
Jauh dari sisi Yudha, sosok pria tampan yang kini tengah fokus mempelajari dokumen yang diberikan Kak Evan sama sekali tidak menduga Yudha akan menghubunginya secepat ini. Ya, dia memang menunggu, tapi bukan berarti tidak tahu waktu. Seperti yang dia katakan pada Yudha, sampaikan saja di malam hari.
"Cepat katakan, apa mereka kembali bertengkar?"
"Tidak, justru sebaliknya dan mereka baik-baik saja." Jawaban yudha dari seberang telepon sukses membuat Bima menghela napas pelan, dia sedikit kecewa dan harapannya patah.
"Sial, lalu untuk apa kau menghubungiku secepat ini? Kau tahu aku hari ini sibuk sekali ... orang mana yang sibuk di akhir pekan selain aku, semua demi apa? Demi masa depan keluarga kami, dan kau tahu bagaimana hidupku saat ini bukan? Jadi, ja_" Panjang lebar Bima bicara, terhenti begitu Yudha memotong pembicaraannya.
"Diam!! Dengarkan aku dulu, Berhala ... ini bahkan lebih penting dari pada pertikaian suami istri kau tahu?"
"Lalu apa?" Bima memperbaiki posisi duduknya, meja kerja Lengkara terlalu kecil dan tidak lega untuk pria seperti dia.
"Baiklah, dengar baik-baik dan fokus ... jangan pedulikan tukang cendol di depan sana, intinya dengarkan saja aku."
Yudha terdengar tengah menghela napas panjang, dia mulai memaparkan apa yang dia ketahui sejelas-jelasnya. Tanpa sedikitpun dia tutup-tutupi dan semua dengan jelas dia utarakan, sesuai permintaan Bima mendengarnya dengan seksama dan penuh ketelitian.
Hingga, di akhir penjelasan Yudha, pria itu terfokus dengan nama seseorang yang terseret di sana, "Panji? Pawang ular?" tanya Bima perlahan.
"Astaga, serius sedikit, Bima!!"
Bima terpejam mendengar teriakan Yudha di sana. Dia hanya bertanya, lantas dimana salahnya. Info dari Yudha sepenting itu, sementara dirinya masih saja terus bercanda. Entah mulai terpengaruh atau hanya mengimbangi Yudha saja, yang jelas candaan Bima barusan membuat Lengkara yang tak sengaja mendengar hanya tertawa kecil.
"Aku hanya tanya, seingatku om Panji teman papa ... aku pernah melihatnya di foto papa masih muda," ucap Bima yang ternyata membuat Yudha naik darah.
__ADS_1
"Iya aku tahu, sudah kukatakan sebelumnya, Bima. Kenapa kau yang justru bercerita."
"Siapa tahu kau tidak percaya siapa dia," jawab Bima sembari mengusap wajahnya kasar. Dia terlihat santai, tapi otak pria itu tengah terbang jauh.
Semua yang disampaikan Yudha terekam jelas di dalam memori Bima. Agak sedikit aneh, teman lama papanya datang setelah sekian lama dan bersikap selembut itu Pada Raja.
Dari cerita dan foto yang Yudha tambahkan, otak Bima sontak berpikir keras demi menemukan benang merah yang akan dia tarik nantinya. Perlahan, tapi pasti dia mulai menemukan hal yang cukup mengganjal di sana.
"Mirip, Mas."
"Hm?" Bima mendongak, tanpa dia sadari sang istri sudah berada tepat di sampingnya.
Sejak tadi Bima juga berpikir sama, hanya memang rambut Raja yang panjang dan menutupi keningnya membuat pria itu sedikit berbeda. Di tambah lagi, tubuh pria bernam Panji itu tampak dipenuhi tato hingga menyamarkan kulit putihnya.
"Om-om itu siapa, Mas? Apa masih saudara Mama juga? Soalnya biasa anak mirip om atau keluarga lain, contohnya Azka mirip sama kak Zean," papar Lengkara menatap wajah bingung Bima, agaknya sang suami kurang paham soal itu.
"Sayang sekali, kalau mirip kak Evan tampannya pasti berkali lipat." Inti pembicaraan bukan itu, dan mereka justru berpaling membahas Azkara.
"Hm, agak aneh, tapi memang benar ada."
"Kalau tidak ada hubungan darah dan keluarga bagaimana? Apa mungkin?" tanya Bima kemudian, untuk hal ini dia memang sedikit aneh.
"Ada saja sih, tapi kalau sampai ada berarti perlu dicurigai ... apalagi mirip tetangga, Mas, itu lebih bahaya lagi. Dulu ad_"
__ADS_1
"Hei!!! Aku tidak meminta kalian berdiskusi ... Bima, kenapa nyi pelet itu bisa ada di dekatmu?"
Bima mengerjap pelan, dia benar-benar lupa bahwa sambungan telepon mereka belum berakhir. Yudha masih menunggu tanggapan Bima, tapi yang terjadi pria itu justru berbincang bersama sang istri.
"Lengkara istriku, wajar saja ada di dekatku, Yudha."
"Aku tidak bilang dia istri pak Tamudin, tapi baiklah, lupakan soal itu ... saat ini kita fokus lagi soal Panji tadi."
Lengkara yang tadi sudah semangat untuk bicara mendadak bungkam dan memilih diam. Dia tahu masalah kali ini sedikit serius dan tidak ingin bercanda lebih dulu. Cukup senyum tipis dari Bima yang membuat Jiwanya kembali sedikit lebih tenang.
Keduanya kembali melanjutkan pembicaraan yang sama sekali tidak Lengkara ganggu. Dia memilih untuk melanjutkan pekerjaannya, tentu saja menjadi seorang content creator tanpa tim dan mengandalkan kemampuan untuk edit sendiri sebelum kemudian dia unggah.
Kegiatan Lengkara tidak lepas dari tatapan Bima, pria itu masih bisa fokus menatap sang istri meski bibir dan telinga terfokus pada Yudha. Semua kejanggalan itu rasanya sudah sangat cukup untuk modalnya bergerak tanpa harus merepotkan Yudha.
"Soal Panji serahkan saja padaku," ungkap Bima kemudian, sejak awal dia sudah tertarik dengan sosok itu.
"Lalu kau bagaimana? Hal semacam ini akan sulit jika sendiri, Bim."
"Jaga papa, Gilsa adalah bagianmu ... awasi wanita itu, dan bersikaplah biasa saja, Yudha." Sejak dahulu firasat Bima memang selalu buruk, dan kali ini tentu saja semakin buruk.
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -