Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 119 - Jangan Menatapku Seperti Itu


__ADS_3

"Kenapa Kakak melindungi mama? Berubah Pikiran?"


Satu pertanyaan yang sejak tadi bersemayam dalam lubuk hati Raja. Dia bingung, kenapa sang kakak justru memutar fakta hingga situasi kembali berubah seketika. Pelan tapi pasti, pernyataan yang Bima lontarkan di rumah sakit dapat meredam perbincangan panas yang tengah terjadi.


Awalnya keputusan Bima sangat bulat, sungguh. Namun, ketika melihat faktanya, Bima merasa bersalah. Yang dipermalukan justru terlihat baik-baik saja dan memberikan pembelaan demi membersihkan nama pribadi.


Sementara Papa Atma dan kedua adiknya justru dibuat hancur karena fakta yang Bima ungkap. Yudha benar, ketika semua terungkap belum tentu Gilsa merasa bersalah. Yang ada dia akan terus mencari pembenaran, tanpa peduli tentang suami dan juga kedua putranya.


"Aku tidak melindunginya."


"Lalu kenapa?" tanya Raja menatap Bima sekilas, jika dia ingat ini adalah kali pertama sang kakak bicara cukup banyak.


"Aku mendengar papa bicara padamu semalam," jawab Bima seraya memejamkan mata.


Walau tidak begitu jelas, tapi Bima bisa menyimpulkan jika yang membuat papanya sangat terpukul bukan semata-mata tentang pengkhianatan Gilsa semata, tapi juga kenyataan bahwa aib itu tersebar dan menyeret namanya.


Entah apa yang sebenarnya terjadi pada Papa Atma, tapi dia tidak meratapi kesalahan sang istri. Namun, yang dia pikirkan adalah bagaimana dengan perusahaan serta nama baik keluarga Atmadja setelah publik mengetahui hal itu.


Bima hanya ingin memberi sedikit pelajaran, tapi yang dimaksud justru tidak jera dan imbasnya berbalik arah. Untuk itu, dia berusaha mengembalikan keadaan sebelum semuanya terlambat.


Perlu diingat, yang dia maksud hanya nama baik keluarga, terutama sang papa. Bukan mengembalikan keutuhan keluarga cemara yang Gilsa bangga-banggakan di hadapan Bima sembari mencemooh ibunya.


Apa yang dia lakukan saat ini, anggap saja sebagai usaha membuka mata Atma. Bima sudah memperlihatkan belangnya secara terang-terangan dan tidak mungkin bisa dibantah. Ditambah lagi dengan cara Gilsa menghadapi masalah mereka kali ini sudah sangat cukup untuk menjadi pertimbangan Atmadja dalam menjalani biduk rumah tangga bersama wanita itu.


"Jadi masih sayang papa?" tanya Raja tak lagi sungkan menatap mata tajam Bima.


"Ya sayang lah, aneh sekali pertanyaanmu."


Tanpa terduga, Raja tertawa kecil hingga Bima mengerutkan dahi. Aneh sekali, padahal saat ini Raja seharusnya marah besar, tapi sejak berada di Semarang hingga kini dalam perjalanan dari Bandara ke kediaman utama Bima dia terlihat santai saja.

__ADS_1


"Kau kenapa?"


"Tidak, badutnya lucu," jawab Raja menunjuk ke depan sana. Entah karena Bima lupa atau memang tidak tahu, adiknya memang semudah itu tertawa sebenarnya.


"Itu ondel-ondel, Raja."


"Iya, maksudku begitu, Kak."


Bertahun-tahun mereka amat berjarak, bahkan bicara saja enggan. Kini, hal sekecil itu berhasil membuat sudut bibir Bima tertarik tipis, wajar saja jika Yudha kerap mengatakan Raja adalah happy virus yang tak pernah terlihat olehnya.


"Ehem, Raja boleh aku bertanya?"


