
Sesuai dengan rencana, hari ini Bima menemaninya pindah ke tempat baru. Sebuah apartemen Kenzo yang tidak lagi dia tinggali, jelas saja Bima tidak keberatan mengganti rugi sewa apartemen lama Lengkara karena tempat baru itu dia dapatkan secara gratis.
"Memang agak sedikit kecil, tapi mas rasa kamu akan nyaman di sini."
Lengkara meneguk salivanya, harus bagaimana lagi agar termasuk dalam kategori luas di mata Bima. Jika apartemen seluas ini dia anggap agak sedikit kecil, lalu bagaimana pandangan Bima ketika masuk ke apartemennya? Sudah pasti Bima menganggapnya persis kandang ayam, begitulah batin Lengkara.
Seharian penuh Lengkara benar-benar berada di bawah pengawasan Bima. Dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di apartemen lamanya, karena semua Bima yang urus. Lengkara hanya duduk manis dan menunggu barang-barangnya dirapikan.
Sebagaimana Bima yang biasa, dia tidak banyak bicara, tapi tindakan segera. Lengkara memandanginya dari kejauhan, memantau Bima yang kini beralih mendekati beberapa orang yang dia minta menata perlengkapan Lengkara.
Padahal, Lengkara bisa menatanya sendiri. Namun, memang Bima sama sekali tidak mengizinkannya bergerak, jelas hal itu membuat Lengkara bosan. Hingga, dia merogoh ponselnya dan menyalakan kamera, seperti biasa Lengkara memang masih kerap mengabadikan segala sesuatu di sekitarnya walau tidak lagi dia posting ke sosial media.
Dia menoleh, menyadari apa yang Lengkara lakukan dan secepat mungkin Bima menghalanginya. Memang pria itu aneh, anti sekali terhadap kamera bahkan hanya karena itu Bima menyita ponselnya.
"Kamu sedang apa?" tanya Bima was-was, atas alasan apapun Bima memang tidak suka diabadikan kamera, baginya hal semacam itu adalah momok menakutkan dalam hidupnya.
"Percaya diri banget sih, Mas ... aku lagi foto tiga orang itu, bukan kamu," ujar Lengkara mengelak, mana mungkin dia jujur jika sejak tadi memang kamera ponselnya tertuju ke arah Bima.
"Oh iya? Mas periksa sampai ada bagaimana? Hp kamu mas sita ya," tutur Bima yang seketika membuat Lengkara mencebik, benar-benar seanti itu.
"Sita saja sana."
__ADS_1
Dunia Bima memang begitu berbeda, sangat berbeda. Lengkara yang dahulu merupakan influencer, sebagian hidup Lengkara bahkan dibagikan ke sosial media dan dipertemukan dengan Bima yang difoto saja enggan.
Lengkara kembali menikmati sepotong ayam yang tadi sempat Bima bawakan untuknya. Terserah, jika memang ingin dia hapus juga tidak masalah, pikir Lengkara.
"Kenapa dikembalikan? Katanya mau disita," tolak Lengkara kala Bima mengembalikan ponselnya.
Mulut penuhnya begitu lucu di mata Bima, beberapa saat lalu menolak dengan alasan terlalu berat makan ayam karena sudah makan dua kali. Kini, sudah dua potong dan hanya beberapa kali gigitan. Ya, begitulah cara Lengkara mengungkapkan amarah dan Bima sangat mengingat tingkahnya yang begitu.
"Tidak jadi, mas tampan kalau di foto ternyata."
Dia tidak sadar? Atau sedang haus pujian sebenarnya. Lengkara menerima ponselnya kembali, memang tidak ada yang dia hapus, semua masih sama. Padahal, memang pencarian Bima tidak terfokus pada foto yang Lengkara ambil, tapi dia tertuju pada video singkat yang dia duga video pernikahan mereka, Bima sangat yakin itu.
"Mas kenapa? Ayamnya masih ada ... julid banget matanya," gerutu Lengkara yang justru merasa tersinggung dan mengira jika Bima tengah mengejek cara makannya.
"Kamu menyimpan video itu, Lengkara?" tanya Bima tersenyum getir, di hari itu mungkin hanya dia yang gugup luar biasa kala meloloskan nama Lengkara di bibirnya.
"Hm?" Mata Lengkara membulat sempurna, dia berhenti sejenak dan mulutnya masih penuh tentu saja.
Wajar mencari foto saja begitu lama, ternyata ada yang Bima cari selain foto. Seketika caranya menguyah jadi berbeda, benar-benar pelan bahkan seakan tidak sanggup menelan.
"Kak Sean yang kirim beberapa bulan lalu, jadi kusimpan."
__ADS_1
Lengkara sedikit berbohong di bagian ini, memang benar Sean mengirimkan video pernikahannya beberapa bulan lalu. Namun, sejak lama Lengkara sudah memilikinya, entah atas alasan apa yang jelas memang dia memilih untuk tidak menghapusnya.
"Terima kasih sudah menganggap pernikahan itu ada, Ra," ucap Bima melemah dengan tatapan sendu.
Tiga tahun Lengkara pergi, dia terpaku menjalani cinta sendiri dan berharap Lengkara pernah menganggapnya ada. Dalam kesendirian Bima kerap bertanya, apa mungkin hanya dia yang memaknai pernikahan mereka sedalam itu walau tidak semestinya.
"Sejak awal aku mengetahuinya sudah kuanggap ada ... sekalipun kamu bukan mas Yudha," tutur Lengkara menunduk pelan, dia hanya mengatakan apa yang dia rasakan dahulu. Mungkin memang Lengkara salah dalam bersikap, hingga membuat Bima juga turut salah melangkah.
Ya, semua berawal dari kurang komunikasi mereka setelah Lengkara mengetahui kebenarannya. Bima yang selalu menerka dan mengira bahwa dia menjadi batu sandungan, sementara Lengkara tidak mampu menunjukkan jika dia baik-baik saja dengan takdirnya kala itu.
Bima terpaku, hatinya berdenyut mendengar pengakuan Lengkara. Sama-sama terdiam, hingga dering ponselnya menyadarkan Lengkara sesaat. Bima yang baru saja berusaha mengikis jarak sontak berdecak kesal dan mengutuk penelpon sialan itu.
"Apa? Jadi kau tidak di apartemen sejak semalam, Rona?"
Lengkara terkejut mendengar pengakuan Rona, wajar saja sahabatnya itu tidak bertanya kenapa tiba-tiba pindah atau bagaimana, ternyata memang sedang berada di rumah sakit.
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1