Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 102 - Menari Di Atas Penderitaan


__ADS_3

Menginjakkan kaki ke kediaman keluarga Megantara hanya membuat Atmadjaya semakin malu. Tidak peduli bagaimana dia menolak untuk datang kala pernikahan Bima waktu itu, tuan rumah masih begitu menghargainya.


Bukan hanya sekadar kaya, tapi pria yang menjadi besannya itu bukan orang biasa. Istana yang berdampingan dan berdiri di tanah super luas itu sudah menjelaskan jika Mikhail jauh berada di atasnya. Bagaikan langit dan bumi, Atmadjaya ciut seketika berada di kediaman mereka.


Bukan karena harta, tapi kehangatan keluarga itu. Kehangatan yang sama sekali tidak penah dia rasakan, melihat etika seorang Mikhail Abercio, pria itu tersadar bahwa pujian yang kerap Yudha tujukan padanya bukan isapan jempol belaka.


Bahkan, dia tidak segan meminta anak-anaknya untuk pulang lebih dahulu agar kekeluargaan mereka kian erat. Pengakuan salah-satu menantu Papa Mikhail juga membuka matanya, wajar jika Bima sama sekali tidak keberatan angkat kaki dari rumah tanpa berniat kembali meski sudah diancam dengan berbagai cara.


Tidak hanya baik, tapi pria itu benar-benar menghargai orang lain. Atma yang terlalu angkuh dan yakin betul Bima akan terlunta-lunta tanpanya kini hanya meratapi kebodohannya. Bak sengaja membuang berlian, putranya dipungut seorang saudagar yang menjaganya dengan sangat baik.


Bima begitu dimanjakan di sana, bahkan mama mertuanya terlihat begitu peduli. Jika sudah begini, jangankan ditahan hartanya, bahkan diancam tidak diakui anak sekalipun mungkin Bima akan santai saja.


Niat hati hanya bertamu sebentar, nyatanya mereka justru menyambut Papa Atma layaknya tamu kehormatan. Tidak hanya sekadar berbincang biasa, tapi Papa Mikhail tidak mengizinkan mereka pulang sebelum makan siang bersama.


Sudah jelas mereka pulang terlambat. Tidak hanya beberapa menit, tapi berjam-jam karena Papa Atma berinisiatif naik kereta, entah karena apa Yudha juga tidak begitu mengerti. Sempat Yudha tanya, tapi Papa Atma hanya menjawab ingin saja karena sudah lama tidak merasakan perjalanan semacam itu.


Tidak main-main, mereka tiba ketika hari sudah malam. Seperti yang Yudha duga tadi siang, baru saja memasuki gerbang utama mereka sudah disambut seorang wanita yang berusaha terlihat cantik walau akhirnya tidak seberapa.


Entah berdosa atau tidak, tapi dia seolah menanti saat-saat ini. Saat dimana seorang wanita yang selalu berusaha terlihat lembut itu akan meluapkan amarah. Apapun alasan sang papa, sudah pasti Mama Gilsa akan marah dan kecewa, terlihat jelas dari wajahnya.


.


.


"Dari mana saja? Kenapa jam segini baru pulang, Mas?" tanya Gilsa dengan tatapan tak suka, terkhusus pada Yudha yang sempat melirik ke arahnya.

__ADS_1


"Aku lelah, jangan dulu banyak tanya."


Bagus!! Yudha berseru yes mendengar respon papanya. Dia suka, dia benar-benar suka dengan drama pasangan itu. Sengaja dia mengekor di belakang punggung sang papa demi mendengar kelanjutannya.


"Lelah? Memangnya apa yang kamu lakukan sampai lelah, Mas?!! Hanya menjenguk Bima, lagi pula bukankah sudah biasa alergi? Kenapa sekhawatir itu?"


Tidak peduli meski sudah diabaikan, Mama Gilsa masih memiliki keberanian untuk bertanya panjang lebar. Dia turut mengekor di belakang sang suami demi menuntut penjelasan.


"Mas!! Mas Atma tunggu!!" Gilsa menghalau langkah sang suami, akhir-akhir ini dia semakin kerap kali diabaikan tanpa tahu letak salahnya dimana.


"Apalagi? Putraku sakit dan apa salah aku menjenguknya?" tanya Papa Atma dingin, sorot tajam itu tertuju pada Gilsa seolah ingin mencengkramnya.


"Hanya karena Bima, kamu bahkan melupakan janjimu tadi siang? Arjuna ulang tahun, dan kamu sudah berjanji akan memberikan waktu untuknya!! Tidak lebih dari delapan jam, bisa-bisanya kamu sesantai ini."


Mata Gilsa begitu jelas memperlihatkan kekecewaan. Sejak tadi siang dia menunggu, bahkan mencoba menghubungi Yudha beberapa kali. Namun, keduanya seakan sengaja menghilang dan membuat Gilsa sakit kepala.


Sudah pasti semua terjadi karena kehadiran putranya, terutama yang kini ada di belakang sang suami. Tatapan Gilsa tertuju ke arah Yudha yang tampak santai menatap ke arahnya,tanpa perasaan takut sama sekali.


"Kamu pasti menemui wanita itu bukan? Hahaha apa kamu sekarang ikut-ikutan jadi rendahan, Mas?" tanya Gilsa disertai gelak tawa yang terdengar begitu renyah hibgga membuat Yudha mengepalkan tangan hingga buku jemarinya memutih.


"Jaga bicaramu, jangan berpikir sempit, Gilsa."


"Jika bukan karena itu lalu apa?! Arjuna ulang tahun tidak setiap hari dan kamu seolah tidak peduli padanya? Mas dengar ya ... darah dagingmu yang sah itu adalah mereka berdua, bukan Bima," sentak Gilsa semakin meninggi, kalimat andalah yang selalu dia lontarkan demi membuat mental kedua putra sang suami terluka.


"Harus berapa kali aku katakan, berhenti membahas hal itu ... mereka tetap putraku, darah dagingku dan kau kenapa begitu membencinya?!"

__ADS_1


Tidak mau kalah, Papa Atma turut meninggi dan hal ini tertangkap jelas di depan mata Yudha. Seolah tengah menghadapi hinaan mulut sampah di sekolah dasar, Yudha tentu saja bahagia bahkan ingin memberikan kekuatan agar papanya lebih gila lagi.


Agaknya, pengaduan Bima tadi siang mulai merasuki pikiran Papa Atma hingga dia tidak berpikir dua kali untuk mengimbangi emosi istrinya. Mereka terlihat panas, dua hati yang sedang beradu dan perasaan berkecamuk tak karuan.


"Masih bertanya? Jelas saja aku membencinya!! Seruni menghancurkan harapanku dan demi mewujudkan harapannya. Dia rela memberikan tubuh secara cuma-cuma hingga anak haram ini hadir dan membuat membuat kita sem_"


"Diam!!"


Yudha yang tadi sempat menganga mendengar ucapan Gilsa kini semakin dibuat terkejut ketika telapak tangan Atma mendarat tepat di wajah istrinya. Gigi Papa Atma bergemelutuk dengan dada yang kini naik turun.


"Mas menamparku?" tanya Gilsa tak percaya, wajahnya terasa panas dan begitu pedas.


Sudah lama bersama, malam ini adalah kali pertama Atma menggunakan tangan untuk menyakitinya. Gilsa terhenyak, sungguh hal itu sulit sekali dipercaya. Jangankan meminta maaf setelahnya, sang suami berlalu begitu saja meninggalkannya tanpa kata.


"Puas? Ini yang kau inginkan sejak tadi bukan?" Beberapa saat usai kepergian Atma, Gilsa beralih pada putra tiri yang tidak kalah menyebalkan ini.


"Tidak, tapi papa malah memberiku kejutan ... luar biasa, kata orang pasangan yang awet memang harus bertengkar, Ma," ejek Yudha yang semakin membuat Gilsa naik darah.


"Kau pikir lucu?" kesal Gilsa menatap Yudha dengan amarah yang luar biasa membuncah.


"Nikmati saja, bukankah dahulu Anda menyakiti Bima lebih dari itu ... hahah, oh iya aku ingatkan sekali lagi. Jaga bicaramu, kau tidak tahu siapa anak haram yang kini kau hadapi, Nyonya Gilsa."


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2