
"Aih pakai ketahuan segala ... ini pasti karena Yudha banyak gerak."
Seakan memiliki trauma di masa lalu, Bima berlari begitu cepat dan masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu lebih dahulu. Jantungnya berdegub tak karu-karuan, Bima mengunci pintu kamar sebelum kemudian melompat ke atas tempat tidur tanpa pertimbangan hingga terjadilah tragedi yang menyebabkan Lengkara menjerit sekuat-kuatnya.
Kamar yang gelap membuat mata Lengkara tidak dapat melihat dengan jelas siapa yang datang padanya. Dalam keadaan terdesak, tangannya mengambil tindakan tak terduga dan mendaratkan pukulan tepat di wajah Bima.
Bugh
"Aaaarrrgghh!! Shiitt!!"
"Keluar!!" pekik Lengkara kembali mengambil ancang-ancang untuk memukul pria itu.
"Tu-tunggu, Ra!! Tenang, mas di sini."
Mendengar suara sang suami barulah Lengkara sedikit lebih tenang. Segera dia menghidupkan lampu demi memastikan keadaan. Benar saja, Lengkara menyaksikan Bima yang tertawa pelan seraya menahan sakit.
"Kamu ngapain? Loncat begitu aku pikir beruang," ucap Lengkara dengan mata yang kini membulat sempurna. Bagaimana dia tidak heran? Begitu jelas dia ingat Bima tidur di sampingnya usai makan malam, kini pria itu tiba-tiba menyelinap ke kamar persis hewan liar.
"Ada-ada saja, mana ada beruang setampan ini," ucapnya santai sebelum kemudian Lengkara panik lantaran hidung Bima mengucurkan darah segar.
"Mas tunggu!! Hidungmu berdarah, cepat sini."
Rasa kantuk Lengkara benar-benar pergi kala melihat darah yang mengalir dari hidung sang suami. Besar kemungkinan hal itu adalah akibat dari pukulannya, sebuah taktik yang dia dapat dari kedua kakaknya untuk melindungi diri dari serangan lawan.
Akibatnya, malam-malam begini dia harus kembali direpotkan akibat Bima berulah. Demi Tuhan bukan sengaja, andai dia tahu jika yang datang adalah Bima mana mungkin akan dia sambut dengan pukulan semacam itu.
Lengkara tidak mengerti apa yang terjadi, kenapa suaminya berlari-lari semacam itu. Yang jelas, saat ini Bima menjadi tanggung jawabnya. Padahal, keadaannya masih belum begitu kuat, tapi karena terkejut dan takut entah kenapa hanya dengan sekali pukul Bima sampai mengucurkan darah begitu.
"Kuat juga, belajar dari mana?" tanya Bima menatap lekat sang istri yang tengah memberikan penanganan pertama untuknya.
"Masih sakit?" Bukannya menjawab, Lengkara justru balik bertanya.
"Lumayan," jawab Bima lembut, setelah kejadian ini mungkin dia tidak akan pernah berani berulah di belakang istrinya.
"Maaf, aku tidak sengaja, Mas."
Lengkara menatapnya begitu lekat, wajah tampan Bima seolah menghipnotisnya malam ini. Tidak ada unsur kesengajaan, sungguh sangat disayangkan wajah setampan itu menjadi objek serangannya.
"Sudah jangan bersedih, ini sudah berhenti mimisannya."
__ADS_1
"Sayang." Bima mengerjap pelan, dia merasa telinganya salah dengar, tapi sepertinya tidak.
"Hm? Kenapa, Sayang?"
"Sayang banget seganteng ini aku pukul, aku benar-benar minta maaf, Mas ... atau mas mau balas? Boleh, sini, pukul balik tidak masalah."
Berharap apa? Bima salah sangka hingga dia meneguk salivanya pahit. Dia pikir Lengkara tengah memanggilnya dengan panggilan Sayang, tapi yang sebenarnya terjadi justru berbeda dan wanita itu tengah meratapi nasib wajah tampannya.
"Tidak, Sayang. Tidak perlu balas, kita tidur saja ya."
Bima mengajaknya tidur segera karena memang pria itu mulai mengantuk, tapi dari aroma-aroma yang mulai tercium dan mata Lengkara yang sesegar itu mana mungkin mereka akan tidur dalam waktu dekat.
Sudah pasti Lengkara akan mencari kegiatan dan tidur menjelang pagi. Bima seolah baru ingat, jika sang istri memang pantang diganggu ketika tidur karena akan sulit tidur lagi.
"Iya, kita tidur." Di luar dugaan Lengkara justru mengiyakan ucapan Bima.
Setelah mengetahui jika mereka tidak berdua lagi, sudah tentu Bima tidak bisa sesuka hati. Besar kemungkinan hal ini akan berlangsung lama. Selain karena mempertimbangkan saran dokter, Bina juga tidak tega jika harus menyentuhnya.
Terpaksa, Lengkara hanya bisa memandangi tangan Bima yang mengusap perutnya penuh perasaan. Kasih sang suami telah terbagi, bahkan setiap Lengkara tidur yang Bima ajak bicara adalah calon buah hatinya.
Lambat laun, usapan tangan Bima semakin pelan hingga akhirnya berhenti, sudah pasti dia mengantuk. Lengkara sontak menghadap sang suami, penasaran bagaimana Bima tidur saat ini. Tanpa niat mengganggu sedikitpun, Lengkara hanya ingin memandangi wajah lelah itu.
Cukup lama Lengkara memandanginya, bagaimana sikap Bima akhir-akhir ini membuat hatinya menghangat. Entah bagaimana perasaannya, tapi yang jelas Lengkara khawatir jika sang suami sebenarnya memendam rasa sakit.
.
.
Hari berganti cukup cepat, keesokan harinya Bima bangun kesiangan akibat misi gagal yang mereka lakukan semalam. Dia terbangun dalam kesendirian, tidak lagi ada Lengkara di sisinya.
"Lengkara ... kamu dimana?"
Dalam keadaan panik, Bima mengikuti kemana langkah kakinya. Masih dengan nyawa yang belum terkumpul semua, rambut acak-acakan dan bertelanjang dada dia mencari keberadaan sang istri di ruang makan.
Hal itu sudah menjadi kebiasaan Bima sejak dahulu. Jika kehilangan Lengkara di rumah pagi hari, sudah pasti sang istri ada di dapur ataupun ruang makan.
Benar saja, matanya yang berkabut menangkap senyum hangat sang istri menyambutnya dari jarak beberapa meter. Seolah lupa jika di rumah itu bukan hanya ada dirinya, Bima mengecup bibir sang istri tanpa aba-aba.
"Morning, Honey ... kamu wangi, kenapa mandinya tidak menungguku? Hm?"
__ADS_1
Lengkara tidak menjawab seperti biasa, dia tersenyum kaku seraya menarik pergelangan tangan Bima. Bima yang masih mengantuk berat benar-benar tidak sadar situasi, hingga dia matanya baru terbuka sempurna kala menyadari siapa yang duduk di samping papanya.
"Wah istri Anda benar-benar hebat, bubur ini sangat enak."
"Benarkah? Syukurlah jika suka, tidak sia-sia saya mencuri resep tukang buburnya tiga tahun lalu," jawab Papa Mikhail seketika membuat besannya tersedak, sementara Mama Zia hanya menggeleng pelan menghadapi candaan tak bermakna yang kerap sang suami keluarkan.
Mereka terlihat biasa saja, walau sebenarnya beberapa saat lalu sempat menganga dengan apa yang dilakukan Bima. Namun, di sisi lain pelaku utama tengah merasakan jiwanya terguncang dan malu yang luar biasa.
"Kau kenapa? Malu atau kenapa?"
"Ck, diam kau ... mereka tidak melihatku, 'kan?" tanya Bima berbisik pelan pada Yudha yang berada di sisinya.
"Menurutmu?"
"Ck, seharusnya kau menyapaku agar terjaga ... kau ini tidak peka sama sekali," gerutu Bima pelan, sementara Yudha kini hanya menghela napas kasar setelahnya.
"Apa kita perlu saling menyelamatkan kali ini? Ingat semalam kau meninggalkanku dan papa menjitak kepalaku asal kau tahu."
"Jangan adu nasib, kau tidak lihat hidungku? Semalam mimisan, paham?" Sama-sekali tidak sadar diri, lihatlah dia bahkan lupa yang justru adu nasib adalah dirinya sendiri.
"Kenapa bisa? Dipukul istrimu?"
"Kau tahu soal itu?"
"Hm, Lengkara memang begitu ... makanya jangan macam-macam, hari ini hidung besok mungkin senjatamu yang dia serang," bisik Yudha dengan wajah serius yang membuat Bima sontak merasakan ngilu dan menunduk seketika.
"Ah mana mungkin, dia sayang ak_"
"Nih, Mas susunya!!"
Gleg
Hanya sebuah suara dari gelas yang diletakkan di atas meja. Namun, entah kenapa Bima tiba-tiba meneguk salivanya pahit dan gugup seketika.
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1
Hai!! Aku lupa ini hari senin, jan lupa ritual vote, tabur bunga dan siram kopi buat mas Bimbim ya❣️
Yang paling utama dan utama, Likenya jangan dilupain kalau abis baca 😗