
Pasca melarikan diri hampir seminggu, hari ini Bima dan Lengkara kembali ke ibu kota. Sudah pasti salah-satu tujuan yang tidak boleh dilupakan mereka setelah tiba di Jakarta adalah kediaman Papa Mikhail. Ketika tiba, keduanya disambut keluarga kecil sang kakak dari Bandung, Sean.
Sebuah kebetulan yang sangat tidak sengaja, tidak sia-sia Lengkara mendesak Bima untuk pulang hari ini. Padahal, mereka sama sekali tidak mengabari, hanya Ameera saja yang sempat memastikan kapan pulang tadi pagi, itu juga hanya sekadar bertanya.
“Papamu bagaimana? Sudah lebih baik?” tanya Papa Mikhail usai Bima mencium punggung tangannya.
“Baik, Pa.”
Tidak peduli apa yang terjadi, keluarga besar istrinya sama sekali tidak mengusik Bima terkait masalah itu. Meski sama-sama tahu, tapi ketika sedang bersama mereka akan menghindari pertanyaan terkait isu tersebut.
Bukan karena tidak peduli, hanya saja menurut mereka hal semacam itu sangat tidak perlu dipertanyakan. Mereka benar-benar memahami situasi hati Bima, meski dia tidak bicara sejujurnya, besar kemungkinan pria itu sebenarnya menangung malu.
Usai berbincang sedikit dengan papa mertuanya, Bima mencari keberadaan sang istri. Sudah pasti wanita itu akan bergemul dengan keponakan yang kini tengah lucu-lucunya, Syauqi.
Sungguh, kehangantan di rumah ini sama sekali tidak dia temukan di tempat lain. Ya, walau sebenarnya berisik bahkan kadang membuat telinga sakit, tapi percayalah Bima menyukai paduan jerit tangis dan gelak tawa yang berasal dari para keponakannya.
“Hai, Bim … baru pulang?” tanya Kak
Zean yang baru saja muncul dari ruang keluarga.
“Iya, Kak, Kara mana?”
“Tadi di belakang, susul sana ada perusak hubungan orang!” bisik Zean sembari mengedipkan mata dan berhasil membuat Bima meneguk salivanya pahit.
Sudah cukup dia naik darah karena Raja, kini ada lagi yang lebih parah dari seorang penggoda? Yang benar saja, masih terlalu lelah untuk bertengkar. Bima bergegas meninggalkan Zean lantaran penasaran siapa seseorang yang dimaksud.
Jantung Bima kembali tak karu-karuan, terlebih lagi di saat suara Syauqi, putra Kak Sean yang paling kecil sudah terdengar. Kedatangan Sean kali ini memang sedikit aneh, mereka tidak membawa pengasuh seperti biasa.
Namun, tibanya di taman belakang Bima tidak menemukan Lengkara, yang ada hanya Syauqi bersama seorang pria sempat Bima lihat beberapa kali bersama Sean.
"Bima?"
Bima mengurungkan niat untuk pergi kala pria itu memanggilnya. Meski tidak begitu kenal secara pribadi, Bima mengulas senyum padanya.
"Kau mengenalku?"
"Hahah tentu saja ... kenalkan, aku Ricko jika kau lupa," ucap pria itu mengulurkan tangannya, tapi ketika Bima hendak membalas dengan sengaja Ricko kembali menarik tangannya.
__ADS_1
"Cih? Dia pikir lucu begitu?" batin Bima kesal luar biasa mendengar gelak tawa pria itu.
"Ah iya sampai mana tadi? Aku banyak mendengar tentangmu dari Sean ... sekarang kita benar-benar bertemu. Kau tahu, kita banyak kesamaan." Ramah sekali pria ini, sampai Bima mememalingkan muka agar tidak terlalu kentara jika tak suka dengan sikap sok akrab yang dia punya.
"Oh iya? Apa itu?" tanya Bima seakan benar-benar penasaran, padahal sama sekali tidak peduli.
"Kita mencintai wanita yang sama, tapi pada akhirnya kau yang menjadi pemenang di hati Ara."
"Hah?" Antara percaya dan tidak percaya, Bima mengerutkan dahi pasca pria itu bicara perihal cinta.
"Lupakan saja, memang beginilah derita orang tak punya ... bagaikan pungguk merindukan bulan, cintaku kandas sebelum berjuang, sungguh menyedihkan."
"Dia gila atau kenapa? Bisa-bisanya kak Sean mengizinkan orang seperti ini menjaga anaknya."
Sebenarnya tadi dada Bima sempat panas, tapi setelah mendengar celotehannya mendadak Bima ragu tentang kewarasan pria itu. "Ehm, maaf apa kau pernah menjalin hubungan dengan istriku sebelumnya?" tanya Bima tidak ingin salah paham.
"Benar, kami saling mencintai, bahkan aku sabar menunggu jandanya ... tapi apalah daya orang tuanya tak meres_"
"Bang Ricko!!"
"Lengkara ganggu aja sih, tiba-tiba nongol begitu ngapain?" Satu menit lalu dia bersedih, kini raut wajahnya mendadak berubah secepat itu.
"Aku yang harusnya bertanya ... ngapain bawa Syauqi keluar, Mas juga ngapain di sini?" tanya Lengkara beralih pada Bima yang sejak tadi terpaku di hadapan Ricko.
Lengkara tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan. Oleh karena itu dia belum meradang, sementara Bima mulai memperlihatkan wajah datar seolah memendam kekecewaan.
"Mas, kamu kenapa?"
"Cari kamu, tapi ketemunya dia," jawab Bima menunjuk Ricko yang memasang jurus pura-pura tak bersalah.
Lengkara yang mendadak curiga, mulai menatap Ricko yang kini membelakangi mereka seolah tengah menunjukkan sesuatu pada Syauqi.
"Apa yang dia katakan?" tanya Lengkara mulai tak enak hati, dia curiga karena memang Ricko kerap menjadi duri dadakan dalam sebuah hubungan.
"Tidak perlu dibahas, kita masuk saja."
"Tunggu dulu," tegas Lengkara menahan pergelangan tangan Bima, dia benar-benar penasaran apa yang Ricko katakan hingga membuat Bima mendadak bad mood begitu.
__ADS_1
"Bang Ricko, tadi bilang apa sama mas Bima?"
"Apaan? Abang tidak bilang apa-apa." Ricko mengelak tentu saja, mana mungkin mengaku dan jelas tidak akan pernah.
"Bohong!! Ayo ngaku, Abang bilang apa? Jangan buat masalah ya, cukup kemaren Ameera sampai putus sama Johan karena Abang ngaku calon suaminya."
Bima yang sejak tadi terbakar, mendadak berbinar mendengar ucapan Lengkara. Akan lebih baik jika memang begitu adanya. "Ngarang apanya? Abang lagi latihan ... besok ada casting jadi pemeran utama, ceritanya tu cowoknya miskin terus cintanya kandas karena tidak dires_"
"Stop!! Huft kenapa harus dipraktekkan bersama suamiku?" Lengkara menghela napas panjang, berusaha menahan diri agar tidak berteriak malam ini.
"Ya, biar menjiwai dong," jawabnya santai sekali sementara kepala kepala Lengkara sudah berapi-api.
"Ya Tuhan, Kak Sean!!!"
.
.
Kehadiran Ricko memang membawa bencana. Beruntung saja Lengkara datang di waktu yany tepat sebelum Bima salah paham. Kendati demikian, sepanjang perjalanan pulang wajah Bima tetap sesedih itu dan Lengkara bingung hendak bagaimana.
"Mas, kamu mikirin apa lagi?"
"Orang yang tadi, benar bukan mantan kamu, Ra?"
"Ya Tuhan, Mas ... dulu aku memang banyak pacar, tapi segila-gilanya aku juga punya selera, minimal waras baru aku mau."
Lengkara benar-benar tak habis pikir, entah kenapa Ricko kerap kali membuat kekacauaan semacam ini. Sejak awal meninggalkan kediaman Papa Mikhail hingga kini mereka tiba di rumah, bahasan Bima masih itu-itu saja dan Lengkara bingung hendak meyakinkan Bima bagaimana.
"Tapi kamu tidak berbohong, kan, Sayang?" Hampir melangkah masuk, mereka sudah di teras dan Bima kembali memastikan hal itu.
"Ya Tuhan, tidak!! Sejak kapan aku berbohong? Andai di dunia hanya ada aku dan dia, maka aku milih pindah planet," tutur Lengkara menangkup wajah Bima dengan kedua telapak tangannya, agak hiperbola tapi tidak mengapa.
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1