Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 122 - Baru Sebentar


__ADS_3

"Selamat siang, Ibu Gilsa."


Gilsa pikir penderitaan telah usai, faktanya belum berakhir, bahkan baru awal. Entah kapan Bima bergerak, tapi kini beberapa orang dengan pakaian senada itu meringkusnya dengan tuduhan kasus pembunuhan berencana terhadapnya.


Ya, dia yakin Bima yang menjadi otak dari semua kejadian akhir-akhir ini. Gilsa terima begitu saja? Tentu tidak, tabiat Gilsa tidak pernah menerima kekalahan. Dia sempat mengelak, bahkan pura-pura tidak mengenali sosok Gilsa dan mengaku sebagai tamu yang baru datang dari kampung.


Dalam keadaan semacam ini, Gilsa masih bisa berkilah. Tas besar yang berada di hadapannya dia coba untuk menjadi senjata, sayangnya pihak berwajib justru terbahak dan menganggap Gilsa sebagai perempuan kolot yang berpikir begitu sempit.


"Bima masih berusaha memanusiakan manusia, akan tidak lucu jika tulang rusuk Anda harus patah salah-satu dulu baru diserahkan pada kami bukan?"


Benar saja, dugaan Gilsa tidak salah dan fakta Bima yang membuatnya terjebak dalam hal ini. Ingin marah, tapi tidak bisa karena pada faktanya semua sudah terlanjur dan percuma dia berteriak karena kini tetap terseret juga.


Niat hati Gilsa kembali ialah mengambil surat berharga serta perhiasan yang dia punya selama Atma belum pulang. Hanya itu harapan Gilsa, terlebih lagi kala Papa Atma justru menjatuhkan talak tepat di hadapan Yudha dan Arjuna tadi pagi.


Satu ketakutan Gilsa, melarat. Ya, hanya itu saja sebenarnya, karena itu dia berusaha meraup keuntungan sebelum benar-benar pergi. Karena memang semua sudah percuma, sekalipun Bima membenarkan pembelaan dirinya, respon teman-teman Gilsa masih sama.


Bahkan, sahabat dekatnya juga tidak percaya. Padahal, Gilsa sudah menyebarluaskan pengakuan Bima dari wawancana di televisi, tapi bodohnya mata sembab Raja dan fakta bahwa Atma masuk rumah sakit membuat mereka lebih percaya bahwa perselingkuhan itu memang nyata.


Namun, jangankan berhasil menyelesaikan misinya, diizinkan masuk selangkah saja tidak. Dia benar-benar gagal, langkahnya yang tinggal sedikit lagi itu sia-sia. Tidak ada perusahaan untuk Raja, selamanya mereka tetap akan menjadi bayang-bayang. Gilsa kesal, dia kacau dan menyalahkan banyak pihak.


Sepanjang perjalanan, dengan tangan yang diborgol dia mengumpat, memaki dan menggila layaknya seseorang dengan gangguan jiwa. Tidak hanya Bima yang menjadi sasaran amarahnya, tapi Yudha yang tetap hidup normal, Atma yang tidak adil, Panji yang bodoh bahkan kedua putranya juga turut menjadi sasaran.


"Anak-anak bodoh!! Menyesal aku melahirkan kalian," lirih Gilsa dengan tangis yang kini tidak terhenti jua.


Bagaimana dia bisa bersikap baik pada Bima, jika pada putranya saja demikian. Setelah tahu bahwa tidak akan pernah ada istilah Raja memimpin perusahaan, sontak wanita itu menganggap bahwa Raja tidak berguna.


.


.


Sejahat itu Gilsa, padahal di sisi lain seorang wanita yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengan Raja begitu hangat padanya. Jangan lupakan, wanita itu pula yang Gilsa anggap sampah dan meminta Atma membuangnya tanpa sisa.


"Makan yang banyak, kamu terlihat kurus ... apa mata ibu saja yang salah?"


Raja tersenyum kaku, sementara Bima sempat tersedak begitu melihat nasi yang menggunung di piring Raja. Setelah sempat menangis hingga sakit kepala, dia tampak baik-baik saja kini.

__ADS_1


"Bima kenapa?" tanya Bu Seruni kala sang putra kini justru terbatuk kecil.


"Tidak, Bu," jawab Bima pelan, sungguh hal semacam itu tidak lucu sebenarnya, entah kenapa Bima sampai batuk segala.


"Hati-hati makanya, sambil mikirin apa sih?"


Bima menggeleng pelan, dia belum berani kembali bicara lantaran khawatir terbatuk lagi. Sebenarnya tidak ingin dia perhatikan, tapi mata pria itu kembali menatap ke arah Raja yang tampak kebingungan dengan ikan bakar di hadapannya.


"Mulai ... mau apa kau anak manja? Jangan bilang minta dipisahkan dari durinya," batin Bima menatap tajam ke arah Raja, cukup lama hidup bersama jelas dia paham gelagat Raja, terutama caranya menggerakkan alis.


"Raja kenapa belum makan? Ayo, ibu sendiri yang masak loh." Bu Seruni menatap bingung lantaran Raja masih diam saja.


Raja mengatupkan bibir, dia mengangguk pelan, tapi masih terlihat ragu. Agaknya Bu Seruni mengerti, sama seperti Yudha sewaktu kecil sudah jelas Raja tidak terbiasa makan ikan.


"Tidak bisa misahin durinya?"


"I-iya," jawab Raja pelan, Bima mulai was-was, dia bahkan belum melakukan apapun demi memastikan apa yang Raja mau.


"Sebentar, Lengkara tolong_"


Belum selesai Bu Seruni bicara, niat hati meminta bantuan agar Lengkara mendekatkan piring kosong di dekatnya. Ternyata, Bima salah sangka dan kini dengan terpaksa memisahkan ikan itu dari durinya.


"Ibu tadi mau minta tolong apa?" tanya Lengkara usai memerhatikan Bima lekat-lekat.


"Ambilkan piring itu, buat tempat dagingnya, Nak ... kasih ke Bima."


Detik itu juga Bima mendelik dan menghela napas panjang. Tindakannya terlalu tergesa, khawatir berlebihan hingga membuatnya susah sendiri. Percayalah, dia melakukan ini semua hanya karena salah paham, bukan berarti memanjakan Raja.


Sialnya, senyum manis Raja seakan tengah mengejek Bima dan hal itu membuat jiwa pendendam dalam diri Bima bangkit. Hingga, tatapan mata Raja semakin membuat keputusannya bulat untuk menginjak kaki Raja di bawah meja.


"Aku akan segera merubah senyum menyebalkanmu itu, Raja. Three ... two ... one!!"


"Kyaaaaaaaa Papa!!!"


Suasana ruang makan mendadak berubah kala jeritan Lengkara melengking hingga membuat pak Iwan yang sedang memotong rumput di taman belakang terhenti. Bima yang menjadi pelaku utamanya jelas saja panik, sementara Lengkara yang baru saja makan dua suap terpaksa terhenti dengan wajah yang memerah.

__ADS_1


.


.


- To Be Continued -


Hai aku ada rekomendasi novel hari ini, jan lupa mampir ya😗



Blurb


"Oke deal 10 juta!"


Dia adalah Aurora Desmita. pekerjaannya adalah menjadi mak comblang bagi para gadis yang mencintai sosok lelaki, tetapi tak berani mengungkapkan perasaannya. Membuat jalinan cinta mereka bersemi.


[Kak, adik kamu masuk rumah sakit lagi, dan butuh uang 200 juta untuk operasi.]


Aurora terdiam, gadis itu melihat saldo rekeningnya yang tinggal 50 juta rupiah. Saat ini pun ia belum mendapatkan klien. Hingga sebuah notif muncul di ponselnya.


[Saya ingin meminta bantuan kamu, agar saya bisa mendapatkan Daniel Gardapati]


Deg! Demi apapun ia tak pernah ingin berurusan dengan lelaki itu lagi! Ia sudah di tahap sangat membenci.


[Saya bayar kamu 5 kali lipat dari biasa yang kamu dapatkan. Dengan uang muka 200 juta.]


Aurora terdiam sejenak, lalu pesan sang mama kembali masuk ke ponselnya.


[Kak? Mama mohon!]


Dan Aurora tak punya pilihan lain.


[Saya kirim rekening saya sekarang!]


Persetan dengan lelaki bangsat itu! adiknya harus selamat!

__ADS_1


__ADS_2