Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
The Last Bonus


__ADS_3

Satu bulan kemudian


Selalu ada hikmah dibalik musibah yang menimpa setiap hamba. Begitulah ungkapan Sean yang selalu Bima ingat dan tanamkan dalam dirinya, dan juga dia sampaikan pada Yudha. Satu bulan lalu hidupnya terpenjara dalam gulita, hari ini Yudha mungkin mendapatkan hikmah yang sesungguhnya.


Setelah semua luka yang dia terima, Yudha pada akhirnya melaksanakan pernikahan bersama wanita pilihannya. Sempat terkejut dengan keputusan Yudha, tapi Bima mengerti segala sesuatu pasti sudah Yudha pikirkan dengan matang.


Wanita bernama Kalila yang dia tabrak satu bulan lalu resmi menjadi istrinya. Bima salut dengan keberanian Yudha yang meminang Kalila dengan cara baik-baik. Pernikahan yang didasari tanggung jawab dan rasa bersalah itu mungkin melukai Soraya, tapi sebagai saudara Bima hanya bisa mendukung pilihan Yudha.


Selagi dia bahagia tidak masalah, tidak ada keterpaksaan diantara keduanya dan Bima dapat melihat dengan jelas jika wajah Yudha berbinar di sisi Kalila, berbeda jauh jika dirinya bersama Soraya.


"Mas, Kalila sangat cantik, wajar Yudha gercep."


"Kamu benar, tapi menurutku ada alasannya kenapa dia mengambil keputusan secepat itu," ungkap Bima seraya menatap Yudha dari kejauhan.


"Apa memangnya?"


"Lihat baik-baik, dia sudah menata semuanya dengan matang, Yudha sengaja menikahi Kalila di saat belum bisa melihat karena hanya dengan cara itu dia bisa mendapatkan wanita secantik itu."


Krik krik krik


Lengkara mengerjap pelan, tanpa sadar ucapannya terlalu tajam hingga membuat sang istri menatap Bima tanpa minat. Tidak hanya itu, Dewantara yang sejak tadi berada dalam pelukan Lengkara turut menatap papanya dengan tatapan tak terbaca.


"Ma-maksudku begini, Sayang, setelah putus dari kamu tidak ada yang masuk kategori cantik, dan Kalila ini adalah gadis paling cantik menurutku jad_"


Terlalu banyak bicara membuat Bima terjebak dalam masalah. Seketika dia salah tingkah dan mengatur napas mengingat wajah Lengkara sudah sedatar karpet Aladin, sungguh dia takut sekali pisah ranjang nanti malam.


"Aih bicara apa aku, istriku yang paling cantik di dun_"


"Kalila memang cantik, dan mas Yudha berhak mendapatkannya. Aku harap, hati Kalila juga cantik, secantik nama dan orangnya ... dengan begitu, aku bisa bahagia tanpa memendam perasaan bersalah padanya."


Bima sudah ketar-ketir bahwa istrinya akan marah, tapi di luar dugaan dia justru mengutarakan sesuatu yang membuat pikirannya kian dewasa. Lengkara menatap Yudha dari kejauhan dengan senyum manisnya, jujur saja dia tidak pernah selega ini sebelumnya.


Bukan karena masih cinta atau bagaimana, tapi memang sejak lama rasa bersalah itu masih ada. Kekhawatiran andai Yudha justru betah menyendiri adalah alasan kenapa Lengkara sebahagia ini di hari pernikahan mantan kekasihnya.


"Benar, aku juga berharap demikian, Sayang," tutur Bima merangkul bahu sang istri, tidak lupa kecupan manis dia hadiahkan di puncak kepala istrinya.

__ADS_1


Keduanya sudah sepakat untuk saling memahami, masa lalu panjang antara Yudha dan Kara hanya sebatas masa lalu saja dan memang sudah usai. Di penghujung acara, Bima dan Lengkara sempat mengabadikan foto di acara pernikahan Yudha.


Keduanya sama-sama bahagia, sampai lupa jika ada yang tidak beres. Mereka saling menatap, mata Bima dan Lengkara membulat sempurna usai Yudha bertanya dimana Dewangga.


"Mana?"


"Kok tanya aku, dari tadi aku sama Dewantara loh, Mas!!"


"Dasar aneh, lupa kali ... Dewangga di rumah atau di laci mungkin?" tanya Yudha semakin memperkeruh keadaan, Bima yang sejak tadi cemas semakin cemas hingga memukul pundak Yudha.


"Sudah cari sana, kalian taro dimana memangnya?"


