
Setelah pertunjukan besar tadi malam, Bima harus menyaksikan papanya terbaring di rumah sakit hingga keesokan hari. Sebenarnya luka yang Papa Atma alami hanya di kepala, tapi tubuh pria itu seolah tak berdaya.
Lidahnya kelu dan tak dapat berucap, matanya yang terus menatap langit-langit kamar seakan menegaskan bahwa kini dia tengah berusaha memahami keadaan.
Tidak hanya terpukul, tapi sangat-sangat terpukul. Tanpa bicara, dia juga tidak terlihat marah pada Bima, tapi air mata yang terus menetes hingga bola matanya memerah sudah menjelaskan sehancur apa dirinya saat ini.
Dalam keadaan begitu, Raja dan Arjuna tetap berada di sisi papanya. Seolah menebalkan telinga dan memendam rasa malu, mereka melupakan kenyataan pahit yang terungkap tadi malam.
Raja masih terus menggenggam erat jemari Papa Atma. Jika ditanya bagaimana perasaannya kini, mungkin sama seperti Papa Atma. Baik Raja maupun Arjuna, keduanya sama-sama hancur.
"Jangan terlalu keras, Kak, nanti papa sakit." Suara Arjuna memecah keheningan, hal itu membuat Raja mendongak dan melonggarkan genggamannya.
"Aku tidak sadar."
Pemandangan itu tertangkap jelas di mata Bima. Aneh, dia sempat menginginkan sakit yang dirasakan ibunya terbalas tuntas, tapi melihat pemandangan itu hatinya perih juga.
Hingga, Raja yang sejak semalam menghindari tatapannya kini memberanikan diri untuk menoleh ke arah Bima. Sesaat, tatapan mereka bertemu sebelum kemudian Raja memilih berlalu tanpa mengucapkan apa-apa pada Bima.
"Ini yang kau inginkan, Bima?"
Tidak berselang lama setelah Raja keluar, Bima dibuat terkejut kala Yudha masuk dan menepuk pundaknya. Bima tertunduk dalam, dia mengepalkan tangan seraya menghela napas pelan.
"Pulanglah, di luar sudah banyak wartawan yang kembali meminta penjelasan ... sama seperti Lengkara yang menunggu pulang."
Bima menggigit bibir bawahnya, sesuai perkiraan isu terkait perselingkuhan istri konglomerat yang dipandang wanita berhati mulia itu menguak ke publik begitu cepat. Dalam kurun waktu tidak sampai 24 jam, nama Papa Atma dan sang istri serta orang ketiga dalam hubungan mereka memenuhi pemberitaan bahkan sampai ke stasiun televisi nasional.
__ADS_1
Miris, bukan hanya malu lagi, tapi besar kemungkinan Gilsa tidak bisa hidup dengan tenang setelah ini. Tidak hanya Gilsa, tapi kemungkinan besar Atma juga demikian. Bagaimana tidak, dia yang baru saja berusaha menjaga wibawa di hadapan keluarga Lengkara harus dihadapkan dengan hal semacam ini.
Terlebih lagi, Bima ingat betul bagaimana Papa Atma sempat membanggakan sosok Gilsa sebagai istri dan ibu sambung yang baik untuk Bima beberapa waktu lalu. Meski Bima tahu sang papa hanya bermaksud mengimbangi keharmonisan pernikahan mertuanya, tetap saja Papa Atma sedikit berlebihan dalam memuji Gilsa.
"Apa Lengkara menghubungimu?"
"Tentu, dan kau kenapa sengaja mematikan teleponmu? Takut dia marah?"
Bima menggeleng, sejujurnya bukan karena takut Lengkara marah. Namun, yang dia takutkan adalah kekecewaan sang istri. Kemarin Yudha memang meminta agar datang bersama Lengkara, tapi dia justru memilih sendiri karena tahu Lengkara akan melarang berbuat terlampau jauh seperti semalam.
"Selesaikan masalahmu sendiri, aku akan jaga papa setelah ini."
Bima mengerti, kalimat itu bukan sekadar candaan, tapi memang Yudha mengatakan yang seharusnya. Lengkara pasti menunggu, tidak hanya penjelasan tetapi juga orangnya.
Ya, mungkin anak itu terpukul juga sebenarnya. Meski baru berusia 15 tahun, bukan berarti dia belum mengerti situasi semalam. Mungkin Bima sedikit berlebihan soal ini, dia lupa akan janjinya yang tidak akan membuat Raja dan Arjuna merasakan sakit seperti yang dia rasakan.
Namun, agaknya semalam Bima sudah melanggar janji itu. Tiba di koridor rumah sakit, dia kembali tertampar begitu melihat Raja yang tampak kehilangan arah. Berbeda dengan Arjuna, adiknya yang satu itu sudah lebih dewasa dan hancurnya jelas berbeda.
Dia menangis, tanpa suara dan melampiaskan kekesalan dengan menggigit ibu jarinya. Melihat bagaimana Raja saat ini, Bima seakan melihat dirinya sewaktu remaja. Mereka terlihat sama, tapi bedanya masalah yang dihadapi Raja sedikit berbeda.
Dulu Bima menangis karena merasa diasingkan, tidak dianggap dan Gilsa selalu melontarkan kalimat yang membuat Bima harus tetap di rumah sekalipun ingin menikmati akhir pekan bersama papa dan kedua adiknya beberapa tahun silam.
"Kak Bima ikut, 'kan?"
"Iya, Raja, aku ik_"
__ADS_1
"Ah, Kak Bima harus belajar nanti malam ... besok sudah mulai ujian bukan?"
"Tapi ujiannya sudah selesai, Ma."
"Kau tidak mengerti maksud mama ya? Selain pintar di sekolah, kau juga harus pintar memahami bahasa manusia, Bima."
Sial, bahkan di saat seperti ini hal menyakitkan itu tidak bisa Bima lupakan. Berkali-kali, semua sikap Gilsa yang bertujuan menjauhkan dan menciptakan jarak hingga akhirnya Bima terbiasa dan tidak memiliki kedekatan pada kedua adiknya hingga dewasa.
Tanpa berucap, tanpa sadar Bima sudah begitu dekat hingga Raja gelagapan mengusap air matanya. Dia tersenyum kaku, bingung hingga akhirnya menangis lagi. Raja tidak bisa membenci, yang ada dalam benaknya kini seakan dipaksa mengerti.
Alasan kenapa Bima tidak suka dan selalu bersikap dingin padanya. Matanya seolah bertanya, tapi Bima masih bungkam hingga akhirnya menariknya dalam pelukan. Tangis Raja pecah saat itu juga, kali pertama merasakan kehangatan sosok Bima, tapi dengan kenyataan yang sudah berbeda.
"Kakak membenciku karena ini?" tanya Raja pelan dengan kepala yang seperti akan meledak.
"Tidak, aku tidak pernah membencimu."
.
.
- To Be Continued -
Hai, maaf kemarin tidak sempat up ... authornya sakit, bahkan dari malam kemarin sebenarnya. Terima kasih, yang masih punya vote nganggur boleh lempar ke Bima.
Lebel end sudah kuganti, apa notif sudah masuk semua?
__ADS_1