Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 60 - Bencana/Anugerah


__ADS_3

Sama seperti Papa Atma dan Yudha, Bima juga ingin egois sekali saja. Tidak peduli sekalipun pernikahan sudah di depan mata, keesokan harinya Bima meninggalkan rumah. Bukan tanpa pamit, Bima masih mempertimbangkan perihal sopan santun pada pria paruh baya itu.


Papanya mengizinkan? Jelas saja tidak. Bahkan, sebelum pergi sempat terjadi pertikaian dan Papa Atma berpura-pura jatuh pingsan, sayangnya drama semacam itu tidak mempan untuk Bima.


Dia tahu penyebab Papa Atma tidak mengizinkan Bima pergi karena dia merasa putranya direndahkan. Padahal, bagi Bima apa yang calon mertuanya berikan adalah pengalaman yang dia pahami maknanya sangat dalam.


Sesuatu yang pernah dibuang, tidak segampang itu dia pungut, begitulah bahasa kasarnya. Bima menikmati semua proses itu, meski di mata Papa Atma sangat buruk dan tidak ada bedanya dengan tukang kebun, tapi bagi Bima tidak.


Mungkin terkesan berlebihan, tapi dari sana Bima merasakan jerih payahnya dihargai dan diperlakukan sebagaiamana sosok anak yang lelah usai bekerja. Bahkan, ketika Bima pamit hendak ke Semarang, papa Mikhail memaksanya makan dua kali dengan alasan agar tiba di rumah tidak kelaparan.


Bima seakan menemukan rumah yang sesungguhnya, terlebih lagi kala papa Mikhail meminta agar Bima menetap. Jelas saja dia betah dan satu bulan di sana membuat Bima seakan berat untuk kembali ke tanah kelahirannya. Padahal, di sana tidak ada Lengkara, hanya bertemankan Azkara dan Hudzaifah yang berisiknya luar biasa.


Sebelum sore, Bima sudah tiba di kediaman Megantara. Sudah pasti tujuan pertama adalah papa Mikhail yang dia duga kini sedang ada di halaman belakang. Ya, memang di sana tempat persembunyiannya.


Sama seperti datang pertama kali, hari ini Bima membawa begitu banyak makanan yang akan dia berikan untuk papa mertuanya. Bukan sedang menjelma menjadi seorang penjilat, tapi memang ada perasaan senang dalam hatinya karena sesuatu yang dia bawa benar-benar dihargai meski mendapat penolakan awalnya.


"Om!!"


Belum sempat sampai tujuan tuan muda kebanggaan keluarga ini berteriak menghampiri Bima. Sepatu boots yang begitu kotor dan topi koboynya membuat Hudzaifah terlihat begitu lucu. Ditambah lagi dengan keringat di atas bibirnya, pemandangan itu selalu membuat Bima bercita-cita memiliki duplikat dirinya seperti Zean, calon kakak iparnya.


"Hai, Sayang ... Opa dimana?" tanya Bima berlutut lantaran kasihan melihat Hudzai yang mendongak kala bicara dengannya.


"Ada di belakang," jawabnya tampak panik, napas Hudzai yang terengah-engah membuat Bima penasaran apa penyebabnya.


"Ayo kita ke sana."

__ADS_1


"Om Bima kenapa baru dateng? Kebun kita hancur," tutur Hudzai seketika membuat langkah Bima terhenti, matanya membola dan kabar ini bak petir di siang bolong.


"Han-hancur? Hancur bagaimana?"


Firasat Bima semakin buruk, wajah panik Hudzai juga menjelaskan jika yang dia sampaikan adalah kabar buruk. Keduanya bergegas ke kebun belakang, harap-harap cemas, Bima tidak tahu harus bagaimana andai benar-benar hancur seperti dalam bayangannya.


Secepat kilat dia berlari, bahkan meninggalkan Hudzai yang menggerutu lantaran diminta memegang keranjang oleh-oleh hampir tiga kilo itu. Jika Zean tahu putranya menanggung beban itu, mungkin dia akan menarik restunya untuk Bima.


"Ya Tuhan ...."


Layaknya seseorang kehilangan sesuatu yang dia jaga, Bima begitu terpukul kala melihat kebun kacang yang dia rawat satu bulan terakhir sudah porak-poranda.


Bambu penyanggah yang dia susun di sana hancur, hujan deras mendera ibu kota tadi malam dan membuat pohon rambutan yang berada tak jauh dari lokasi kebun kacang itu tumbang.


Alhasil, apa yang Bima usahakan benar-benar rusak. Padahal, hanya 20 hari lagi dan itu tidak lama. Lututnya lemas, Bima benar-benar merasa kehilangan sesuatu dalam dirinya.


Bima masih tercengang, dia menelan pil pahit setelah pulang dari Semarang. Entah ini teguran akibat durhaka, atau memang nasibnya sial saja. Sebelum pergi Bima sempat memastikan, kacang yang dia tanam berbuah dengan lebat dan dia sudah seyakin itu akan berhasil, nyatanya patah begitu saja.


Hendak bagaimana dia sekarang, apa mungkin harus memulai dari awal? Jika iya, alangkah sengsara nasibnya. Bima putus asa, hingga kala Mikhail menepuk pundaknya dia terperanjat persis seseorang yang kehilangan akal sehat.


.


.


"Ikhlaskan, bencana memang tidak ada yang tahu," ucap Papa Mikhail menenangkannya. Kebun itu milik Mikhail, tapi yang berduka saat ini justru Bima.

__ADS_1


"Tapi, Pa ...."


"Masuklah, kau pasti lelah ... Papa pikir kau di Semarang satu mingguan, ternyata sehari."


Bima tetap tidak tenang, dia masih terus menatap sedih kebunnya yang kini hancur bak tertimpa bencana. Agaknya semesta memang tidak mendukung Bima menjadi seorang petani, belum apa-apa sudah diterpa bencana semacam ini.


"Papa tunggu, lalu aku harus bagaimana? Kacang yang kutanam benar-benar gagal panen dan tidak sesuai kemauan papa," lirih Bima meminta ampunan, jujur saja jika harus memulai ulang agaknya dia lebih baik menanam yang lain seperti kata Lengkara.


"Apanya yang bagaimana?"


"Bagaimana aku bisa kembali pada Lengkara jika begini, Pa."


Mikhail bergeming seketika, dia menghela napas panjang dan menoleh kembali kebun yang Bima perjuangan selama satu bulan ini. Manik ketulusan dan penuh harap itu tertangkap oleh Mikhail, terlihat jelas dia berada di titik putus asa.


"Huft soal itu, anggap saja selesai itu ada yang bisa dipanen," ucapnya menunjukkann wadah kecil berisi kacang panjang yang masih cukup kecil, kemungkinan besar itu pencarian di sisa kehancuran.


"Maksud Papa? Apa Papa merestuiku kembali pada Lengkara?" Bima sedikit lancang dengan mengguncang lengan gempal calon mertuanya.


"Hm," jawab Mikhail singkat, padat dan jelas sebelum kemudian berlalu meninggalkan Bima yang berseru yes dan melompat layaknya anak katak.


Jangan ditanya bagaimana perasaannya, jawaban Mikhail membuat Bima lupa diri hingga sama sekali tidak sadar bahwa tingkahnya tak lepas dari pantauan sepasang mata cantik nan tajam itu dari balkon kamar.


"Dia tidak sadar umur atau bagaimana."


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2