
Suasana hati Bima ternyata tetap memburuk meski hari sudah berganti. Sikapnya pada Lengkara masih sama sebenarnya, tapi kesedihan pria itu tidak dapat ditutup-tutupi dan hal itu sedikit menggores hati sang istri.
Bukan hanya Lengkara, tapi juga sang ibu merasakan hal yang sama, bahkan lebih perih lagi. Melihat putranya yang kini merenung seolah kehilangan masa depan, Bu Runi merasa dirinya benar-benar layak disalahkan.
Semua berawal dari keegoisannya, rasa cinta Runi pada sosok Atma muda menjadi petaka berkepanjangan. Runi pikir keputusan yang dia ambil 31 tahun lalu sudah benar, ternyata salah besar karena kini dia menyaksikan sendiri bagaimana akhir dari kehamilan yang dia inginkan sepihak itu tidak seindah bayangannya.
"Yudha benar ... jangan membenci papamu, Nak."
"Bu?"
Bima mendongak dan sontak memperbaiki posisi duduknya kala sang ibu mendekat dan kini duduk di hadapannya. Tanpa mereka ketahui, jika sejak tadi Bu Runi mendengarkan pertikaian kedua putranya dalam tangis yang susah payah dia tahan.
"Atmadjaya Aksa, pria sempurna yang membuat ibu tergila-gila dan tidak sadar diri, Bima ... ibu mencintainya, ibu tertarik padanya dan ibu bercita-cita menua bersamanya."
Bu Runi mulai bicara, Bima mengerjap pelan seraya mendengar dengan seksama kemana arah pembicaraan sang ibu. Sejak lama mereka bersama, ini adalah kali pertama Bu Runi angkat bicara.
Selama ini, Bima hanya mengetahui bagaimana sang ibu dari sebelah pihak saja. Sebuah kebenaran yang sejujurnya masih dia ragukan, dia yakin betul wanita cantik yang telah mengandungnya ini bukan wanita licik sebagaimana yang digambarkan Gilsa, ibu tirinya.
"Dia penyayang, sikapnya begitu lembut dan mencintai pasangannya ... sayangnya, wanita itu bukanlah ibu, tapi Gilsa."
__ADS_1
"Awalnya ibu ingin menyerah, tapi kami dipertemukan lagi ketika bekerja dan rasa cinta yang sudah ibu kubur dalam-dalam kembali membuncah ... sampai akhirnya, ibu memilih egois dan menghalalkan segala cara untuk bisa memilikinya."
Sejenak wanita itu bernapas panjang, pikirannya melayang ke beberapa tahun silam. Tahun dimana seorang wanita cantik yang begitu lancang mencintai milik orang lain, Seruni namanya. Seruni muda yang cerita dan mendambakan Atmadjaya Aksa untuk menjadi miliknya, tidak peduli meski dia tahu bahwa pria itu begitu mencintai kekasihnya.
Dalam hidup, Seruni memegang prinsip cinta harus memiliki. Tidak ada yang salah dengan prinsipnya, tapi dia salah memilih sasaran karena pria yang dia inginkan begitu mencintai wanita yang menjadi kekasihnya, Gilsa.
Hingga, cinta membutakan mata Seruni dan nekat menjebak Atma. Keduanya terlibat dalam sebuah malam panas dan membuahkan setitik nyawa di dalam perut Seruni. Meski dia melakukan sesuatu yang dilarang dan dia dapat dengan cara tercela, Seruni amat bahagia dengan kehamilannya.
Atma yang mengira jika hubungan mereka terhenti di ranjang malam itu saja ternyata harus menelan pil pahit kala dia mengetahui Seruni mengandung anaknya. Terpaksa, Atma tidak bisa menghindar manakala orangtua mereka ikut campur dan cita-cita Seruni terwujud saat itu.
Dia mendapatkan Atma, cinta pertama yang kemudian berakhir menjadi seorang suami. Awalnya mereka memang baik-baik saja, Atma perlahan menerimanya sebagai istri. Jangan ditanya bagaimana perasaan Seruni, jelas saja dia sangat bahagia.
Namun, kebahagiaan itu perlahan terkikis kala Atma goyah dengan kembalinya Gilsa. Ditambah lagi, tidak lama dari kembalinya Gilsa karir Atma justru melonjak dengan dukungan orang-orang sekitarnya, terutama orangtua Atma. Sama sekali tidak Seruni duga jika bangkitnya Atma yang dia anggap rezeki anak itu menjadi malapetaka yang merupakan awal dari retaknya rumah tangga impian Seruni.
Hingga ketika kedua buah hatinya lahir ke dunia, Atma bahagia sekali. Seolah lupa tentang Gilsa yang telah kembali padanya. Harapan Seruni tentang kebahagiaan mereka kembali hidup, tapi sayang lagi dan lagi dia salah karena yang Atma inginkan adalah bayinya saja.
"Aku ingin kita berakhir ... kau bisa pergi karena ternyata aku tidak bisa mencintaimu," ucap Atma menatap tajam Seruni yang masih tampak pucat dengan infus di tangannya.
Dia menginginkan kedua putranya, tapi tidak dengan Seruni. Wanita itu tidak lebih dari noda yang tidak dia ingini, cara picik Seruni sama sekali tidak dapat dia maafkan.
__ADS_1
"Mas apa maksudmu?"
"Setelah aku pikir-pikir ... aku tidak bisa hidup dengan wanita licik sepertimu, aku mencintai Gilsa dan karena pernikahan kita kekasihku hampir mengakhiri hidupnya."
"Tidak, jangan pernah pisahkan aku dan anakku!!"
Saat memiliki kedua buah hatinya, Seruni tidak lagi menginginkan untuk tetap bersama Atma. Namun, hal yang sama juga berlaku pada diri Atma yang mana dia hanya ingin kedua putranya.
"Wanita ini sombong sekali, bisa apa kau? Apa yang akan kau berikan pada putraku nanti?!!" bentak Atma tidak peduli sekalipun istrinya baru saja berjuang antara hidup dan mati demi putranya.
"Aku bisa, Atma!! Kau tidak perlu khawatir ... aku akan pergi dari kehidupan kalian, tapi izinkan aku membawa mereka. A-aku menyayangi anak itu, Atma kumohon," lirih Seruni benar-benar meminta.
"Kau kira kau saja? Aku juga!! Dia anakku, dan aku lebih mampu menjaganya dibandingkan dirimu."
"Aku tidak ingin anakku hidup tanpa ibunya!!" balas Runi dengan sisa tenaganya.
"Ada Gilsa, dia akan menjadi ibu untuk mereka," tegas Atma bak sembilu yang menyayat hati Seruni berkali-kali.
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -