Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 129 - Dunia Memang Milikmu


__ADS_3

Lima hari sudah sangat cukup sebenarnya, tapi bagi Bima tetap sesingkat itu. Padahal, keduanya tidak pernah berpisah dan tidak pula akan berpisah. Andai pulang juga tetap akan bersama, tapi tetap saja Bima merasa berat hati dan tidak puas berdua.


Bahkan, dia sengaja mengurangi kecepatan hanya demi bisa menikmati perjalanan bersama sang istri. Sudah Lengkara katakan berkali-kali bahwa banyak hal yang mereka harus jalani seharian ini, jelas harus pandai memanfaatkan waktu.


Sejak tiga hari lalu Papa Atma sudah diizinkan pulang ke rumah utama, oleh karena itu harus pamit lebih dahulu. Belum selesai di sana, mereka masih harus menyempatkan membeli oleh-oleh untuk sang papa, hal yang seolah menjadi tradisi dan tidak boleh dilewatkan jika ke luar kota.


Lengkara sudah menata agenda hari ini dengan baik, tapi Bima tampak santai saja. Sama sekali dia tidak khawatir andai ketinggalan pesawat dan lainnya, sementara Lengkara jelas saja berpikir ke arah sana.


Tepat pukul sebelas siang, keduanya baru tiba di kediaman Papa Atma. Masih ada waktu dua jam lagi di Semarang, singkat sekali. Tiba di rumah, mereka tidak lagi disambut para pelayan, melainkan tuan rumah yang tampak kesal dengan kedatangan mereka.


"Wuih kenapa cepat sekali? Kenapa tidak sekalian seminggu, Bim?" tanya Yudha tidak lagi pada makna yang sebenarnya, bukan pula tengah menyindir.


"Sebenarnya tiga hari lalu aku sudah mau pulang, tapi dia rewel minta lima hari gimana lagi." Dasar curang, Bima mengatasnamakan Lengkara, padahal sebaliknya. Ingin marah, tapi Lengkara memilih diam saja dan membiarkan Bima melakukan apapun kemauannya, terserah dia.


"Rewel, dipikir dia bayi," sahut Yudha memutar bola matanya malas, tidakkah dia ingat bahwa sebelum menjadi wanita kesayangan Bima, Lengkara adalah bayinya.


"Sewot banget sih Yudha," sahut Lengkara pelan, tapi dapat terdengar kedua pria itu.


"Seperti ada yang bicara, kau bawa teman, Bima?" Lengkara yang gemas sendiri mendengar celetukan Yudha tak kuasa menahan diri untuk tidak menyerangnya.


"Ck, sudah-sudah!! Papa mana? Sudah baikkan, 'kan?" tanya Bima seraya menahan istrinya agar pertikaian mantan kekasih itu tidak terjadi.


"Hm, masuklah. Papa menunggumu sejak kemarin, ada yang ingin dia bicarakan padamu." Yudha menepuk pundak Bima agar pria itu segera melangkah masuk.


"Lalu kau mau kemana?"


"Kantor," jawab Yudha seraya menatap pergelangan tangan kirinya, kejadian kemarin membuat Yudha harus bekerja lebih keras setelahnya.


Bima hanya mengangguk, melihat Yudha saat ini mengingatkannya dengan masa lalu. Masa dimana tidak ada alasan untuk berhenti, karena memang begitu banyak beban yang dia pikul di pundaknya.


"Berat sekali hidup Yudha, jadi tidak tega pinjam uangnya," ucap Bima seraya menatap lekat punggung Yudha yang telah menjauh, dia tidak sedang bercanda untuk kali ini.

__ADS_1


"Nanti kembalikan, kasih bunganya 50 persen." Lengkara tidak membantah, Yudha memang pelindung yang sesungguhnya.


"Banyak sekali bunganya? Rugi," ucapnya dengan raut wajah yang berbeda, begitu jauh berbeda dibandingkan beberapa detik lalu.


"Apa ruginya? 50 persen sama saudara tidak masalah."


"Kata kak Sean itu riba, tidak baik."


Hah? Sontak Lengkara mengerjap pelan. Jika memang merasa kasihan pada Yudha, lantas kenapa mendadak berubah kala dia memberikan ide semacam itu? Mendadak Lengkara berpikir sejak kapan Bima tidak mau rugi seperti itu.


"Mas sejak kapan sih pelit begini?" tanya Lengkara seraya melangkah masuk, mengikuti Bima yang kini menuju kamar utama.


"Bukan pelit, kalau memberi beda cerita."


Ya, terserah saja. Akhir-akhir ini memang Bima selalu menang dalam perdebatan entah apa alasannya. Entah karena Lengkara yang malas cari perkara, atau Bima yang terlalu keras kepala.


"Eum, Sayang ... kamu tunggu di kamar ya, nanti mas menyusul," titah Bima mengusap pelan pundak sang istri.


Bukan tidak ingin melibatkan Lengkara, tapi dia masih memiliki kekhawatiran Papa Atma akan menyakiti hati Lengkara. Terlebih lagi, Bima tidak tahu apa yang akan dibicarakan nantinya. Sekalipun sudah baik-baik di rumah sakit, tapi kemungkinan besar bahwa papanya akan kembali bersikap buruk masih terus menjadi ketakutan Bima.


Sementara kini, tersisa Bima yang mendadak gugup kala hendak membuka pintu kamar sang papa. Mungkin karena kerap menjadi sasaran amarah, Bima masih memiliki ketakutan ketika menemui papanya seorang diri.


.


.


"Pa ...."


Jauh dari dugaan Bima, dia tidak sendiri kali ini. Sebelum masuk, agaknya seseorang sudah lebih dahulu menjadi sasaran amarah Papa Atma, yaitu Raja. Ya, pria itu ternyata pulang tanpa sepengetahuan Bima.


Berbeda dari biasanya, Raja tidak menyapa ataupun menyambut Bima sehangat itu. Yang ada di wajahnya hanya kesedihan, dia menunduk dalam seraya meremmas jemarinya.

__ADS_1


"Ada apa, Pa?"


Suasana mendadak berbeda, Bima dapat merasakan hal itu. Tidak biasanya Papa Atma hanya diam menatap nanar tanpa arah, sementara Raja juga memalingkan muka ketika Bima hendak bicara padanya.


"Kau sudah pulang?" tanya Papa Atma kemudian, sempat terdiam beberapa saat kini dia kembali bicara.


"Sudah, Pa." Bima menjawab dengan senyum di wajahnya, sang papa sudah baik-baik saja dan Bima bersyukur akan hal itu.


Ada apa sebenarnya? Diamnya mereka hanya membuat Bima semakin bingung saja. "Katakan, apa aku membuat kesalahan lagi, Pa? Jika iya ma_"


"Untuk apa kau membawanya pada Panji, Bima?" Belum selesai Bima bicara, Papa Atma sudah bertanya dengan suara yang terdengar putus asa.


"Hah? Raja? Kau? Kau menemuinya?" Sama sekali tidak Bima duga, Raja benar-benar nekat menemui Panji sendiri.


"Iya, aku menemuinya," jawab Raja mengatupkan bibir, dia kembali menunduk seolah menyembunyikan wajahnya dari Bima.


"Kau melakukannya tanpa izin papa, Raja." Bima menoleh, dengan tegas Papa Atma bicara dan hatinya terhenyak seketika. Bukan cemburu, tapi hati Bima bergejolak kala sang papa bicara demikian.


Raja belum menjawab, sementara Bima mulai khawatir sebentar lagi akan kembali menjadi sasaran Papa Atma lantaran membawa serta Raja ke Jakarta hingga menciptakan celah untuk mereka bertemu.


"Apa yang kau pikirkan sebenarnya?" lanjut Papa Atma kembali bertanya lagi, jujur dia bingung sendiri kenapa secepat itu Raja bergerak.


"Aku hanya menemuinya, Pa, apa salahnya?" Kembali Raja bersuara, dia membela diri dan merasa jika dirinya sama sekali tidak bersalah.


"Pa, aku rasa benar ... hanya bertemu, dimana salahnya?" Walau tidak yakin langkah ini benar atau tidak, Bima mencoba membela Raja.


"Hanya katamu? Kau tahu Bima? Raja menyerangnya, bahkan Polisi yang menjaga Panji di rumah sakit mengatakan jika Raja hampir menghilangkan nyawa dengan sengaja."


"What? Bagaimana bisa?!"


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2