Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 85 - Bisakah Sedikit Dewasa?


__ADS_3

"Kalian sedang apa?"


Terlena dalam perdebatan tanpa akhir, keduanya bahkan tidak sadar jika tatapan tajam pria tampan bak pedang itu seolah siap melibas leher mereka. Lengkara mengatupkan bibir, sementara Yudha sontak mengalihkan pandangan dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Tidak ada hal aneh yang dia lakukan bersama Lengkara, tapi tatapan dan suara Bima membuat pria itu gugup setengah mati seakan terciduk tengah merayu istri orang. Tidak hanya itu, ibunya yang kini mendekat semakin menambah ketegangan.


"Ti-tidak seperti yang kau bayangkan."


"Katakan, Ra ada apa sebenarnya?" Bima beralih pada Lengkara yang kini seolah takut padanya, padahal dia tidak marah sedikitpun.


"Mas Yudha asal bicara, aku tidak suka," ucap Lengkara jujur dan memang itu sebab utamanya.


"Asal bicara? Bicara apa?"


"Itu di_"


"Ah itu ... kami hanya berdebat sedikit, Bim. Maklum saja istrimu agak bolot jadi salah paham," ucap Yudha membela diri dan memojokkan Lengkara yang kini jelas saja mengerutkan dahi.


"Dih enak saja, memang dia yang asal bicara, Mas."


Dia mengadu, tidak terima dengan ucapan Yudha yang mengatakan jika dirinya tuli. Cih, memang sudah biasa jika pria betulang lunak itu pandai bersilat lidah, dahulu Lengkara hanya tahu dari Zean dan kini dia tahu bagaimana kenyataannya.


"Bicara apa, Ra?"


Dendam karena Yudha justru menjelekkan namanya di hadapan Bima, wanita itu mengutarakan semua yang Yudha ucapkan tanpa sisa. Tidak dilebih-lebihkan dan tidak pula dia kurangi, tapi sialnya Bima hanya diam dan tidak menunjukkan reaksi segera usai mendengarnya.


"Jangan percaya, Bim, kau tahu tipu daya paling dahsyat adalah wanita bukan? Jangan sampai persaudaraan kita retak karena lidahnya."

__ADS_1


"Tipu daya wanita? Mas jangan nambahin tugas malaikat di samping kamu deh, kasian tangannya sampai pegal catat amal burukmu."


"Malaikat sampingmu juga sama, ingat Lengkara tidak boleh adu domba," ucapnya seraya menggelengkan kepala dan menggerakkan jari telunjuknya.


"Adu domba? Adu domba apanya? Mas yang fitnah!!"


"Itu fakta!!"


"Fit_"


"Stop!! Bisakah kalian dewasa sedikit?"


Bima memijat pangkal hidungnya, kepala pria itu semakin sakit saja. Yudha sangat dewasa, begitu juga dengan Lengkara. Anehnya, detik ini di mata Bima mereka tidak ada bedanya seperti balita yang memperjuangkan haknya.


Tidak ada yang berani bicara setelahnya, Bima kembali menuju kamar diikuti dengan Lengkara yang mengekor di belakangnya. Sementara Yudha tentu saja menjadi tanggung jawab sang ibu.


Lengkara berseru yes dalam benaknya kala mendengar teriakan Yudha. Besar kemungkinan dijewer atau dicubit seperti biasa, untuk pertama kali Lengkara menari di atas penderitaan Yudha.


Tanpa dia sadari jika senyum kemenangan itu tertangkap di mata Bima. Sedikit tidak suka? Bukan, tapi entahlah apa yang sebenarnya dia rasakan hingga sedikit bertentangan dengan prinsipnya. Dikatakan cemburu agaknya kurang tepat, tapi dikatakan tidak cemburu kenapa ulu hatinya terasa agak panas.


Hingga, Bima merasa tidak bisa andai terus memendam perasaan. Tanpa berpikir dua kali, dia menarik penggang Lengkara demi bisa lebih dekat dengannya. Wajah yang tadinya senyum tak jelas berubah panik dengan mata yang membulat sempurna.


"Kamu kenapa? Senyum-senyum begitu? Sedang mengenang masa lalu atau apa?" tanya Bima berturut-turut dan hal itu jelas membuat kening Lengkara mengerut.


"Tidak ada, kebetulan saja bahagia karena memiliki mertua yang sangat paham keinginan menantunya tanpa meminta," jawab Lengkara membela diri, sama sekali tidak ada niatnya mengenang masa lalu.


"Tadi sudah mas katakan, bisakah kalian dewasa sedikit? Kamu terutama," tutur Bima masih dengan tatapan seriusnya, berharap Lengkara juga akan menanggapinya sama.

__ADS_1


"Bisa, dewasa banyak juga bisa," jawabnya santai kemudian membalas pelukan Bima.


Dia pernah belajar dari Mikhayla, menghadapi pria super serius tidak sesulit itu. Lengkara mengenal pria dengan berbagai karakter, baik di lingkungan keluarga ataupun mantan-mantan pacarnya dahulu dan di antara mereka Bima termasuk yang paling kuat kedudukannya.


Tidak ada senyuman di bibirnya, Bima masih tenggelam dalam kesedihan mungkin. Lengkara yang mendongak menatap wajah sang suami menunggu dia melunak segera. Mungkin, meski tidak dapat dia pastikan tindakannya tadi bersama Yudha bisa menyakiti Bima tanpa dia duga.


Perlahan Lengkara berjinjit, tubuh tinggi Bima memang agak sedikit sulit. Kini, dia tidak menunduk dan seolah membiarkan Lengkara berusaha sendiri untuk mengecup bibirnya. "Maaf ya, aku tahu batasku, Mas ... aku istrimu dan hatiku tidak akan berkhianat jika sudah berlabuh," ucap Lengkara yang kala itu bak angin segar bagi sesaknya Bima.


Sebenarnya bisa saja dipermasalahkan, tapi Lengkara seolah tahu celah untuk menghadapi Bima hingga hubungan mereka tentu baik-baik saja. Tidak hanya pada dirinya, tapi pada Yudha juga.


Seperti yang dikatakan pria itu sebelumnya, dia akan tidur di rumah dan hal itu justru menjadi ketakutan Bima. Seyakin apapun Yudha bahwa orang tuanya baik-baik saja, bagi Bima yang terbiasa menghadapi amarah papanya jelas saja berbeda jalan pikirnya.


"Yudha, pulang saja. Aku takut kau kena getahnya juga."


"Kenapa kau jadi ikut-ikutan mengusirku? Apa dia menghasutmu?" tanya Yudha menunjuk Lengkara yang sedang duduk manis dengan toples kacang polong dalam pelukannya.


"Bukan begitu ... tapi papa pasti mencarimu, sana pulanglah besok kemari lagi."


"Halah bilang saja takut tidak fokus, kalian mau perang, 'kan malam ini? Santai saja aku tidak mas_"


Belum selesai dia bicara, ponsel Yudha berdering beberapa kali dan hal itu berhasil membuat Bima terkekeh pelan. Picik sekali otak Yudha, padahal sama sekali dia tidak memiliki pikiran untuk membuat hatinya panas sedikit saja.


"Sudah kukatakan, kau masih tidak percaya."


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2