Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 91 - Harta Tak Ternilai


__ADS_3

Sudah telanjur basah, Lengkara memilih mandi sekalian. Tidak masalah, memang Yudha pemenangnya dan semua yang terjadi murni akibat kesombongannya. Betul kata Yudha, dia pamer dan terlalu berbangga lebih dahulu hingga lupa bahwa lidah pria itu pahit, apa yang dia ucapkan kerap kali terjadi di masa depan.


Hanya demi memperbaiki ranjang itu, Yudha bahkan rela mengorbankan waktu. Pria berjas hitam yang tadi terlihat rapi kini berganti layaknya pengrajin kayu yang tengah berusaha memberikan pelayanan terbaik untuk pelanggannya.


Melihat Yudha bergerak, Bima jelas tidak diam saja. Ya, meski pekerjaannya hanya membantu megambilkan paku dan memegang palu kala tidak Yudha gunakan. Seperti yang Yudha ketahui, Bima memang serba bisa, tapi bukan berarti bisa segalanya.


Tidak ada yang sia-sia bagi Yudha, selagi bisa diperbaiki maka tidak salah jika diperjuangkan lebih dahulu. Meski sempat terjadi drama palu itu menimpa kaki Bima lebih dahulu, tapi bukan berarti rencana mereka berubah.


Disaksikan Bu Runi dan juga Lengkara, kedua pria itu tampak akur hingga ranjang tersebut kembali dapat digunakan dengan layak. Bima menghela napas lega kala menatap hasil kerjanya, maklum saja bagi Bima hal semacam ini cukup aneh dan tidak biasa.


"Bisa bukan? Gampang sekali menyerah ... selagi bisa diperbaiki usaha, tidak selamanya beli baru jadi solusi."


Dia mulai cerewet, sang presdir yang sudah ditempah dan terbiasa hidup susah itu tengah memberikan petuah pada putra dari Atmadjaya Aksa yang terbiasa bergelimang harta. Dia menata kembali alat-alat yang tadinya mereka gunakan sekaligus turut merapikan sprei yang Bima pasang, baik sekali dirinya.


"Atur keuangan sebaik-baiknya, masih banyak yang harus kau tata ... ingat, kau ada di titik nol saat ini, Bima."


"Iya," jawab Bima pelan, hampir tidak terdengar.


"Dengar tidak?"


"Iya dengar," sahut Bima menatap ke arah Yudha yang kini kembali merapikan pakaiannya, selalu saja jika sudah baik-baik saja maka jiwa keibuan dalam diri Yudha muncul begitu saja.


"Jangan iya-iya saja, jangan lupa juga istrimu anak siapa? Dia putri keluarga Megantara yang terbiasa hidup bahagia, kau tidak pandai mengambil langkah hancur, Bima."

__ADS_1


"Astaga iya, Yudha!! Aku dengar."


Sejak kecil dia terbiasa diatur ini dan itu oleh papanya hingga beranjak dewasa. Kini, setelah Papa Atma tidak lagi banyak bicara, Yudha yang menggantikannya. Beruntung saja dia memiliki istri yang tidak begitu banyak protes, lebih kerap mempercayakan segalanya jika memang tengah terjebak masalah.


Selesai dengan tugasnya, Yudha tidak diizinkan segera kembali. Sudah jelas Bu Runi khawatir dia terlalu lelah, kebetulan pisang goreng yang kemarin sempat Yudha minta baru bisa dipenuhi hari ini.


"Aw pisangnya bentuk kipas ... siapa yang motong, Bu? Pasti Lengkara," tebak Yudha tanpa sadar jika hal itu membuat Bima menatap ke arahnya.


"Kenapa bisa tahu?"


"Hah? Nebak-nebak saja ... wanita kan begitu biasanya, lebay," jawab Yudha asal sebelum kemudian menyantap pisang goreng panas yang dia yakini hasil tangan sang mantan.


"Bagus begini kau bilang lebay, jangan mencela hasil kerja istriku, Yudha."


"Jelek, bagus juga hasil tangan ibu ... lebih ikhlas dan motongnya pasti tidak pakai dendam," ucap Yudha kemudian, mengingat kemarin Lengkara sempat menarik rambutnya hingga rontok dan dia yakin betul hari ini dia lebih marah lagi.


Tidak berselang lama, Lengkara yang sejak tadi mendengar samar pembicaraan suami dan kakak iparnya ini muncul dengan dua cangkir teh hangat di sana. Sedikit bergetar, entah karena teh itu terlalu panas atau karena kehadiran Yudha di sana.


"Yaaah, Ra kenapa teh sih? Mas sukanya susu."


"Adanya teh, jangan banyak protes, Mas," sahut Lengkara kesal sendiri dan ingin rasanya dia mendaratka tatakan gelas itu tepat di kepala Yudha.


Dia sudah berbaik hati dengan terjun ke dapur pagi ini, tidak hanya menyiapkan cemilan, tapi juga minumannya. Dia hanya menjawab seadanya, di dapur memang hanya ada teh dan kopi karena belum sempat belanja.

__ADS_1


"Siapa yang protes? Cuma nanya!!"


"Sama saja, aku sudah susah bikinin sampai tanganku kena air panas bisa-bisanya protes, kalau mau susu tuh sapi tetangga ada."


Mereka kembali bertikai lagi, dan kali ini benar-benar natural. Beruntung saja Bima sedikit bijaksana dan meminta sang istri untuk duduk di sisinya. Dahulu Bima sempat mendengar curhatan Yudha tentang kekasihnya yang kerap kali naik darah.


Awalnya Bima tidak begitu percaya jika hubungan semacam itu ada. Namun, kini dengan jelas dia diperlihatkan bukti secara nyata dan baru dia bisa percaya sepenuhnya. Baru beberapa jam bertemu, suasana seakan kembali memanas seakan perpaduan minyak dan kobaran api.


.


.


Tanpa mereka sadari, jika dari kejauhan mereka terlihat amat manis. Bahkan seseorang yang sejak tadi memantau rumah itu sempat tersenyum tipis, kedua putranya begitu lepas jika di luar pengawasannya. Tanpa dia sadari, air mata yang dahulu haram menetes kini tanpa aba-aba jatuh hingga membasahi tangannya yang mulai menua.


"Apa Anda ingin menghampirinya, Tuan?"


"Tidak, Chan di sini saja," tutur pria paruh baya itu pelan seraya mengusap air matanya segera, malu karena tertangkap basah pria yang merupakan saksi separuh hidupnya.


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2