
"Hah?"
Ameera sempat terkejut, tapi yang lebih terkejut lagi jelas saja Lengkara. Seingatnya, dia tidak mencantumkan statusnya sebagai istri Bima atau semacamnya, dan kini username aku sosial media yang akan dia gunakan untuk memulai karir itu diolah sedimikian rupa, sudah jelas bukan tangannya.
"Kemarin tidak begini," elak Lengkara cepat, dia tidak ingin kembali menjadi bahan olokan Ameera karena ini.
"Ngeles." Ameera mencebikkan bibir, dari raut wajahnya terlihat jelas dia panik.
"Sumpah, Meera!! Kemarin tidak ada kok ... masih kosong seriusan." Lengkara sampai mengangkat dua jemarinya sebagai jaminan agar Ameera percaya.
Namun, bukannya percaya Ameera justru memberikan senyum tak terbaca yang membuat Lengkara mulai curiga bagaimana nanti akhirnya. Tidak hanya usai di sana, Ameera menunjukkan hal itu pada Oma Kanaya.
Puas melihat dua wanita beda generasi itu menjadikannya bahan candaan, Lengkara pamit keluar demi memastikannya sendiri. Demi apapun, dia sama sekali tidak menambahkan apapun baik di bio maupun username akunnya.
Sudah cukup lama dia menghabiskan waktu bersama Ameera, agaknya Bima juga selesai. Entah bagaimana keputusan yang didapat, Lengkara percaya saja baik papa maupun kakaknya bersedia mengulurkan tangan dan menuntun Bima untuk tiba di titik tujuannya.
Kendati demikian masalah itu bukan yang utama, tujuan Lengkara mencari sang suami hanya untuk memastikan hal itu. Sebenarnya bukan masalah, tapi lucu saja dan dia sedikit tidak menyangka jika Bima akan melakukan hal semacam itu.
Bergaya seolah tidak tertarik, bahkan jika ingin mengambil fotonya harus sembunyi-sembunyi, sulit sekali mendapatkannya. Agak mustahil saja, orang seperti dia tertarik dengan pengakuan di sosial media.
Entah siapa yang mengajarinya, Lengkara juga penasaran dan kini mempercepat langkah. Andai semua itu adalah inisiatifnya sendiri maka Lengkara akan mengejeknya habis-habisan. Hal itu jelas saja akibat Bima yang mengganggap Lengkara konyol, sesuatu yang berbau sosial media bukan gayanya sama sekali, begitulah kata Bima.
.
.
"Mas Bima .... dimana dia? Masa belum kelar juga," gumam Lengkara menatap sekeliling kamar dan memang tidak ada siapa-siapa di dalamnya.
Tidak berselang lama, wangi khas yang selalu membius penciumannya menguar hingga membuat Lengkara berbalik. Tepat sekali, sang suami baru saja selesai mandi dan mata Lengkara dibuat membola kala menatap tubuh indah Bima yang hanya tertutup bagian pinggang hingga lututnya.
__ADS_1
Sial, seketika otaknya agak sedikit messum dan hal semacam itu tertanam sejak menjadi istri sah Bima. Padahal pemandangan semacam itu bukan yang pertama kali dia lihat, tapi tetap saja binar kekaguman tidak mampu Lengkara tutupi.
"Ra."
"Iya, Mas," jawabnya lembut, tapi mata Lengkara seakan kosong lantaran terpikat pesona suaminya sendiri.
"Lap air liurmu," ucap Bima seraya melewati sang istri, dengan polosnya Lengkara mengikuti perintah Bima hingga pria itu terbahak.
Dia tidak mampu menahan diri untuk kali ini, persetan dikatakan jelmaan setan atau tidak terlihat keren lagi. Bagaimana bisa dia menahan diri jika memiliki istri semenggemaskan itu.
"Mas bercanda ya?"
"Tidak, memang air liurmu menetes melihatku," jawabnya santai dan tidak peduli andai sang istri marah besar nantinya.
Bima merdeka kali ini, dia memang menang dan Lengkara terbuai hanya dengan melihat. Untuk sementara dia biarkan Bima tenggelam dalam tawa, Lengkara masih terus memantau selama apa dia bertahan nantinya.
"Ah ya, Tuhan istriku lucu sekali," ucapnya di sela-sela gelak tawa yang tak habis jua, entah karena dia banyak masalah hingga mudah sekali tertawa atau memang lucu sebenarnya.
Beberapa lama dia menunggu dan Bima belum berhenti juga, hingga dalam hitungan ketiga Lengkara mengambil langkah dan mendorong tubuh Bima hingga pria itu terjerambab ke atas tempat tidur.
"Astaga, Kara?" Bima berbalik dan menatap bingung ke arah sang istri, dari mana tenaga Lengkara hingga sekuat itu mendorongnya.
"Puas? Selucu apa, Mas?"
Sama seperti awal pertemuan, Bima panik kala menyaksikan sang istri tiba-tiba merangkak naik dan duduk di atas perutnya. Bukan karena apa, tapi setelah ini Evan memintanya datang ke rumah dan kembali meneruskan pembicaraan penting antara mereka, sebagai pebisnis tentu saja.
"Sayang kamu mau apa? Nanti malam saja ... mas mandi karena mau ikut kak Evan." Meski tidak pasti apa tujuan Lengkara, tapi Bima sudah sedia payung sebelum hujan lantaran takut jika sang istri justru menerkamnya siang ini.
"Ah begitu? Apa sekarang aku tidak penting lagi, Mas?" tanya Lengkara seolah sengaja cari perkara dengan menelusuri perut Bima dengan jemari lentiknya.
__ADS_1
"Bu-bukan begitu, tapi kak Evan menunggu ... maaf ya, nanti malam saja."
Lengkara mencebik, ekspresi itu seolah semakin membuat Bima yakin jika sang istri menginginkan dirinya. Padahal, sama sekali tidak dan Lengkara hanya ingin bertanya tentang hal yang tidak begitu penting sebenarnya.
"Tunggu dulu, kamu tidak merasa bersalah padaku?"
"Salah, tapi maaf jangan sekarang ya," tutur Bima lembut dan masih saja mengira Lengkara merindukan belaiannya.
"Bima's wife ... pasti ulah kamu, 'kan?"
"Hah?" Setelah mengenal Lengkara, agaknya Bima mulai menerapkan jurus andalannya, yakni jurus pura-pura bodoh.
"Jawab saja, jangan pura-pura lupa."
"Iya!! Kenapa memangnya? Memang kamu istriku, mau apa?" tanya Bima tidak santai sama sekali.
"Tapi kenapa harus ditulis?"
"Ya memang harus, jangan sampai diubah," tegas Bima tidak terbantahkan.
"Alasannya apa, Mas? Begitu maksudku."
Bima tidak akan menjelaskannya, meski Lengkara menekan beberapa kali. Beruntung saja, Evan menghubungi dan memintanya untuk turun segera. Namun, sialnya di saat begini tubuh Bima justru bereaksi kala Lengkara bergerak pelan di atas tubuhnya.
"Ra jangan ger_ sshhh, Kara."
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -