
"Dengarkan aku baik-baik, Bima."
Pria itu menarik napas dalam, mungkin Bima tidak akan menerima ucapannya dengan baik. Namun, mau tidak mau, Yudha harus mengutarakannya.
"Sesakit apapun hatimu aku harap jangan membencinya terlalu dalam. Papa menyayangimu, tapi memang ego papa terlalu tinggi sampai kita tidak bisa memahami bagaimana hatinya."
Yudha paham betul posisi Bima, saat ini memang saudaranya sakit luar biasa. Namun, di sisi lain dia yakin jika papanya mengusir Bima bukan berarti tidak sayang, melainkan sebaliknya. Tapi mungkin cara pria itu mengutarakan kasih sayangnya salah sehingga terkesan menyakiti Bima berturut-turut.
"Sayang apanya, Yudha? Jika Papa benar-benar menyayangi kita, seharusnya papa tidak marah hanya karena aku menyebut ibu di hadapannya bukan?"
Berbeda dengan Yudha, untuk kali ini Bima kembali marah jika mengingat julukan yang diberikan Papa Atma untuk ibunya, miris saja. Dia beranjak berdiri dan hendak berlalu karena enggan menerima nasihat Yudha.
"Tapi papa memang_"
"Cukup, Yudha!! Terima kasih bantuanmu, tapi jika kau meminta untuk tidak membenci Papa aku tidak bisa. Aku justru semakin membencinya!! Kau tahu itu!!"
"Bim_"
"Aku katakan cukup, Yudha!! Kau tidak merasakan penderitaanku, kau tidak pernah merasakan tamparan dan pukulan papa bukan?Kau bertemu papa di saat papa sudah baik ... karena itu kau percaya dia menyayangimu. Sementara aku? Aku bahkan hampir mati berkali-kali di tangannya, kau tahu itu?"
Dada Bima naik turun, napasnya tercekat hanya untuk meloloskan kata-kata itu. Selama ini dia memilih diam dan tidak pernah mengutarakan penderitaannya pada siapapun, termasuk Yudha. Dia berpikir, semua itu hanya masa lalu dan tidak perlu dia perpanjang.
Namun, setelah kejadian tadi pagi Bima yang begitu memendam kembali merasakan ketidakadilan sebagai anak dan dia benci itu. Dia benci papa, dia benci mama tirinya dan dia membenci orang-orang yang memandang ibu dan istrinya sebelah mata.
__ADS_1
"Jangan samakan aku denganmu, Yudha. Kau hidup dengan kasih sayang ibu sementara aku tersiksa dalam neraka yang papa ciptakan ... jangan ajari aku untuk tidak membenci papa karena hal itu sudah kulakukan sejak lama, tapi saat ini aku tidak bisa."
Begitu banyak yang ingin Yudha katakan sebenarnya, tapi melihat Bima kini seketika dia memilih bungkam dan cukup menahan. Bima hanya perlu waktu, lambat laun dia juga akan paham jika Papa Atma memang menyayanginya.
"Istirahatlah, kau terlihat lelah," pungkas Yudha, jika dia biarkan lebih lama maka besar kemungkinan Bima akan meledak dan melampiaskan amarah dengan cara yang salah.
Bima tidak lagi menjawab, tepatnya tidak lagi mampu karena tenaga pria itu sudah habis terkikis demi mengutarakan keluh kesahnya. Sedikit lemas, dia melangkah perlahan menuju kamar dan mendorong pintu tanpa aba-aba.
"Aawwwh!!"
"Ya Tuhan, kenapa juga kamu di depan pintu? Mau kemana, Ra?"
Bima tidak mengetuk sebelumnya, sementara Lengkara yang sejak tadi mencoba menguping pembicaraan sang suami tidak sadar jika Bima kembali. Alhasil, tragedi semacam itu tidak dapat dihindari dan kini Lengkara tengah merasakan sakit yang luar biasa akibat pertemuan antara kening dan pintu kamar mereka.
"Mas Yudha sudah pulang?"
Bukannya menjawab, dia justru balik bertanya dan hal itu membuat Bima menghela napas panjang. Pintar sekali dia menghindar, Bima hanya segera beranjak dan menarik tangan sang istri untuk bangkit segera.
"Belum, mobilnya masih ada sepertinya ... mungkin ke kamar ibu."
"Oh begitu."
Dia masih terlihat aneh, mungkin karena malu tertangkap basah tengah bertukar saliva bersama Bima. Sialnya, gelagat Lengkara justru dia ketahui hingga menciptakan berbagai pertanyaan di benak Bima.
__ADS_1
"Kenapa? Ingin bicara bersamanya?"
"Bukan, dia tadi tidak lihat, 'kan, Mas?"
"Kalau lihat kenapa memangnya? Kamu takut dia cemburu atau bagaimana?"
Hati Bima sedang tidak baik-baik saja, untuk itu bicaranya juga asal dan tidak berarah hingga Lengkara hanya menghela napas panjang. Agaknya dia memang salah bicara, secepat mungkin wanita itu mengalihkan pembicaraan agar Bima tidak benar-benar marah.
"Jangan salah paham, aku malu saja jika ada yang melihat."
Bima tidak lagi menjawab ucapan Lengkara, dia hanya menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, Bima lelah walau dia tidak melakukan apa-apa. Lelah berpikir tepatnya, mencoba memahami ucapan Yudha meski sebelumnya dia meminta pria itu berhenti bicara.
Paham jika suaminya butuh waktu sendiri, Lengkara memilih diam dan tidak akan mengganggunya. Saat ini, Lengkara sangat sadar bagaimana keadaan mereka. Untuk itu dia mulai mempertimbangkan ucapan Ameera. Mencoba untuk kembali menggeluti dunianya yang dahulu dia kubur demi melupakan Yudha.
Meski di Halte dia meyakinkan Bima untuk bisa hidup hanya dengan kekayaan papanya, Lengkara sudah berpikir jauh ke depan dan berharap tidak akan menjadi beban.
"Kasihan, jika saja bukan karena aku ... dia tidak akan kehilangan segalanya."
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1