
Jika di dalam Bima dan Mama Zia menyaksikan dengan jelas perjuangan Lengkara. Di luar, pihak keluarga yang lain tengah menunggu dengan perasaan tak sabar, tidak hanya Papa Mikhail, tapi Hudzai juga ikutan mondar-mandir.
Yang melahirkan satu orang, tapi yang menunggu kepastian seperti satu kelurahan. Tidak ada yang mau ketinggalan, hal itu bermula karena Lengkara dan Bima memang tidur di rumah orang tuanya tadi malam.
Hanya karena rindu dan tadi malam Lengkara terlihat baik-baik saja, tanpa terduga jika tepat tengah malam teriakan Lengkara terdengar hingga membuat dua keluarga besar itu panik dan ke rumah sakit segera.
"Papa, bisa duduk saja tidak? Nanti pusing," pinta Kak Zean memecah keheningan.
"Bagaimana bisa? Lengkara sedang melahirkan cucu papa, bukan main layang-layang di dalam sana!" balas Papa Mikhail yang membuat Kak Zean menyesal bicara.
Merasa diabaikan dan terus serba salah, Kak Zean beralih menghampiri Sean yang memang menunggu di tempat berbeda. Maklum saja, pria itu tidak bisa berdoa dengan khusyuk jika terlalu banyak orang.
"Kau kenapa?" tanya Sean kemudian menatap saudaranya dengan senyum tipis.
"Papa ngeyel, kuminta duduk diam malah milih mondar-mandir persis setrikaan, mana balasnya sewot," jelas Kak Zean seakan tengah mengadu pada pria berkalungkan tasbih yang membuat Zean bak debu jika bersamanya.
"Hahahahah!! Makanya diam, Zean."
"Ck, mataku sakit melihatnya, Sean!!" kesal Zean kini membela diri.
"Ya sabar, papa sedang menunggu kelahiran pemegang tahta tertinggi di keluarga Megantara, jadi wajar dia begitu."
__ADS_1
"What? Ter apa? Tertinggi? Kau tidak ingat jagoanku adalah pemegang tahta tertinggi selama ini," ujar Zean yang kini beralih adu nasib.
"Itu karena belum lahir anak Lengkara, kau lupa di antara kita siapa yang paling diratukan Papa?" tanya Kak Sean tersenyum tipis dan membuat pria itu kalah telak.
"Ya Kara sih," jawabnya pelan, bahkan hampir tak terdengar.
Sebuah fakta yang tidak bisa Zean khianati, memang benar Lengkara memegang tahta tertinggi. Tidak perlu mengadu dan tidak perlu merengek Papa Mikhail akan menjadi garda terdepan untuk membelanya.
Tidak peduli sekalipun itu lawannya adalah Mama Zia, dengan tegas Papa Mikhail akan memenangkan Lengkara. Beruntung saja hal itu tidak membuat Lengkara semena-mena dan sok berkuasa, jika saja iya mungkin dengan mudah dia mengambil alih perusahaan dan menurunkan jabatan Zean dalam rangka balas dendam.
"Ya sudah, terima saja kenyataannya," pungkas Kak Sean tertawa pelan.
sejak lama dia menunggu kelahiran buah hati Bima dan Lengkara. Selama ini memang benar tahta tertinggi masih dipegang Hudzaifah, selain karena dekat dan mudah bertemu, anak itu pintar hingga Papa Mikhail benar-benar menyukainya. Namun, usai malam ini mungkin saja beda cerita dan keadaan kembali berbeda.
"Hadiahnya sama seperti untuk Habil dan Iqlima, hanya beda nominal karena anakku kembar saja ... aku rasa papa adil dan memang wajar dia memberi hadiah untuk cucunya. Tapi kau pasti belum lupa hadiah untuk buah hati Lengkara? Masih dalam kandungan sudah diberi sertifikat tanah."
Gleg
Baiklah, Kak Zean kalah dan tidak lagi bisa mengelak. Sebenarnya bukan cemburu, mereka saling menyayangi dan Papa Mikhail juga tidak pilih kasih. Namun, terkadang mereka memang kerap bercanda dan mengurutkan tahta dalam keluarga itu layaknya di lingkungan kerajaan.
Kebetulan, setelah buah hati Lengkara lahir julukan king of Mikhail Kingdom yang melekat dalam diri Hudzaifah, putra sulung Zean itu akan beralih seketika.
__ADS_1
"Ah tidak bisa kubayangkan, tapi papa best friend forever Hudzai, tetap saja tahta putraku sulit dilengserkan."
"Tapi mungkin saja anak Lengkara nan_" Baru saja hendak kembali membuat suasana hati Zean panas, kehadiran Zalina yang tampak belari terburu-buru di depan sana membuat Sean berhenti bicara.
"Kenapa, Sayang? Perutnya sakit juga? Tapi, 'kan masih lama." Sean benar-benar panik, sama sekali dia tidak lagi tertarik dengan pembahasan terkait perebutan tahta, tapi sang istri yang kini tengah hamil membuatnya khawatir seketika.
"Bukan, Mas, tapi Lengkara," jawab Zalina tersenyum tipis dengan semburat merah di wajahnya lantaran menahan malu pada Zean.
"Lengkara? Bagaimana? Apa sudah beres, Sayang?"
"Iya, Alhamdulillah sudah, Mas ... kembar, laki-laki semua kata Mama."
"Alhamdulillah, ya Tuhan kamu dengar detak jantungku? Syukurlah jika begitu." Kak Sean menghela napas panjang, ini adalah berita paling baik yang dia dengar minggu ini.
"Dasar aneh, mana mungkin mau lahiran kalau masih bisa lari begitu," timpal Zean yang agak iri melihat kehangatan mereka sementara istrinya ada di depan sana bersama Hudzaifah.
"Aku tidak bertanya padamu," kesal Sean kemudian berlalu pergi meninggalkan Zean yang kini murung seperti jin kurang sajen.
"Baiklah, masa pemerintahan Hudzai sudah habis ... mari kita sambut raja selanjutnya!! Semoga sikapnya mirip Bima, Aamiin!!"
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -