
Hanya karena patah hatinya seorang Jana, Bima benar-benar terjebak dalam masalah. Hampir dua jam berlalu dan Lengkara masih diam dengan wajah yang dipenuhi potongan timun. Dia beralasan cara itu dapat menunda penuaan dini, entah benar atau tidak Bima juga tidak mengerti.
"Renjana bukan mantan, Ra ... aku mengenalnya sejak kecil hingga papa menjodohkan kami ketika dewasa, tapi sebelum itu terjadi mas sudah memutuskan memilihmu."
Jika menunggu Lengkara yang bertanya maka tidak akan pernah. Cemburunya wanita ini memang berbeda, dia tidak meledak-ledak dan membuat telinga pasangannya sakit. Namun, percayalah cara yang begini justru membuat Bima mati kutu dan khawatir bertindak karena memang semua seakan salah.
"Hanya teman kecil, itu pun tidak dekat karena hanya sampai kelas 6 SD ... demi Tuhan mas tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun selain kamu, Ra."
Masih diam, sama sekali tidak ada tanggapan yang membuat Bima semakin bingung. Pria itu mengatupkan bibir lantaran mulai merasa kehabisan cara untuk meluluhkan hati istrinya.
Hingga, kesabaran Bima benar-benar habis dan mulai menyerah. Dia tidak sesabar itu, ditambah lagi semua ini bukan murni salahnya, melainkan salah Renjana jelas saja dia murka.
"Kara? Kamu benar-benar marah? Apa tidak deng_ heum? Tidur kah?" Bima mengerutkan dahi, pria itu memastikan mata sang istri terpejam karena tidur atau karena tengah memanjakan diri.
Bima mendekatkan wajahnya, memastikan bagaimana deru napas Lengkara yang kemungkinan besar memang tengah tertidur. Irisan timun yang Lengkara gunakan sebagai penutup mata sudah terlanjur Bima lempar entah kemana.
"Benar, dia tidur ... Lengkara mana mungkin mengabaikan aku," tuturnya tersenyum tipis, mengetahui jika sang istri sebenarnya tidur sontak rasa percaya diri Bima melambung seketika.
"Balikin, Mas."
"Hah?"
Baru saja sedikit lebih tenang, suara serak Lengkara membuat pria itu meneguk salivanya susah payah, lagi dan lagi Bima terlalu percaya diri. Hendak bagaimana dirinya kini, mana mungkin dia memungut kembali irisan timun yang ternyata sudah menempel di layar televisi.
"Kotor, Sayang, tadi mas lempar," jawabnya jujur tanpa ditutup-tutupi.
"Lempar? Kenapa dilempar?" tanya Lengkara yang kini bangkit dan duduk di hadapan Bima.
__ADS_1
"Iya, mas kesal karena kamu mengabaikanku sejak tadi."
Wajah teduh itu Lengkara tatap begitu lekat. Sebenarnya dugaan Bima memang benar, Lengkara sengaja mengabaikan sang suami dalam rangka memberikannya sedikit hukuman. Hanya sedikit, sebagai wanita perasaan itu agaknya wajar saja.
Terlebih lagi, Renjana yang dia ketahui sempat menjadi calon istri suaminya itu merengek manja seakan tengah bicara pada pasangan. Hatinya tidak sekuat baja, Lengkara tetap wanita biasa yang bisa merasakan cemburu buta. Jujur saja, walau dia bersikap santai ketika Bima pulang, tapi hatinya remuk beberapa waktu lalu
"Aku tidak mengabaikanmu," tutur Lengkara jelas saja berbohong, dia tidak ingin membuat hati Bima terluka, tapi fakta jika dia sedikit sakit juga tidak dapat dibohongi.
"Bohong, buktinya kamu diam saja sejak tadi."
Lengkara menghela napas pelan, irisan timun di wajahnya perlahan jatuh satu persatu. Sebagai wanita yang pernah menjalin hubungan dengan banyak pria, dia percaya bahwa kaum adam akan semena-mena pada wanita lemah dan terlihat jelas takut kehilangan. Untuk itu sebesar apapun ketakutan dalam dirinya, Lengkara berusaha memendam semua itu.
"Kalau aku banyak bicara nanti nutrisi timunnya tidak masuk secara sempurna." Pintar sekali dia mengelak, tapi Lengkara yang tiba-tiba menghindari tatapannya membuat Bima bisa menarik kesimpulan.
Bima meraih dagu sang istri demi bisa menatapnya lebih lama, yang Bima ketahui mata tidak akan pernah bisa berbohong. "Bisa berikan alasan yang lebih masuk akal lagi, Lengkara? Aneh sekali jawabanmu," ucap Bima tanpa melepaskan Lengkara dari tatapannya.
"Selembut apapun dia bicara, mas tidak akan luluh ataupun menaruh simpati. Percayalah, di dunia ini hanya kamu wanita yang mendapatkan mas dengan versi berbeda, Lengkara."
"Heh?" Lengkara bingung, padahal dia hanya membantin dan Bima justru memberikan jawaban tepat sekali.
"Lain kali aku akan lebih arogan, jika perlu pura-pura tuli sekalian."
Tanpa perlu berusaha mencari materi agar terdengar lucu. Ucapan semacam itu seketika membuat senyum sang istri mengembang. Selalu, Bima memiliki 1001 cara untuk membuat sang istri lemah dan tidak akan marah dalam waktu yang lama.
Syukurlah, istrinya tidak membuat semua terlalu rumit. Bima sedikit lebih tenang dan kini tidur di pangkuan sang istri. Ternyata, merayu seorang wanita tidak perlu dengan janji manis, cukup jujur dan akui saja kebenarannya.
"Tadi mas tinggal gimana? Dia tidak nakal?" tanya Bima kini memperbaiki posisi agar dapat berhadapan dengan calon buah hatinya.
__ADS_1
"Nakal? Masih kecil begini belum bisa menendang, pertanyaan kamu aneh banget sih, Mas." Mereka sedikit berselisih paham soal ini, nakal versi Bima tidak sama seperti yang Lengkara pikirkan.
"Mual, pusing atau yang lainnya, Ra."
"Oh, tidak, Mas ... cuma agak capek dikit," jawab Lengkara seraya memainkan rambut Bima yang mulai memanjang di bagian depan.
"Capek? Capek kenapa?"
"Entahlah, mungkin karena sumber energinya pergi ke bandara jadi capek," jawab Lengkara santai sekali, sebuah gombalan sederhana yang berhasil membuat Bima salah tingkah hingga menenggelamkan wajah ke perut sang istri.
"Aaa sakit!! Jangan digigit," sentak Lengkara terperanjat kaget lantaran Bima menggigit perutnya tanpa terduga, sebuah pelampiasan yang cukup merugikan.
"Haha masa sakit? Padahal gigitnya pakai perasaan, Sayang," ujar Bima mendongak dan menangkap kekesalan di wajah sang istri.
"Tetap saja sakit, kamu gigitnya pakai gigi mana ada pakai perasaan," kesal Lengkara yang kembali membuat Bima tertawa pelan.
"Sayang, Yudha kenapa belum telpon juga ya?" Setelah tertawa sejak tadi, kini Bima mendadak memikirkan Yudha.
"Hm? Belum waktunya mungkin, tunggu saja, Mas."
"Tapi ini sudah hampir dua jam, Ra, apa mungkin kunyuk itu lupa mengabariku?"
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1