
Selalu ada hikmah di balik setiap musibah. Begitulah adanya, setelah kejadian malam itu Lengkara jusrtu merasakan hal yang berbeda dari suaminya. Sempat khawatir Bima akan marah dan terluka karena Yudha lancang memeluknya, kini fakta yang terjadi justru berbeda.
Tidak ada kemarahan di raut wajah Bima, mereka terlihat sangat dekat layaknya seorang saudara. Bahkan, Bima meminta kesediaan Yudha dan sang papa untuk menginap di kediamannya lebih dahulu setelah pulang dari rumah sakit.
"Aku bisa saja, tapi papa gimana?"
"Kenapa memangnya" tanya Bima mengerjap pelan sementara Papa Atma sudah menghela napas kasar.
"Astaga anak ini, apa perlu aku jelaskan?" Sejak kapan Bima sebodoh ini, tapi yang jelas Yudha merasa dia memang semakin menjadi.
"Aku cuma minta kau dan papa jangan pulang dulu sampai besok pagi, apa sesulit itu?" tanya Bima menatap Papa Atma penuh harap, cerita Yudha kemarin berhasil membuatnya iri dan ingin merasakan hal yang sama.
Sebenarnya permintaan itu cukup mudah dikabulkan andai Yudha sendirian, tapi yang menjadi masalah saat ini adalah kehadiran Papa Atma. Sesantai itu dia meminta, seolah tidak ada yang salah hingga Papa Atma bingung hendak menolak dengan bahasa apa lagi setelah ini.
"No, aku tidak terima penolakan ... prediksi cuaca nanti malam buruk sekali, jadi lebih baik tetap di sini."
Bima yang awalnya meminta, kini beralih memaksa hingga Papa Atma tidak dapat berkata-kata. Bukan karena tidak peduli ataupun pilih kasih seperti kata Bima, tapi yang membuat Papa Atma sungkan ialah sosok wanita yang sejak tadi sibuk sendiri di dapur entah apa yang dia kerjakan, Seruni.
Kendati demikian, dia benar-benar bingung menghadapi Bima kali ini. Biasanya anak itu memang tidak pernah meminta apapun, tapi sekalinya punya permintaan cukup membuat Papa Atma mengelus dada.
"Deal ya, Pa?"
"Baiklah, terserah kau saja," jawab Papa Atma pasrah hingga membuat Bima tersenyum setelahnya.
"Ah dari tadi harusnya, aku akan persiapkan kamar untuk Papa, jangan kemana-mana tunggu di sini."
Dia masih bungkam seraya menatap punggung putranya. Jujur saja, Papa Atma bahagia lantaran Bima kembali menerimanya, bahkan lebih baik dari sebelum perpecahan mereka.
"Sabar, Pa ... aku akan coba bicara dengannya." Suara Yudha membuat lamunan Papa Atma buyar seketika, dia terkejut dan hendak menghalangi pergerakan Yudha.
"Yud_"
"Papa tenang, masalah ini akan segera kuselesaikan."
Setelah Bima, kini Yudha justru membuat kepala Papa Atma seakan mau pecah. Hendak dia halangi, tapi Yudha sudah menghilang dari hadapan Papa Atma hingga membuat pria itu bergumam seraya pasrah dengan hasil akhirnya.
"Seharusnya tidak perlu dilakukan, menginap satu malam sepertinya tidak masalah, tapi ... ck terserah kalian saja lah."
__ADS_1
Mendadak bingung dengan diri sendiri, Papa Atma seolah berperang dengan pikirannya. Pria itu bermonolog seraya meremmas jemarinya seolah tengah menunggu keputusan akhir.
.
.
Sementara di kamar, Yudha tengah berusaha berbicara sekali lagi pada Bima karena mengira jika permintaan saudaranya itu terlalu memberatkan. Entah apa yang Bima pikirkan, tapi Yudha hanya khawatir jika papanya tidak nyaman.
"Bim, dua hari di rumah sakit apa masih kurang?"
Seperti yang sudah terduga, jangankan mengiyakan, dia dengar saja tidak. Bima terlalu bersemangat menyambut papanya, padahal dia sempat membenci pria itu hingga akar. Namun, kebersamaan Yudha bersama kedua orang tuanya kemarin membuat Bima iri, sungguh.
"Iya, kenapa memangnya?"
"Ya Tuhan, anak ini apa maunya?" Yudha tidak mengerti, kenapa Bima mendadak jadi pemaksa seperti ini.
"Kau sesumbar padaku, salah sendiri kenapa kemarin pamer." Ucapan Bima kini membuat Yudha menghela napas kasar, jika tahu hal itu akan berbuntut panjang mungkin Yudha akan berpikir dua kali untuk mengirimkan foto mereka pada Bima.
Meski sudah tahu apa alasannya, tapi Yudha tidak akan berhenti. Dia mencari cara dan menyusun kalimat paling logis agar pikiran Bima terbuka. "Bima coba dengarkan aku, kau sadar apa yang kau lakukan sekarang?"
"Tidak, tidak ada yang salah, Bim."
"Iya sudah, sana pergi kalau tidak mau bantu," ucap Bima kembali meneruskan pekerjaan super pentingnya ini. Padahal, dia bisa meminta asisten rumah tangga melakukan tugasnya, tapi sesuatu dalam diri Bima seolah menemukan kebahagiaan jika dia yang melakukannya sendiri.
"Tapi tetap saja, Bim ... papa dan ibu itu adalah mantan suami istri," ujar Yudha bingung sendiri cara menjelaskannya, agaknya pandangan mereka tentang hal ini akan sedikit berbeda.
"Tahu, lalu kenapa memangnya?"
"Ya coba kau pikir bagaimana perasaan mereka? Canggung, malu dan bagaimana bis_"
"Bisa saja ... kau lupa aku dan Lengkara bagaimana?" tanya Bima sengaja memotong pembicaraan Yudha, sebuah senjata terakhir yang dia punya demi berhasil membuat papanya menetap.
"Iya juga, tapi ini kan ceritanya berbeda ... tidak dapat disamakan, Bima." Yudha memijat pangkal hidungnya, memang agak sulit berdiskusi dengan seseorang yang memiliki tekad sekeras batu.
"Apa bedanya? Sama-sama mantan, lagi pula aku tidak meminta Papa tidur di kamar ibu, kenapa kau cemas sekali?"
"Terserah kau saja lah, tapi tunggu ... kau belum jawab pertanyaanku waktu itu." Yudha menyerah, mungkin memang takdir Papa Atma kembali dipersatukan di atap yang sama malam ini.
__ADS_1
"Pertanyaan yang mana?"
"Kau menyentuh Lengkara sebelum menikah?" Yudha ingin tahu, karena memang waktu itu Bima tidak mengatakan secara jelas dan selalu menghindar jika ditanya.
"Hm menyentuh ... sedikit, tapi tidak sampai masuk," jawab Bima mengedipkan mata dan berakhir dengan tendangan yang hampir menghantam juniornya.
"Sinting!! Kuadukan mertuamu tahu rasa!!"
"Hahaha adukan saja, anaknya yang mulai ... kau tahu, leherku bahkan sampai luka karena dia benar-benar liar." Tanpa dosa, Bima menceritakan kenangan manis yang takkan pernah dia lupa itu pada Yudha.
"Liar?"
"Iya, tangan dan kakinya sampai kuikat karena takut keperjakaannku hilang malam itu," ucapnya masih terus bicara tanpa berpikir aneh buruk sedikitpun.
"Woah keren, kenapa bisa? Apa tidak tertarik?" pancing Yudha seolah ingin mengorek lebih dalam pengalaman Bima.
"Mana mungkin tidak tertarik, aku hanya berusaha berpikir jernih saja ... kalau tidak, mungkin pulang-pulang bawa kandungan si Kara."
"Kau kenapa?" Bingung lantaran Yudha diam beberapa saat, Bima kini kembali bertanya..
Tidak hanya berhenti bertanya, tapi gelak tawanya juga tak lagi terdengar hingga membuat Bima bingung, ditambah lagi Yudha terlihat panik hingga Bima berbalik lantaran penasaran apa yang Yudha lihat. Belum juga berbalik sempurna, Bima terperanjat kaget kala menyaksikan pemilik mata tajam itu tengah berdiri di ambang pintu seraya bersedekap dada.
"Lengkara? Sejak kapan di sana?"
Jantung Bima berdetak dua kali lebih cepat, bukan karena tengah jatuh cinta, melainkan karena sadar dia tengah berada di tepian jurang dengan kedalaman tak terhingga.
"Ehem, aku keluar dulu. Sepertinya papa tidak nyaman sendirian."
"Yudha tunggu!! Jangan pergi kumohon!!" teriak Bima dalam hati, dia sempat berusaha menggapai tangan Yudha, tapi segera ditepis begitu saja. "Astaga!! Kembali sialan ... benar-benar egois, dia menyelamatkan diri sendiri."
"Sa-sayang mau apa?" tanya Bima gugup dan perlahan mundur kala Lengkara mendekat arahnya.
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1