"Dikira barang, mana kutahu, Mas Bima kebiasaan pikun!!"


"Bentar, Mas ingat dulu terakhir kali Dewangga dimana," gumam Bima seraya berpikir keras, mengingat dimana terakhi kali dia melihat Dewangga.


.


.


Jika di dalam gedung Bima dan Lengkara tengah dibuat panik. Di sisi lain, Ameera dibuat sakit pinggang lantaran putra Lengkara yang kini tengah aktif-aktifnya sama sekali tidak dapat diajak kerja sama.


Lututnya sudah kotor, berkali-kali jatuh, tapi dia terus bangkit dan melangkah sesukanya. Sama sekali tidak Ameera duga, jika keponakannya satu ini akan lebih nakal dari yang lainnya. Entah apa yang membuatnya berbeda, tapi memang tumbuh kembang dan tenaganya cukup mencolok dibandingkan yang lainnya.


"Oh my god!! Apa memang sesulit ini jadi pengasuh? Melelahkan sekali, Dewangga kembali!! Onty ikat ya!!" teriak Ameera sekuat tenaga, tidak lagi ada kata elegan dalam dirinya, yang ada hanya jelmaan Lengkara di pagi hari kala tengah naik darah.


Hendak dia abaikan, tapi khawatir justru jadi masalah. Untuk itu, terpaksa Ameera berkorban meski keringat sudah mengucur di dagunya. Hingga, Ameera kehilangan jejak dan dibuat bingung dimana keberadaan Dewangga.


"Ya, Tuhan, Dewangga! Kamu dimana, Sayang?!!"


Cukup lama Ameera mencari, hingga dia dibuat hampir menangis kala seorang pria bertopi dengan tas ransel di punggungnya mendekat menghampiri Ameera.


"Kak, ini anaknya?"


Ameera mengangguk, dia mengambil alih Dewangga yang sempat nyaman dalam gendongan pria itu. Entah siapa gerangan, tapi dari penampilanya, pria itu bukan tamu undangan. Wajahnya juga tertutup masker hingga tidak bisa dia kenali.

__ADS_1


"Hati-hati, Kak, anak segitu lagi lucu-lucunya, nanti diculik gimana?" tanya pria iru seraya menjetikkan jemari ke hadapan Dewangga hingga anak itu terkekeh dan mengira tengah diajak bermain.


"Iya, terima kasih bantuannya ... ini, anggap sebagai hadiah."


"Tidak perlu, Kak, saya ikhlas bantuin, lagian yang nyamperin dedeknya, bukan saya," tolak pria sopan, dia bahkan menunduk sebelum meninggalkan Ameera.


Tanpa sadar, Ameera tertegun dan masih terus memandangi pria itu. Sudah cukup jauh dia berjalan, dan entah kenapa jaket yang tampak lusuh dan mulai berubah warna itu masih terbayang hingga membuat Ameera sempat ingin mengejar pria itu.


"Ameera!!"


Langkah Meera terhenti, dia menoleh dan mendapati Lengkara dan Bima tampak tergesa menghampirinya. "Papah!!" teriak Dewangga merentangkan tangan dan Meera memberikannya pada Bima saat itu juga.


"Makanya punya anak dijaga, iket kalau perlu."


"Makasih, Ra, aku udah mikir kemana-mana tadi," tutur Lengkara mengusap pelan puncak kepala Dewangga, tidak lupa mengeratkan pelukan pada Dewantara.


"Ya sudah ayo masuk, aku mau foto sama Yudha juga."


"Boleh deh, sekalian ambil melatinya Kalila biar nular jadi pengantin dalam waktu dekat," ucap Lengkara kemudian, Ameera hanya tertawa pelan usai mendengar ide saudaranya.


"Hahaha mitos!! Percaya gituan masa."


"Dih, fakta, Meera!! Coba saja kalau tidak percaya ... tidak lama lagi, aku jamin Julio pasti halalin kamu kalau ambil melati pengantin hari ini."


"Okay!! Kalau sampai hoax kamu harus makan spaghetti lewat hidung ya."


"Enak aja, ketularan siapa sih kamu, Ra!!"


Perdebatan mereka disaksikan Bima yang hanya tersenyum tipis melihatnya. Memiliki istri seperti Kara, dan ipar secerewet Ameera adalah paket komplit yang membalut kehidupan Bima hingga terasa kian manis.


.


.


~ Benar - Benar tamat, saksikan Ameera di buku barunya "Berondong Bayaran" ~

__ADS_1


__ADS_2