
"Kau percaya kutukan, Yudha?"
"Kutukan? Tergantung siapa yang mengutuk, kenapa memangnya?" tanya Yudha kembali meneruskan kegiataannya.
"Gilsa ...."
"Hm? Kenapa wanita itu? Kau bertemu dengannya?"
Bima mengangguk perlahan, pria itu mulai bercerita tentang apa yang terjadi sebenarnya. Setakut itu Bima semua akan menjadi nyata, apalagi setelah dia mengetahui jika dahulu Lengkara pernah mendapatkan kutukan dari Irham yang sakit hati akibat tindakannya.
"Takhayul, jangan percaya ... tidak ada yang begitu, Tuhan juga tahu mana doa yang perlu diijabah dan tidak, Bima."
"Hm, tapi tetap saja aku khawatir, Yud," ucapnya terdengar lesu, jika saja masih sendiri dia tidak akan begitu panik, tapi yang menjadi alasannya adalah Lengkara.
"Khawatir itu boleh jika tujuanmu untuk menjaganya, tapi kalau sampai percaya dengan hal semacam itu jelas tidak boleh."
Bima menghela napas panjang, sulit sekali bagi Bima untuk menenangkan diri. Bahkan ketika Yudha sudah mengutarakan berbagai kalimat penenang padanya, Bima tetap seperti kehilangan arah.
"Berpikir positif saja, jika memang kau merasa jawabanku tidak membuat tenang, tanya saja pada ustadz Sean Andreamata ... sekalian minta ruqyah."
"Ck, aku serius." Bima berdecak kesal, dia tidak sedang bercanda sedikitpun saat ini.
"Kau pikir aku bercanda? Sudah masuk sana ... sekolah tinggi-tinggi percaya takhayul," usir Yudha dan tidak membuat Bima tergerak untuk pergi.
"Kau yakin tidak akan terjadi, Yudha?" Bima kembali memastikan, dia masih khawatir dan tidak bisa percaya sepenuhnya.
"Astaga anak ini, iya! Sejak kapan kau jadi bodoh, Bima!! Dengarkan aku baik-baik, ramalan, kutukan dan lainnya adalah hal yang tidak boleh kau percayai dalam hidup, paham?" Yudha yang sejak tadi mulai kesal mengusir Bima dengan cara yang tidak biasa hingga pria itu mundur demi menghindari serangannya.
"Basah bedebah!!"
"Salahmu keras kepala, sudah kukatakan pergi masih saja," pungkas Yudha terbahak menatap Bima yang kini mulai basah kuyup.
Bima hanya mengelus dada, sementara Yudha justru menganggap itu sebagai hal lucu. Kapan lagi dia bisa membuat Bima tersiksa, selagi pria itu baik dan tidak pernah marah maka Yudha aman saja sekalipun semena-mena.
Entah apa sebabnya, Yudha juga tidak mengerti kenapa Bima seakan pasrah saja beberapa bulan terakhir. Tidak jarang Yudha berbuat sesukanya dan Bima santai saja, sungguh aneh. Kemana perginya sikap pemarah seorang Bima.
__ADS_1
Kendati demikian, hal itu jelas saja bukan masalah besar dan justru menjadi sebuah kebahagiaan bagi Yudha. Pria itu bersiul seraya menikmati kesibukannya, indah sekali menjadi putra konglomerat sebagaimana yang dia impikan sejak lama.
"Ah iya, aku lupa soal ramalan zodiak bulan ini... mari kita lihat, bagaimana keberuntungan Cancer kali ini," ucapnya seraya merogoh saku celana, bisa-bisanya dia lupa padahal hari ini sudah tanggal lima.
"Asmara aur-auran, keuangan aman, kesehatan harus dijaga, keberuntungan_"
"Kakak sedang apa?" Suara itu membuat fokus Yudha kacau seketika, bahkan telepon itu hampir terlepas dari genggamannya.
"Kyaaa!! Kau sedang apa?" tanya Yudha dengan mata yang kini membulat sempurna, entah sejak kapan Raja berdiri di sisinya.
"Ikut baca, Gemini gimana, Kak? Asmaraku aur-auran juga tidak?" Raja tersenyum tengil sebelum kemudian meringis lantaran Yudha menjitak kepalanya.
"Gemini? Asmaramu tidak terbaca, mungkin terlalu runyam," jawab Yudha asal kemudian kembali memasukkan ponselnya ke saku celana.
"Belum juga dibaca." Raja mencebikkan bibir, tanpa terduga pria itu mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya.
"Hei!! Kau ... apa yang kau lakukan?"
"Stres, kepalaku sakit."
Belum sempat Yudha melarangnya, Raja berlalu pergi hingga membuatnya menghela napas pelan. Setelah Bima yang mendadak bodoh, kini Raja juga mendadak aneh.
Agaknya kedua orang di sekelilingnya ini memang tengah dirundung masalah besar. Yudha hendak merasa kasihan, tapi hidupnya juga lebih menyedihkan. Sudahlah, jika hendak dipikirkan mungkin rambut Yudha akan rontok dibuatnya.
.
.
Sesuai dugaan Yudha, memikirkan Bima adalah sesuatu yang percuma, karena memang lebih mengenaskan lagi nasibnya. Terbukti jelas bagaimana kini Bima yang tengah dibuat tersenyum hangat pasca kacau balau akibat memikirkan ucapan Gilsa.
"Cantik sekali."
Pemandangan di depan sana membuat hati pria itu menghangat. Tidak ada kata lain, selain tenang yang Bima rasakan setiap kali menatap sang istri. Beberapa jam Bima tinggal pergi, kini Lengkara tengah berenang bebas di kolam seolah dunia hanya miliknya.
"Dia terlihat lucu, sejak kapan ada duyung hamil."
__ADS_1
Bima terkekeh seraya menggigit bibirnya, hendak berapa lama dia menunggu di tempat ini. Jiwanya sejak tadi sudah berontak meminta agar mendekat segera. Kebetulan bajunya sudah basah akibat ulah Yudha, lantas kenapa tidak mandi sekalian, pikir Bima kemudian melucuti pakaiannya satu persatu.
Bertahun-tahun dia hidup dan dibesarkan di rumah ini, tapi kolam yang disediakan papanya hanya menjadi tempat Raja dan Arjuna bermain sepuasnya, sementara dirinya hanya memandang dari balkon kamar dengan perasaan yang tak terdefinisikan.
Untuk pertama kali, Bima perlahan turun ke dalam kolam. Sengaja dia diam sebelum kemudian meraih tangan Lengkara hingga wanita itu terperanjat dan mengira jika tengah ditarik penghuni kolam itu.
"Aaarrgghh!! Lepaskan aku!!" pekik Lengkara dengan mata terpejam dan napas yang kini menggebu-gebu.
"Shuut, tenang, Sayang ... buka matamu," tutur Bima lembut, usapan tangan Bima di wajahnya membuat Lengkara perlahan sedikit lebih tenang.
"Mas Bima?" Lengkara mengerjap pelan, hampir saja jantungnya terguncang karena ulah sang suami.
"Hai, kaget ya?"
"Iya lah, aku pikir babii air," kesal Lengkara kemudian memukul pelan dada sang suami, bukannya meringis Bima kini terbahak mendengar salah-satu spesies yang baru dia dengar itu.
"Hahaha apa? Ba-babii air? Sejak kapan ada hewan sejenis itu, Kara?"
"Ya ada pokoknya, kamu bikin jantungan, Mas!! Kalau aku sampai tenggelam giman_"
Cup
"Heum? Mas aku serius ...."
Cup
Tanpa menjawab, Bima hanya tersenyum tipis usai memotong pembicaraan sang istri dengan kecupan singkatnya. Sungguh sebuah solusi yang menciptakan masalah besar karena kini pria itu merasakan panas mulai mengalir di sekujur tubuhnya.
"Sayang," bisik Bima sembari mengeratkan pelukan, deru napas dan tatapan matanya mulai berbeda.
"Iyaa, kenapa, Mas?"
"Di sini boleh ya?"
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -