ingin mengingat dua pria itu sama sekali, sedikitpun tidak.


Seperti kata Sean, sesuatu yang berlebihan memang tidak baik. Untuk itu dia memilih hidup bebas, dan tidak begitu menggunakan hati. Terdengar tidak logis, seorang wanita dewasa sepertinya menjalani hidup tanpa cinta dan lelaki di sisinya.


Tiga tahun kepergiannya, Lengkara benar-benar terbiasa. Sempat tidak begitu peduli dengan pendidikan, Lengkara memperbaiki dirinya. Dia menepis luka dengan begitu banyak cara, kuliah dan juga kerja part time dia lakukan agar tidak memiliki waktu merenung.


Sudah jelas tentang pekerjaan pihak keluarga tidak tahu, kedua orang tuanya mengira jika Lengkara hanya meneruskan pendidikannya. Tidak hanya sendiri, Lengkara juga mendapatkan banyak teman di tempat ini.


Dia bahagia, sempat merasa kehilangan dunia, kini kembali dia temukan. Semua benar-benar telah tertata, Lengkara menjalani hidup tanpa luka dan tidak ada lagi air mata yang dia keluarkan karena penolakan pria yang dia cinta.


Namun, yang menjadi masalah saat ini adalah Lengkara benar-benar tidak peduli dengan lawan jenis hingga teman-temannya mulai khawatir. Lengkara sama sekali tidak merasa canggung ataupun minder sekalipun dua sahabatnya membawa pasangan, seakan tidak peduli sama sekali.


"Jackson ... Edgard ... Leonard ... Julio ... Max_ ck ayolah, Ra!! Sampai kapan kau terus begini? Nanti malam kita harus berpasang-pasangan."

__ADS_1


Satu tahun berusaha, Rona mulai pasrah, sudah bertumpuk foto pria yang menginginkan Lengkara untuk menjadi kekasihnya, tetap saja Lengkara lebih peduli dengan buku-buku yang bertumpuk di meja belajarnya.


"Ya sudah aku tidak akan ikut, selesai, 'kan?"


"Tipemu seperti apa sebenarnya? Jangan terlalu tinggi, aku khawatir tidak ada laki-laki yang mau menikahimu." Bukan lagi Rona, tapi kali ini Gery yang bicara, sebagai pria yang memandang pola pikir Lengkara justru membahayakan diri sendiri.


Lengkara hanya tersenyum kecut. Menikah? Dia sudah pernah, bahkan merasakan kehidupan rumah tangga juga sudah Lengkara rasakan. Untuk itu, dia merasa tidak butuh pria yang datang padanya saat ini.


Terlebih lagi, pria-pria yang Lengkara ketahui sebagai pemain dan terobsesi pada wanita cantik di sekitarnya. Jangan lupakan, sebelum dia berlebihan dalam mencintai Yudha, Lengkara adalah seorang pemain juga.


Jelas dia tahu mana pria yang hanya penasaran, atau benar-benar berniat dari hati untuk membahagiakannya. Terkait kisah hidupnya yang pernah menikah memang dia rahasiakan, Lengkara enggan terlalu banyak pertanyaan.


Benar-benar tidak bisa diajak kompromi, padahal sudah dijemput dua jam lalu dan mereka sabar menunggu pekerjaan Lengkara selesai. Belum lima menit dia pamit tidur, dengkuran Lengkara mulai terdengar dan membuat teman-temannya memutar bola matanya malas.


"Aku baru tahu di apartemen kalian boleh memasukkan sapi."


"Maksudmu apa, Gery?" tanya Rona mengerutkan dahi, dia agak sedikit sulit menerka ucapan pria itu.


"Dia seperti sapi ... Hahaha apa tidur selalu begitu?"

__ADS_1


"Tentu saja, untung saja cantik," ucap Rona susah payah menahan tawa sebelum kemudian berlalu meninggalkan Lengkara.


Tanpa mereka ketahui, bahwa sapi yang dimaksud mendengar dengan jelas ucapan mereka. Lengkara menggerutu, dia sudah lari sejauh ini tetap saja mendengkurnya jadi masalah.


"Cih sapi? Aku b4bi!! Puas kalian?!"


.


.


"B4bi? Kau tidak tidur ternyata."


Terlalu keras dia bersuara hingga teman-temannya sadar jika Lengkara bersandiwara. Lengkara yang panik mencoba kembali berpura-pura tak sadarkan diri, tapi untuk kali ini mereka tidak akan menyerah semudah itu.


"Cepat bersiap ... masih ada waktu, siapa tahu kau menemukan jodohmu, Lengkara."


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2