
"Hubungi aku dan katakan kau baik-baik saja, Yudha, akan kulakukan segalanya dan aku tidak akan bertindak semaunya, kumohon," gumam Bima pelan seraya menatap wajah Yudha di layar ponselnya.
Drrt Drrt
Yudha Calling
"Hah? Apa aku bermimpi?"
Belum kering bibir Bima, panggilan suara dari Yudha masuk hingga membuat mata pria itu membulat sempurna. Dia terkejut, seketika dia melepaskan Lengkara dari pelukannya. Masih dengan mata yang sama-sama membasah, keduanya saling pandang dan bingung secara bersamaan.
"Angkat, Mas."
"Ha-halo, Yudha?"
"Aku baru tiba di rumah, kau meneleponku banyak sekali, ada apa?"
"Kau baik-baik saja?" tanya Bima tanpa menjawab pertanyaan Yudha lebih dahulu.
"Ditanya balik nanya, mulai ketularan Leng_"
"Jawab saja pertanyaanku, Yudha!!" sentak Bima murka, dadanya naik turun dengan perasaan yang tidak bisa dia definisikan.
"Astaga manusia ini, kau gila?!Telingaku sakit ... biasa saja, 'kan, bisa?!!"
Baru beberapa saat lalu dunianya seakan gelap lantaran takut kehilangan Yudha. Kini, dengan jelas pria itu kembali menguji kesabarannya. Tanpa menjawab, Bima kini menghempaskan tubuhnya di sofa seraya dengan napas yang kini begitu lega.
Yudha memanggilnya berkali-kali, sementara Bima masih berusaha memahami keadaan. Darahnya seakan tumpah beberapa saat lalu, demi Tuhan kali ini dia bahkan ingin memeluk Yudha sekuat tenaga.
"Aku tutup teleponnya, ngantuk sekali ... sudah lama tidak tidur siang, Bim." Mungkin Yudha belum mengetahui kabar itu, dia yang menguap tanpa dosa di seberang sana sudah menjadi jawaban atas pertanyaan Bima.
"Hm, tidurlah." Tidak ingin memperpanjang masalah, Bima mengiyakan ucapan Yudha. Tidak perlu dia bertanya panjang lebar, kenyataan bahwa Yudha baik-baik saja sudah lebih dari cukup.
"Bima tunggu!!" Baru saja Bima hendak mengakhiri panggilan, Bu Seruni menghentikan gerakannya.
"Kenapa, Bu?" tanya Bima lembut, sang ibu tampak kikuk dan menyimpan sesuatu dalam hatinya.
__ADS_1
"Mereka baik-baik saja, 'kan? Tolong tanyakan bagaimana papamu, Bim," pinta Bu Seruni seketika membuat Bima tersenyum simpul, dia menatap ke arah sang istri yang juga mengerti arti tatapannya.
"Bim, kalian kenapa sebenarnya? Tolong jawab aku!!" Yudha tampak mendesaknya, mungkin karena dalam hal ini hanya dia yang meraba dan tidak mengerti situasi.
"Kau bersama papa, Yudha?" tanya Bima masih normal-normal saja, tidak ada kecurigaan sama sekali yang tertangkap di mata Seruni.
"Iya, Papa di sampingku, kenapa memangnya?"
"Katakan pada papa, Ibu ingin bicara," ujar Bima kemudian memberikan ponselnya pada sang ibu sebelum kemudian menjauh beberapa langkah.
"Bim? Apa maksudmu?"
"Akan lebih baik ibu yang bicara," ucapnya mengedipkan mata, lagi dan lagi Lengkara yang menjadi saksi hanya tertawa kecil sebelum kemudian mengikuti langkah Bima yang terus berjalan mundur.
.
.
"Jahil banget, nanti kualat tahu rasa," celetuk Lengkara seraya menggeleng pelan, ada-ada saja ulahnya.
"Mas hati-hati di belakangmu."
"Santai, rumah ini dan seisinya sudah di luar kepala, Mas, Ra jadi tidak perlu khaawaarrggghh!!"
Prank
"Tuhkan kubilang juga apa?!"
Seseorang pernah berkata, bahwa lidah Lengkara terkadang berbisa. Beberapa kali kerap terbukti dan biasanya tidak pernah salah. Dalam hitungan detik, ucapan Lengkara menjadi kenyataan dan kini Bima pasrah usai punggungnya menabrak guci yang berfungsi sebagai hiasan di dekat tangga hingga pecah menjadi beberapa bagian.
Tidak hanya itu, bagian belakang kepalanya membentur tangga dan jelas saja sakit. Lengkara panik dan menghampiri suaminya segera, dari raut wajahnya dapat disimpulkan jika tidak sedang bercanda.
"Sejak kapan benda itu ada di sana?!" Bukannya sadar diri, dia justru menyalahkan benda mati yang merupakan hadiah pernikahan dari mertuanya. Iya, Bima lupa soal ini hingga berani bicara lancang di hadapan Lengkara.
"Memang dari lama di sana, mata kamu saja yang tidak digunakan dengan baik," balas Lengkara sebenarnya ingin marah, tapi raut wajah Bima yang menahan sakit benar-benar membuatnya tak tega.
__ADS_1
"Oh iya? Masa iya?"
Masih sama, sakit di kepalanya membuat Bima benar-benar menggila. Dia meringis dan terus menggerutu seakan dunia terlalu jahat padanya, sementara Lengkara yang kini mengusap pelan kepalanya tengah berusaha apa mungkin kepala Bima mengucurkan darah.
"Sakit?" tanya Lengkara sedikit konyol, sudah jelas sangat sakit dan dia masih saja bertanya.
"Tentu saja, ah sungguh menyiksa ... menyebalkan sekali, orang gila mana yang meletakkan benda itu di sana?" tanya Bima dengan mata terpejam lantaran sakit yang dia rasa cukup serius.
"Jangan menyalahkan orang lain, salah mas sendiri kenapa persis anak kecil begitu?"
"Memang salah yang meletakkannya, dan juga sejak kapan kita punya guci ini? Seingatku kita berdua tidak pernah beli," ucapnya menerima uluran tangan Lengkara, tidakkah dia sadari jika sejak tadi wajah sang istri sudah berubah.
"Sepertinya aku harus menegur pak Iwan, pasti dia yang berinisiatif membeli benda itu ... ck, seharusnya dia bertanya lebih dulu, aku suka atau tidak, bahaya atau tidak dan lainnya."
"Tidak perlu, nanti aku katakan saja pada papa kalau kamu tidak suka hadiahnya," ucap Lengkara datar tanpa menatap wajah sang suami yang kini terpaku dan merasakan dunianya tengah terhenti.
"Heh? Ma-maksudnya gimana? Itu hadiah dari Papa?"
"Iya, papa mendapatkannya langsung dari negeri tirai bambu dan harganya cukup untuk beli tiga mobil sport, paham kamu?"
Gleg
Hari ini dunia Bima benar-benar jungkir balik, dalam waktu sekejab masalah seakan beruntun menyerangnya hingga Bima merasa tidak punya waktu untuk menghela napas lega.
"Mahal ya berarti?" tanya Bima seraya tersenyum kaku dan menatap pecahan guci antik yang memang sangat cantik itu.
"Lumayan, mas pikirkan saja gimana jawabnya kalau Papa nanya gucinya dimana nanti."
.
.
- To Be Continued -
Hai ... selamat hari raya idul Adha bagi yang merayakan🤗 Mohon maaf lahir dan batin ya❣️
__ADS_1