
Setelah kembali melangsungkan akad, Bima pikir dia akan segera bisa menghabiskan waktu berdua dan menuntaskan rindu bersama sang istri. Nyatanya, dia harus menghadapi Sean lebih dahulu. Hampir dua jam pria itu menasihatinya, khawatir jika suatu saat nanti Bima kembali mengulangi kesalahan dan mengambil tindakan tanpa bertanya lebih dahulu.
Tidak hanya Sean, dia juga dihajar habis-habisan oleh sang presdir yang memintanya untuk bangkit karena hidup butuh duit. Ya, jika hendak diingat memang Bima adalah putra konglomerat juga, tapi yang ingin Zean tegaskan di sini hal semacam itu tidak dapat diandalkan dan menjadi tolak ukur kesejahteraan keluarga Bima nantinya.
Terlebih lagi, ada Yudha dan juga kedua adiknya. Walau saldo di rekening Bima tidak perlu diragukan, tapi selagi masih termasuk harta orang tuanya, di mata Zean hidupnya belum aman sama sekali.
Bima sama sekali tidak tertekan, semua yang mereka lakukan tidak ada tujuan lain kecuali untuk kebaikan. Setelah bicara dengan kedua kakak iparnya, seketika Bima mengingat saudaranya. Dia belum sempat mengutarakan kebahagiaanya, padahal Yudha sempat berpesan dia harus menjadi orang pertama yang mendengar kabar baik darinya.
Anak-anak masih berkeliaran di kediaman Mikhail yang luar biasa megah itu, sangat cukup memang untuk dijadikan tempat bermain semua keturunannya. Gelak tawa terkadang bercampur tangis itu adalah hal yang nanti akan Bima rindukan setiap saat, kehangatan keluarga ini tidak pernah dia rasakan sebelumnya, jelas saja dia bahagia.
Pria itu kembali ke kamar tamu yang dia tempati sebulan terakhir, nyaman sekali. Tanpa pikir panjang, Bima menghubungi Yudha dengan jantung yang berdegub tak karuan. Antara yakin dan tidak, jujur saja dia khawatir Yudha justru tersakiti andai dia terlalu berterus terang.
Beberapa kali Bima coba, tapi Yudha tidak segera menerima panggilannya. Aneh sekali, biasanya Yudha begitu tanggap dan sigap ketika dia hubungi, kini justru berbeda dan membuat Bima berpikir macam-macam.
"Ck kenapa di_"
"Hai, pengantin baru ... bagaimana tadi? Kau melakukannya dengan baik bukan?"
Bima terhenyak, pertanyaan Yudha seketika membuatnya ingin pulang dan memeluk pria itu sekali saja. Dia tahu seikhlas-ikhlasnya Yudha, luka itu tetap ada walau memang tidak begitu parah.
Berkali-kali Yudha tergaskan, dengan atau tanpa Lengkara dia tetap akan sembuh baik hati maupun raganya. Sementara Bima tidak akan bisa, hanya Lengkara obatnya. Ya, begitulah bentuk cinta dan kasih sayang Yudha pada keduanya.
"Kau tahu, Yudha?" tanya Bima tersenyum getir, permintaan Yudha tidak dapat dia berikan, sungguh menyebalkan lantaran Yudha harus tahu dari orang lain.
"Hm, apa yang tidak kutahu tentangmu, Bim." Dia terkekeh, padahal sama sekali tidak ada yang lucu.
"Papa juga?"
"Iya."
__ADS_1
Jawaban Yudha sontak membuat Bima bingung sebingung-bingungnya, semua tahu kecuali dia. Luar biasa sekali, beruntung didesak menikahi Lengkara, bukan wanita lainnya.
"Bagaimana papa bisa tahu?"
Tanpa didesak untuk menjelaskan, Yudha dengan senang hati mengutarakan faktanya. Hati Bima bengkak setiap mendengar ucapan Yudha. Hingga akhir, papanya tetap egois bahkan ketika papa Mikhail memberitahukan jika Bima dan Lengkara hendak kembali bersatu dia seolah tidak begitu peduli dan menyerahkan semua pada keluarga perempuan.
