Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 94 - Terlambat


__ADS_3

Untuk pertama kali, papanya bahkan sampai memohon hanya untuk ditemani makan siang. Sungguh hal aneh bagi Yudha, padahal biasanya sang papa selalu makan tepat waktu dan kini rela menunggu hingga satu jam lamanya.


Sebenarnya Yudha kasihan, dari tatapan pria itu terlihat jelas jika ada sesuatu yang disembunyikan. Besar kemungkinan adalah kesedihan tentang Bima, sudah terduga dan dapat disimpulkan jika Papa Atma begitu menyayangi Bima tanpa bisa diganggu gugat.


"Kau kenapa tidak makan?" tanya Papa Atma berhenti sejenak dan menatap Yudha yang sejak tadi hanya memandangi makanan untuknya.


Yudha kenyang, bahkan perutnya seolah hendak meledak karena sudah terisi penuh di rumah. Hendak menolak ajakan papanya juga tidak bisa, terlebih lagi untuk saat ini mana mungkin dia bisa jujur atas apa yang telah dia lakukan sebelumnya.


"Makanlah."


"I-iya, Pa."


Hanya demi menghargai papanya, Yudha memaksakan diri untuk tetap makan siang ini. Tidak peduli meskipun perutnya seakan hendak meledak, yang jelas saat ini dia tidak ingin menggores luka di hati Papa Atma.


Bukan karena ingin terlihat baik saat Bima menjauh, tapi hal itu dia lakukan karena paham bahwa suasana hati papanya sama sekali tidak baik dengan kepergian Bima, pria keras kepala yang jelas tidak akan tergerak hanya dengan kata kasihan belaka.


Bahkan, sebelum Yudha pergi dengan jelas Bima mengatakan dia akan benar-benar mencari tempat dimana dia dihargai dan memulai semuanya. Tekadnya membalas dendam pada sang papa sudah sangat bulat, seakan tidak ada lagi hal manis yang membuat Bima tersentuh tentang papanya.


Berada di posisi ini cukup sulit, ada Bima dan papanya yang sama-sama memiliki ego tinggi. Papa Atma tidak sadar jika caranya menyayangi Bima justru menyakiti, sementara Bima menutup mata dan di dalam otaknya Papa Atma bukan sayang, melainkan memanfaatkannya selagi bisa, itu saja.


Usai makan siang, Yudha masih berdiam dan menunggu sang papa beranjak. Agaknya, dia sengaja mengulur waktu agar bisa berbicara lebih lama. Sudah tiga tahun bersama, tapi kali ini Yudha merasa canggung tiba-tiba.


"Kau kenapa? Apa takut pada Papa?" tanya Papa Atma usai menatap lekat Yudha yang terus menunduk entah apa alasannya.


"Bukan, Pa."


Yudha menggeleng, wajahnya mulai memerah dengan keringat membasah di sekujur tubuhnya. Pria ini adalah papa kandungnya, pertemuan mereka bukan pertama kali dan keduanya hanya makan siang.


Sialnya, semua itu berubah bak pertemuan mengerikan hanya karena Yudha kekenyangan dan perutnya seolah berontak akibat sudah terlalu penuh.


"Setelah Bima ... apa kau juga akan meninggalkan papa, Yudha."

__ADS_1


Untuk saat ini, bukan waktunya bersedih dan Yudha sedang tidak ingin. Perutnya benar-benar tersiksa, bahkan kini tangan Yudha dingin lantaran keringat yang menguar dari pori-porinya.


"Tidak akan, Pa ... aku tidak akan meninggalkan papa, tenang saja." Yudha menjawab sekenanya, perut pria itu sudah terlampau sakit dan sedikit sulit diajak kompromi.


"Jadi Bima benar-benar akan meninggalkan papa, Yudha?!" tanya Papa Atma dengan mata yang membola, ucapan Yudha sedikit membuatnya kecewa.


"Mungkin, lihat saja nanti, Pa ... Bima perlu waktu, apalagi papa waktu itu menyakiti hati istrinya jadi wajar saja jika dia tersinggung."


Papa Atma kembali terdiam, mungkin saja benar ucapan Yudha. Dia memang bersalah, dan tidak heran jika Bima memilih pergi. Entah bagaimana kehidupan Bima ke depan, dia hanya perlu menunggu waktu karena dalam pikiran Papa Atma, tanpa dirinya Bima benar-benar tidak akan terarah.


Sama sekali dia tidak berpikir siapa keluarga Lengkara, dan dia juga tidak curiga jika Yudha telah memberikan seluruh harta yang dia punya demi mendukung proses Bima untuk benar-benar lepas dari kekuasaan papanya.


"Benar, Bima tidak suka dibujuk dan hanya waktu yang akan membuatnya kembali ... papa rasa, dia tidak akan bertahan lebih lama di luar dan akan kembali ke rumah utama, benar, 'kan, Yudha?"


Papanya sangat berharap Bima menelan kegagalan dan akan kembali padanya. Sesuai dugaan, ego Papa Atma masih sebesar itu dan sama sekali tidak tergerak di hatinya untuk meminta maaf.


Ya, Yudha tahu memang Bima tidak akan mempan dibujuk, tapi bukan berarti dia tidak butuh kata maaf. Semua tindakan yang telah Papa Atma lakukan sudah sangat cukup untuk membuat tekadnya pergi tidak akan goyah lagi.


"Mustahil, Yudha ... Bima berbeda denganmu, Bima tidak terbiasa hidup susah. Jika di luar sana, mau jadi apa dia? Papa rasa makan saja susah," ucapnya tertawa hambar, sebuah jawaban yang membuat Yudha terpaku menatap papanya.


.


.


Seyakin itu seorang Atmadja bahwa Bima akan terlunta-lunta. Padahal, jauh dari jangkauannya pria yang begitu dia ragukan tengah mengambil ancang-ancang untuk langkahnya ke depan.


Seperti yang dia katakan sejak awal, Bima benar-benar akan pergi ke tempat dimana dia dihargai. Meski terkesan lucu, Bima mengikuti saran Lengkara untuk kembali ke Jakarta.


Wanitanya tahu, membangun sesuatu dari nol bukan hal gampang jika tanpa bantuan kanan kini. Kembali ke Jakarta memang tidak menjamin Bima cepat kaya, tapi setidaknya ada keluarga besar yang akan mendukung proses Bima.


Satu minggu sudah cukup untuk mereka beristirahat dan bersantai ria, kini sudah saatnya Bima bertarung dengan kerasnya dunia. Tidak hanya bersama Lengkara, Bima juga membawa serta ibunya.

__ADS_1


"Bu, kenapa lagi?" tanya Bima kala menyadari Ibunya seolah berat sekali meninggalkan rumah itu.


"Apa kita harus benar-benar pindah, Bim? Ibu sedih meninggalkan rumah ini."


Padahal sejak satu minggu lalu Bima sudah membujuknya, dan Bu Seruni setuju saja dengan keputusan Bima. Namun, ketika tiba di harinya hati wanita itu seolah benar-benar sakit.


"Iya, harus dan ibu ikut aku."


"Lalu Yudha bagaimana? Nanti dia jauh kalau harus ketemu ibu, Bim."


"27 tahun aku bahkan tidak tahu ibu dimana, jangankan ketemu ... jadi tidak apa-apa sekarang ikut aku. Yudha akan datang jika tidak sedang sibuk, Bu." Ucapan Bima terdengar jelas oleh Lengkara sekaligus Yudha yang juga ada di sana.


Beruntung saja hari ini, Yudha kembali memiliki kesempatan untuk mengantar keluarganya. Sedikit tidak rela, padahal Yudha berharap saudaranya tidak pergi sejauh itu.


"Bim, apa tidak bisa kau pertimbangkan lagi? Kau tetap bisa memulai walau di Semarang," ucap Yudha setelah Lengkara dan sang ibu masuk ke mobil.


"Tidak bisa, keputusanku sudah bulat jadi berhenti melarangku, Yudha."


"Bim, lalu papa bagaimana? Kau bayangkan sehancur apa dia jika tahu kau pergi sejauh ini?"


"Kenapa hancur? Dia yang meminta jadi jangan semakin membuatku sakit kepala."


"Bim, tidakkah kau berpikir bagaimana jika papa menyesal?"


Bima tertawa hambar, sudah dia katakan sama sekali tidak akan tersentuh dan kini hanya ada satu kata yang pantas dia utarakan, "Terlambat, Yudha."


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2