
Kata orang, seorang pria akan dipertemukan dengan satu wanita yang benar-benar dia cintai dalam hidupnya. Dan Bima sudah memutuskan cintanya untuk siapa, dia lah Lengkara Alexandria.
Sosok wanita lemah lembut yang semakin hari semakin pemarah bahkan sempat masuk rumah sakit akibat tensinya mendadak naik. Bukan karena anaknya nakal, tapi sang suami yang kerap cari perkara dan hampir membuat Lengkara gila setiap harinya.
Namun, berkat kejadian itu pula Bima mengerti jika perannya bukan hanya sebagai seorang papa, tapi juga suami. Hingga kedua putranya berusia satu tahun, Bima hanya fokus menjadi seorang papa yang sempurna, sampai lupa jika dirinya telah menjadi sosok suami yang menguji kesabaran istrinya.
Selama satu minggu, Bima menemani istrinya di rumah sakit. Bukan hanya sebagai bentuk tanggung jawab, tapi sebagai bentuk penyesalan paling nyata akibat membuat istrinya sampai perlu dirawat di rumah sakit.
Jujur saja, Lengkara terkadang merindukan sang suami sebagai Bima yang kerap memanjakannya. Selama ini memang Bima terkadang sampai lupa pada sang istri karena terlalu bahagia memiliki Dewantara dan Dewangga.
Lengkara hanya kebagian merapikan handuk dan pakaian kotornya, sementara bercanda lebih fokus pada sang buah hati dan lupa jika Lengkara juga butuh kehangatan semacam itu.
"Kuat jalan sendiri? Mas gendong saja ya," tutur Bima secara tiba-tiba ketika mereka tiba di depan kediaman utama. Sontak Lengkara memanfaatkan kesempatan dan menerima tawaran Bima meski tubuhnya mungkin akan terasa lebih berat.
"Aku berat, Mas?" tanya Lengkara menatap wajah Bima yang tampak susah payah mengatur napas kala menaiki anak tangga.
"Hm? Tidak, biasa saja."
Sedikit berbohong tidak mengapa, jika jujur Bima takut matanya dicolok tanpa aba-aba. Lengkara tidak seberat itu sebenarnya, tapi memang karena harus menaiki anak tangga mungkin bebannya bertambah dua kali lipat dan cukup menguras tenaga.
Lengkara sadar sebenarnya, tanpa perlu dipertegas dia mengerti jika Bima kesulitan. Pasca melahirkan berat badannya memang semakin bertambah seiring dengan perkembangan kedua putranya. Bahkan, di beberapa kesempatan Lengkara tidak mau duduk di samping Ameera lantaran tidak percaya diri.
Maklum saja, Ameera adalah aktris terkenal yang begitu menjaga penampilan. Mana bisa disamakan dengan Lengkara dengan nafsu makan tinggi dan tuntutan nutrisi untuk kedua putranya.
Beruntung saja, Bima sama sekali tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Baginya Lengkara tetap cantik, mata pria itu sudah terpaku untuk Lengkara dan tidak memiliki ketertarikan untuk menatap wanita lain.
__ADS_1
Terbukti hari ini, Bima tetap memuji sang istri walau Yudha kerap mengejeknya. Setelah tiba di kamar, Bima tidak beranjak meninggalkan Lengkara seperti biasa, melainkan turut berbaring di sisi sang istri yang membuat Lengkara merengkuh tubuhnya kuat-kuat.
"Haha kenapa tiba-tiba?" tanya Bima tertawa pelan, gerakan kilat sang istri yang memeluknya seolah takut ditinggal pergi membuat Bima tergelitik dan tak kuasa menahan tawa.
"Kangen," jawab Lengkara sejujur-jujurnya.
Satu minggu di rumah sakit seolah tidak menuntaskan kerinduannya. Padahal, selama ini Bima tidak mengabaikannya, hanya saja memang waktu untuk Lengkara sangat sedikit dan Bima akui hal itu memang salah.
"Kangen?" tanya Bima memastikan, perlahan dia merapikan rambut yang menutupi wajah Lengkara.
"Iya, jadi pengen sakit lagi," jawabnya kemudian hingga Bima mencubit bibirnya yang terkesan asal bicara.
"Apa Mas benar-benar kurang perhatian, Ra?"
"Tidak juga, aku saja yang kurang puas," jawab Lengkara kemudian menenggelamkan wajahnya ke dada bidang sang suami.
"Adil soal apa?"
"Waktu, setelah dipikir-pikir memang mas yang kurang perhatian sampai kamu sakit begini," jawab Bima seraya menghela napas panjang.
"Bukan, aku sakit bukan karena itu ... mungkin karena pola makanku yang tidak sehat, kata dokter Farhan begitu."
"Tapi kata kak Mikha kamu darah tinggi karena marah-marah dan kurang diperhatikan suami, aku lebih percaya kak Mikha dibandingkan dokter itu," jawab Bima tegas, di antara keluarga besar mungkin Bima satu-satunya pasien yang percaya pada dokter Mikhayla.
"Masa darah tinggi? Seperti papa saja." Lengkara mencebik, jujur saja dia malu karena sejak kemarin Zean sudah mengejeknya jompo lantaran keluhan sakitnya persis Papa Mikhail.
__ADS_1
"Memang begitu, makanya mas diceramahi panjang lebar sama kak Sean kemarin," jawab Bima mengulas senyum, semakin dia tatap wajah Lengkara semakin dia mengerti ucapan kakak iparnya kemarin tidak ada yang salah.
"Kak Sean bilang apa memangnya?" tanya Lengkara penasaran, agaknya ketika semua mengejek hanya Sean yang menunjukkan kasih sayang dengan cara yang berbeda.
"Rahasia, ini pembicaraan antar laki-laki."
"Ih, kebiasaan ... anak-anak mana, Mas? Panggilin, aku kangen juga," pinta Lengkara pelan, secepat itu rindunya usai dan kini sudah berganti pada dua penguasa kecil itu.
"Ada di rumah papa, nanti sore mas jemput ... lusa kita jalan-jalan, mau kan?"
"Mau!! Kemana?! Sekarang saja, Mas." Detik itu Bima bicara, detik itu pula dia melepaskan pelukan dan kini beranjak seketika. Sama sekali tidak terlihat jika dia baru saja pulang dari rumah sakit.
"Sabar, jadwal keberangkatan pesawatnya lusa ... sekarang istirahat dulu," jelas Bima yang seketika membuat mata Lengkara berbinar.
"Pesawat?!"
"Iya, kenapa memangnya?"
"Kita ke luar kota dong?" Bagaimana dia tidak bahagia, setelah bosan di rumah sakit tiba-tiba mengatakan hal itu, jelas saja mendadak sehat wal-afiat. Hingga, anggukan Bima membuat Kara menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur lantaran terlalu bahagia.
"Ra, Lengkara jang_ euughh!!" Bima merasakan sakit kala sang istri mendarat sempurna di atas tubuhnya.
"Hihi maaf."
.
__ADS_1
.
🌹