Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 118 - Kembali Menata


__ADS_3

"Katakan sekali lagi, Kak."


Sedikit berlebihan, tapi luka yang menganga di hati Raja tidak seperih itu usai Bima bicara. Selama ini memang dia tidak pernah mendengar Bima mengutarakan perasaan, entah sayang atau tidak, yang ada hanya sikap dingin walau Raja sudah melakukan segala cara demi menyita perhatiannya, termasuk mengusik ketenangan Bima.


"Aku tidak membencimu, Raja."


Bima tidak bisa mengatakan dia benci, tapi memang belum sesayang itu. Bima menempatkan posisi, dan saat ini dia tahu betul Raja butuh penguat di saat sang ibu justru berusaha mencuci tangan dengan segera memberikan klarifikasi di akun pribadinya.


Tentu saja bukan permintaan maaf dan menyesali kesalahan, melainkan mencari pembenaran dan dengan percaya dirinya dia mengatakan bahwa apa yang terjadi semalam adalah salah-satu kejutan dari putra sambungnya. Gilsa bersembunyi di balik kata prank dan bodohnya beberapa orang percaya hingga para wartawan kembali mencari Bima demi meminta kepastian.


Cukup lama Raja bertahan dalam posisi itu. Bahkan pundak Bima basah karena air mata sang adik, sedikit menyebalkan, tapi Bima tidak bisa marah kali ini. Sama seperti waktu itu, Bima seakan memberikan Raja kesempatan untuk melakukan apa yang dia mau.


Pelukan itu tidak berakhir hingga Raja melepaskan dirinya. Kali pertama Bima menyaksikan pengganggu yang membuat kepalanya sakit sejak bisa bicara itu terlihat menyedihkan. Raja tertawa kecil, dia menyeka air matanya kasar dan berusaha untuk terlihat tidak sehancur itu.


"Maafkan Kakak, Raja." Ucapan itu akhirnya lolos dari bibir Bima. Pria itu menghela napas panjang sebelum kemudian mengusap pundak Raja beberapa kali.


"Tidak masalah ... bukankah memang sudah seharusnya? Yah bahkan hampir terlambat, aku yang minta maaf."


"Kenapa kau yang minta maaf?" tanya Bima menatap lekat wajah Raja yang tengah berusaha terlihat baik-baik saja, padahal dari suaranya saja terdengar jelas bahwa Raja bergetar.


"Sama seperti namaku, papa memperlakukanku seperti Raja sampai aku terlena. Kakak paham maksudku, dan untuk semua itu aku minta maaf."


Semalam suntuk Raja sudah berpikir panjang. Dia sangat sadar bagaimana Papa Atma menempatkan posisinya di atas Bima sejak lama. Apapun harus dituruti, tidak hanya uang tapi juga semua hal yang seharusnya menjadi hak Bima dia rampas hanya karena ingin juga.


Kamar, mobil, motor, pakaian milik Bima harus menjadi miliknya andai suka. Caranya mudah saja, cukup meminta pada sang papa dan itu sudah dianggap izin dari Bima. Tidak hanya barang, tapi juga waktu harus Bima relakan demi memenuhi kebahagiaan Raja.


Kini, semua sudah berubah dan status anak haram yang dahulu menempel untuk Bima ternyata adalah dirinya sendiri, Raja sakit sejujurnya. Namun, mau bagaimana lagi semua memang sudah begini, sama seperti Bima, Raja juga imbas dari keserakahan Gilsa akan cinta dan harta Atma.

__ADS_1


"Hentikan air matamu, tidak ada istilah anak haram, Raja. Masuklah ... aku harus pergi."


"Aku ingin pergi juga, Kak," jawab Raja membuat Bima mengerjap pelan, hendak kemana? Apa mungkin mengikutinya? Jika iya, jelas saja tidak bisa.


"Pergi kemana? Mencari mamamu?"


"Tidak ... sampai mati aku tidak mau bertemu dengannya."


"Lalu? Siapa yang mau kau temui?"


"Panji," jawab Raja datar, dia berucap bak seseorang yang tengah putus asa sekarang.


Bima bungkam, dia bingung harus bagaimana sementara Panji kini masih berada di rumah sakit akibat serangannya kala itu. Bukan hanya luka biasa, tapi tangan kiri dan salah-satu tulang rusuk Panji mengalami keretakan akibat Bima hajar habis-habisan.


"Belum waktunya," ujar Bima berusaha mencegah kepergian Raja.


"Raj_"


"Kakak tahu dimana dia berada bukan? Antar aku padanya, dan setelah ini aku pastikan tidak akan mengganggu hidup kalian lagi," tegas Raja yang kemudian membuat Bima menghela napas perlahan.


"Tidak akan."


Bukan karena tidak mau, tapi ucapan Raja yang terakhir kali membuat Bima berpikir dua kali. Akan tetapi, sikap keras Raja masih sama dan dia kembali memaksa hingga Bima hanya bisa pasrah.


"Baiklah, kau boleh ikut," ucap Bima pada akhirnya, tidak mungkin dia akan terus membiarkan Raja meneluk kakinya semacam ini.


"Janji?"

__ADS_1


"Berdirilah," titah Bima pelan, pagi-pagi begini dia sudah menjadi pusat perhatian lantaran ulah Raja.


"Aku tidak akan berdiri sebelum Kakak berjanji."


"Berdirilah, sebelum kakak benar-benar marah, Raja."


Dalam situasi semacam ini, Raja masih membuatnya sakit kepala. Bima pikir dia akan berhenti, ternyata masih saja sama iyanya. Fakta, status adik yang memegang tahta masih berlaku meski badai sedang mengguncang keluarga mereka.


.


.


Seperti yang sudah Yudha katakan, di luar Bima benar-benar disambut para wartawan yang menyerbu Bima dengan berbagai pertanyaan terkait keluarganya. Semua pertanyaan hampir sama, dan Bima muak berada di posisi ini.


Sempat kesal setengah mati lantaran Raja memaksanya, Bima tetap menggenggam tangan Raja dan melindunginya dari kerumunan wartawan yang turut menyerangnya.


Walau Raja belum mengadu, tapi tangan yang terasa dingin dan wajahnya sudah menjelaskan bahwa Raja hancur, takut dan kalut menjadi satu. Detik itu juga otak Bima berpikir keras, keadaan Papa Atma, hancurnya Raja dan Arjuna dan Gilsa yang masih mementingkan diri sendiri.


Hingga, Bima membuang ego dan mencoba menata ulang karena merasa langkah kemarin tidak begitu tepat untuk menghukum Gilsa. Biarlah terlihat sedikit mengalah, demi menjaga hati orang-orang yang masih dia anggap sebagai manusia.


"Jadi benar hanya prank ya, Mas?"


"Iya, kami memang suka bercanda dan semalam adalah yang paling berkesan sampai mengguncang satu negara," jawab Bima dengan wajah tenang dan begitu meyakinkan, Raja mendongak dan menatap bingung kenapa Bima justru membenarkan pembelaan mamanya.


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2