"Tanya saja, sejak kapan Kakak perlu izinku," jawab Raja tanpa menatap wajah Bima.


"Kau tidak marah?"


"Untuk semuanya, tadi malam terutama."


"Tidak, andai aku mengetahuinya pasti akan melakukan hal yang sama. Mamaku bersalah, dan tidak ada pembenaran atas tindakannya, aku tidak akan membelanya, apalagi setelah mendengar klarifikasinya tadi pagi."


Raja tersenyum kecut, tanpa menghubunginya sama sekali, permintaan maaf sepatah katapun tidak dia terima dari sang mama. Bahkan, sejak Papa Atma dibawa ke rumah sakit hingga keesokan hari, Gilsa tidak menunjukkan diri.


Lebih menyakitkan lagi, pagi tadi Gilsa memberikan sebuah klarifikasi dan berusaha menegaskan tidak ada sesuatu terjadi pada keluarga mereka. Wanita itu terlihat baik-baik saja dan dia bicara dengan wajah berbinar layaknya seorang istri yang merasakan kebahagiaan setelah melewati 29 tahun pernikahan bahagianya.


.


.


Tidak berselang lama, taksi yang mereka tumpangi kini tiba di tujuan. Sesuai dugaan, Lengkara sudah berdiri tegap layaknya gapura di perbatasan kota. Tatapan tajam dan tangan yang di atas perut seolah tengah menegaskan jika dia marah.

__ADS_1


"Sayang, kamu menungguku?"


Sudah tahu, tapi dia masih bertanya. Padahal, aura mistis sudah terasa hingga dingin menusuk persendiannya. Bukan hanya Bima, tapi Raja juga merasakan hal yang sama. Ini adalah ketiga kali dia berjumpa Lengkara, tapi jujur saja rasanya agak sedikit berbeda.


"Raja kenapa? Apa kakakmu kasar lagi?"


"Tidak, Kak, aku ngantuk jadi ketiduran di perjalanan," jawab Raja asal, tapi tertata hingga membuat Bima terselamatkan.


"Masuklah."


Tidak ingin terlibat pertikaian pasangan ini, Raja menurut dan meninggalkan Bima yang kini terjebak bersama sang istri. Habislah sudah, Bima seorang diri berhutang penjelasan di hadapan pemilik mata tajam ini.


"Aku tahu kamu marah, tapi kumohon!! Jangan menatapku seperti itu, Ra. Aku akui memang salah, seharusnya tidak perlu publik tahu dan cukup papa saja." Bima berhenti sejenak demi menarik napas dalam.


"Aku buta!! Rasa sakitku selama ini menuntut mama tiriku harus merasakan hal yang sama. Tapi ternyata dengan aku yang begitu justru Papa kena imbasnya, dan tentang ini sudah kuatasi, jadi aku mohon jangan membenciku," lanjutnya kemudian.


Jangankan membenci, marah saja tidak sebenarnya. Lengkara tahu bagaimana sakit yang Bima rasakan. Wajar saja dia bertindak sejauh itu, mengingat bagaimana nasib kakak iparnya yang selingkuh di masa lalu juga bahkan lebih menyedihkan dari Gilsa.


Terlebih lagi, dia baru saja mengetahui bahwa semua ini melibatkan otak Zean, Yudha dan juga taktik Evan dalam melumpuhkan lawan, jelas saja endingnya akan tertebak.


"Aku tidak marah, aku percaya semua yang kamu lakukan sudah dipertimbangkan matang-matang." Ucapan Lengkara membuat Bima tenang, setenang-tenangnya. Hingga ketenangan itu berganti kala dia menyadari ponselnya bergetar dan seseorang yang cukup tak disangka berani menghubunginya.


"Ursula? Siapa Ursula?" Lengkara mengerutkan dahi melihat nama yang tertera di ponsel Bima, namanya mengingatkan Lengkara pada penyihir laut dalam sebuah animasi kesukaannya.


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2