
"Sakit, Sayang?"
Bima nekad bertanya meski tatapan Lengkara sudah setajam pedang Fir'aun. Padahal, dari teriakannya saja sudah menjelaskan bagaimana sakit yang Lengkara rasakan. Bayangkan saja, kaki mungil putri kecil Mikhail harus merasakan kekuatan kestaria yang tengah memendam kekesalan lantaran cemburu tak beraralasan. Lantas, untuk apa dia masih bertanya? Sungguh membingungkan.
"Menurut kamu?" tanya Lengkara menatap datar Bima yang duduk di tepian ranjang dengan wajah penuh sesal.
"Sa-sakit, aku tidak sengaja ... dia akar masalahnya!!"
Bima menunjuk ke luar kamar, dalam keadaan begini dia masih menyalahkan orang lain. Sementara yang dimaksud akar masalah dari kejadian itu hanya menatap mereka dari kejauhan.
Tak lama berselang, mertua yang sempat Bima hubungi sudah datang, sudah jelas tidak sendiri. Mereka datang beramai-ramai lantaran khawatir cidera yang dialami Lengkara cukup parah.
Bahkan, Ameera yang sedang sibuk-sibuknya memilih Lengkara dibandingkan pekerjaan. Hal itu bukan tanpa alasan, tangisan Lengkara yang sempat terdengar oleh Papa Mikhail ketika Bima menghubungi adalah alasan utama mereka sekhawatir itu.
"Bagaimana keadaannya? Apa sangat sakit, Ra?" tanya Mikhayla sigap memerhatikan kaki sang adik.
"Sak_"
"Ya Tuhan, Bima kenapa bisa?" Belum sempat Lengkara menjawab pertanyaan kakaknya, Papa Mikhail sudah melontarkan pertanyaan lain hingga Bima bingung sendiri.
"Maaf, Pa," sahut Bima pelan, sejak awal dia sudah meduga bahwa resikonya akan begini.
"Bima jangan main-main, kakimu sebesar itu tulangnya bisa retak asal kau tahu."
__ADS_1
"Mending kalau retak ... andai patah bagaimana?" Kak Zean yang juga baru mengorbankan waktu rapat demi menjenguk sang adik turut bingung kenapa bisa hal semacam ini bisa terjadi.
Dalam waktu sekejab, kamar utama mendadak ramai bak menjenguk bayi baru dilahirkan. Sama sekali Lengkara tidak menduga jika akan seramai ini, kehadiran mereka semakin membuat kepala Lengkara panas saja.
"Tante!! Kaki mana yang sakit? Hudzai udah bawain minyak urut punya Oma."
Tidak hanya Bima, Lengkara juga bingung hendak menjawab pertanyaan siapa lebih dahulu. Sebelumnya dia sempat kesal, tapi melihat Papa Mikhail mulai mendekati Bima, sontak dia khawatir dan memberikan pembelaan segera.
"Aduh kenapa pada datang semua? Aku baik-baik saja, lihat kakiku tidak retak apalagi patah seperti yang kalian katakan," ucap Lengkara sembari mengangkat kakinya, tampak baik-baik saja bahkan bisa bergerak sempurna.
"Jangan ditutup-tutupi, Ra, aku tahu memang sakit beneran. Tangisan kamu bukan setingan," ucap Ameera memotong pembicaraan, sebagai teman sejak zigot di dalam rahim Mama Zia, jelas dia sangat mengenal Lengkara.
"Tapi memang tid_ aduh." Celaka, Lengkara gagal menyelamatkan suaminya dari terkaman keluarga besar, padahal dia sudah berusaha, tetap saja sakit itu tidak bisa disembunyikan.
"Ember," jawab Zean membenarkan ucapan sang adik, sontak Bima semakin ketar-ketir kala saudara Lengkara sudah bersatu dalam mengacak-acak mentalnya.
Suasana semakin riuh, Mikhayla dan Mama Zia sibuk sendiri memeriksa kondisi kaki Lengkara, sementara Hudzai menyeka keringat di keningnya. Sebenarnya bukan keringat karena menahan sakit, tapi suasana di kamar membuat Lengkara seolah panas dingin.
Bagaimana tidak, Zean dan Ameera menyerang Bima dengan beribu pertanyaan. Terlebih lagi, Bima yang diketahui kerap pulang malam dan bergaul bersama Keyvan semakin membuat mereka menduga-duga. Terutama Ameera, dia khawatir jika mereka tengah bersandiwara, mengingat dahulu Zean juga pernah melakukan hal yang sama.
Baik-baik saja di depan keluarga, sementara kenyataannya berbeda. Ameera tidak ingin hal itu terjadi, cukup Zean saja yang merasakan pahitnya sandiwara pernikahan. Bima membela diri tentu saja, tapi jelas keduanya tidak percaya begitu saja.
"Woah kalian tidak percaya rupanya? Fine!! Kita ke kantor polisi sekarang ... biarkan pihak berwajib yang membuktikan bahwa aku tidak sengaja menginjak kakinya." Bima berkacak pinggang, hingga terlontar pernyataan sedemikian rupa untuk membuktikan ucapannya.
__ADS_1
"Andai terbukti bersalah bagaimana? Kau siap di penjara?" tantang Ameera kemudian, garda terdepan Lengkara ini agak sedikit merepotkan.
"Tentu saja, tapi kalau terbukti tidak bersalah bagaimana? Kau yang masuk penjara ya, pencemar_"
"Priit!! Hentikan!! Kenapa kalian yang jadi bertengkar?"
Sejak tadi Papa Mikhail memantau keduanya, tapi situasi semakin memanas kala Zean turun menjadi angin yang berhembus kencang di antara kobaran api itu.
"Kita ini keluarga, selesaikan saja dengan cara kekeluargaan ... sabar, Bima juga jangan tersulut emosi," tutur Papa Mikhail seraya mengusap pelan pundak Bima.
"Tuh dengerin, kita ini keluarga jangan marah-mar_"
"Halah kau sama saja!!" Zean terdiam kala sang papa mengangkat tangan dan hendak memukulnya, sejak tadi perannya tidak lain dan tidak bukan hanya menjadi penyulut api.
Sama-sama lupa umur, Bima dan Ameera menyayangi Lengkara lebih dari diri mereka sendiri. Hal itulah yang membuat keduanya sampai bertikai, padahal seseorang yang dimaksud sejak tadi menonton aksi mereka layaknya pentas seni.
"Teruskan, gendang telingaku belum pecah mendengar pertengkaran kalian ... kalau perlu pakai toa masjid sekalian," ucap Lengkara menggeleng pelan.
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1