Tidak hanya itu, Atma juga mengatakan jika dirinya tidak bisa untuk turut hadir di pernikahan Bima lantaran sibuk, kapanpun itu. Jelas sudah alasan kenapa semua dilakukan mendadak, Bima saja yang tidak tahu persiapan mereka, tanpa dia ketahui bahwa sebelum Bima menginjakkan kakinya di Jakarta, sang mertua sudah menyampaikan kabar baik itu pada Papa Atma.
"Apa benar sibuk, Yud?"
"Jangan pikirkan ... Papa mungkin masih marah, tapi perlahan dia akan menerima keputusanmu. Sekarang fokus saja pada Lengkara, jangan yang lain," tutur Yudha sejenak menenangkan hati Bima.
Kenapa dia harus sakit kepala, bukankah bagus pria yang sudah menghancurkan mentalnya sejak kecil itu tidak datang dalam peristiwa sakralnya. Tentang apa yang terjadi ke depan, Bima tidak peduli dan terpenting saat ini Lengkara telah menjadi miliknya, itu saja.
"Terim_"
"Oh-ho sudah kukatakan jangan berterima kasih ... jaga baik-baik pernikahanmu kali ini. Seperti kata Sean, pernikahan itu suci jadi jangan kau nodai."
"Jangan iya-iya saja, awas sampai diulangi ... kudatangkan sepuluh waria untuk menggerogoti batangmu sampai akarnya," ancam Yudha yang seketika membuat Bima meneguk salivanya pahit.
Setelah sebelumnya Sean dan Zean yang mengancam akan memotong miliknya jika sampai mengulangi kesalahan yang sama, kini Yudha juga ikut-ikutan mengancam dan sejauh ini paling ngilu membayangkan cara eksekusi yang Yudha rencanakan.
"Menjijikkan," umpat Bima menggeleng pelan, sudah tahu dia paling takut dengan manusia jadi-jadian semacam itu, dan Yudha terus saja menjadikannya sebagai ancaman untuk Bima.
Dia terlena, sampai lupa bahwa Lengkara berpesan jika selesai segera ke kamarnya. Ditambah lagi, matanya yang lelah dan punggung yang kaku akibat begitu lama duduk di hadapan kedua kakak iparnya membuat Bima perlahan memejamkan mata.
Tanpa dia ketahui jika di luar sana Lengkara hampir menangis mencari keberadaannya. Dia panik karena sudah lebih dari dua jam Bima tidak kembali ke kamar juga, sementara Sean juga mengatakan Bima sudah kembali ke kamar.
.
__ADS_1
.
"Dasar aneh ... bisa-bisanya kehilangan suami," sahut Zean dari kejauhan dan merasa hilangnya Bima adalah hal paling konyol yang pernah ada.
"Itulah akibatnya kalau ngebet ... diambil jin kan suaminya," tambah Mikhayla semakin memperkeruh keadaan, paniknya Lengkara yang persis Iqlima kehilangan permen itu menjadi bahan olokan kakak-kakaknya.
"Ih ada yang masih ingat mitos wewe gombel?" Ameera yang sejak tadi duduk manis tiba-tiba masuk dalam pembicaraan, Lengkara yang tadi sudah sesenggukan kini terdiam.
"Mitos yang gimana?"
"Katanya kalau tidur menjelang magrib memang rawan diculik ... mungkin saj_"
"Mungkin apa? Ameera jangan sembarangan dong kalau ngomong." Lengkara kian panik tentu saja, mana mungkin tidak.
"Kan kemungkinan, Ra, mana tahu bener."
"Hahahaha kasihan, itu akibatnya maksa Papa minta nikahin detik itu juga ... rasakan."
"Maklumi saja, Ze janda kembang butuh pelukan," celetuk Sean yang kini membuat amarah Lengkara membuncah.
"Ahahaha iya juga ... janda kembang bagaimana perasaannya? Bahagia atau?"
"Diam!!! Aku bukan janda!!"
"Iya bukan, tapi mantan janda," ucap Zean menjulurkan lidah dan berakhir dengan jambakan sekuat tenaga dari Lengkara hingga terkungkal membentur meja.
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -