Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 154 - Kamu Duniaku


__ADS_3

Hanya karena mochi durian yang merupakan ide dari tuan besar Mikhail Abercio, Bima justru terkena imbasnya. Istrinya benar-benar sedih, bahkan diam saja di tepian tempat tidur seraya menggulir media sosial sebagai pelarian terbaiknya.


Dia tidak minta dibujuk oleh Bima, tidak pula marah pada sang suami. Walau sebenarnya Bima juga keterlaluan yang sempat menertawakan dirinya lantaran dianggap lucu, Lengkara tidak marah ataupun mengusirnya kala Bima mendekat.


Kendati demikian, diamnya Lengkara tetap saja cukup menyiksa bagi Bima. Sudah berbagai cara Bima lakukan, bahkan janji akan membelikan durian beserta kebunnya sekalian juga sudah dan Lengkara tetap enggan.


"Sayang, kapan selesai marahnya? Bibir kamu tidak pegal gitu terus?" tanya Bima merebut teleponnya karena sejak tadi benda itu memamg membuat perhatian Lengkara terbagi.


"Sudahlah, Mas juga ada di pihak papa bukan dipihakku," ketusnya kini keluar, Bima yang tiba-tiba mengusik ketenangannya seolah membuat kemarahan pria itu kian menjadi saja.


"Bukan begitu, andai Mas tahu papa akan jahil pasti tidak akan Mas izinkan, Ra." Terlihat pemberani, tapi andai benar terjadi mana mungkin dia kuasa menghentikan niat pria itu.


"Halah pret!! Mana mungkin berani." Luar biasa sekali istrinya, padahal hal itu hanya sempat terlintas dalam benak Bima, belum pernah dia utarakan.


"Sudah ya, Sayang ... marahnya cukup sampai di sini, Mas punya hadiah buat kamu, mau?"


"Hadiah?" tanya Lengkara dengan mata yang tampak berbinar kini, semudah itu memang menggoyahkan pertahanan Lengkara.


"Hm, mas yakin kamu pasti suka," ucap Bima tersenyum simpul, kali ini mana mungkin tebakannya gagal dan jelas Lengkara akan tersenyum setelah ini.


"Mana?"


"Tutup matamu," titah Bima kemudian, Lengkara yang mulai tergoda dengan kata-kata hadiah itu sontak menuruti apa kata Bima.


"Jangan lama-lama."


"Tidak, sebentar kok," tutur Bima kemudian, kejutan ini agaknya benar-benar serius. Namun, sebelum dia benar-benar pada tahap seriusnya, Bima sengaja mengecup bibir sang istri tanpa aba-aba.

__ADS_1


"Ih!! Aku lagi serius ya, Mas!! Jangan buat aku naik darah," kesal Lengkara kemudian, kali pertama dia marah lantaran Bima yang tidak bisa serius sedikit saja.


"Hahaha ulang, tutup matanya lagi ... kali ini mas serius, janji."


"Langsung saja, aku trauma," jawab Lengkara sekenanya dan kembali membuat Bima tertawa sumbang.


Kali ini Bima serius, walau tadinya sempat berdebat dengan sang ibu, tapi kini dia menunjukkan kalung berliontinkan permata yang berhasil membuat Lengkara terpana. Dia mendongak, menatap lekat manik indah Bima yang kini juga begitu serius menatapnya.


"Kalung ini, bukannya sudah langka? Aku pernah mencarinya, tapi tidak ada satupun yang menjual kalung dengan model yang sama sesuai dengan keinginanku," ucap Lengkara tertegun, dia masih terpana dengan benda yang berhasil menghipnotisnya itu.


"Sudah mas katakan, di dunia ini tidak ada yang tidak bisa mas berikan padamu, Ra ... bahkan tanpa kamu meminta, mas tahu apa maumu," papar Bima tersenyum hangat ke arahnya, padahal kalung itu baru juga dia dapatkan beberapa waktu lalu dari sang ibu.


"Kamu dapat dari mana, Mas?" tanya Lengkara masih terus menatap kagum benda itu, bagaimana bisa keinginannya beberapa tahun silam kini bisa Bima kabulkan dengan begitu mudahnya.


"Hm? Ada lah, kamu tidak perlu tahu bagaimana mas mendapatkannya, Ra, yang jelas apapun itu akan mas usahakan."


Mungkin beberapa orang menilai dia gampangan, terlalu mudah memaafkan. Hanya saja, terkhusus untuk Bima dia memang tidak bisa marah sekalipun kesalnya luar biasa. Entah karena tiga tahun terpisah, atau karena cinta yang kian lama kian bertambah.


Beberapa waktu lalu dia memang ingin menghantam kepala Bima dengan gagang sapu, tapi kini hanya dengan sebuah kalung dia lupa soal itu. Jelas saja sikap Lengkara yang begini benar-benar menguntungkan Bima, istrinya tidak pembangkang dan terasa berbeda dari Lengkara yang dia kenal ketika awal-awal pernikahan dimana dia menggantikan Yudha.


"Huft, untung saja bisa disogok."


Dalam senyum hangat, tersimpan luapan batin yang penuh kelegaan. Bima menyibak rambut sang istri, memakaikan kalung yang dahulu mungkin memang dia inginkan sejak bayi seperti ungkapan sang ibu.


Tidak sia-sia dia merayu Papa Atma beberapa saat lalu demi memastikan kalung itu memang boleh dia miliki, mana mungkin Bima nekat memberikannya jika hanya mendapat izin dari ibunya saja.


"Wah, cantik sekali ... terima kasih, Mas Bima."

__ADS_1


Lengkara sebahagia itu, bahkan beberapa kali memastikan penampilannya di depan cermin. Dia gemas sendiri, padahal bukan hadiah pertama kali yang pernah Bima berikan.


"Sama-sama, Istriku, jangan sedih lagi setelah ini ya." Bima mencubit pelan wajah Lengkara yang kini semakin tebal. Menggemaskan sekali, persis boneka mampang.


"Iya, janji tidak akan sedih lagi." Dia tersenyum hingga matanya kini hanya segaris, percayalah saat itu Bima merasa begitu berharga.


Senyum Lengkara yang selalu dia perlihatkan adalah tujuan hidup Bima bertahun-tahun ke depan. Sampai akhir, Lengkara adalah dunianya. Takkan pernah terganti, sekalipun putaran matahari sudah berhenti.


Pria itu memeluk sang istri begitu lembut, perut yang kini semakin membesar menandakan keluarga sempurna yang Bima cita-citakan akan terwujud. Tidak akan lama, hanya beberapa bulan lagi dan Bima akan sangat sabar menunggunya.


"Oh iya, Mas, aku lupa bilang." Lengkara memecah suasana penuh kehangatan ini.


"Hm? Bilang apa, Sayang?"


"Malam kemarin papa tanya, kenapa gucinya sedikit berbeda ... Mas bilang imitasinya sama persis? Kenapa bisa beda begitu?" tanya Lengkara yang membuat detak jantung Bima tidak aman sama sekali.


"Hah? Se-serius kamu, Ra?"


"Iya, aku serius."


"Terus kita harus gimana, Ra? Mas takut kalau jujur!! Mau beli aslinya mubazir ... apa kita jual tanah papa saja ya?"


"Heh?!"


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2