
Tidak hanya Lengkara, semua yang ada di sana juga bingung mendengar penolakan Bima, tidak terkecuali Yudha. Dia yang sejak tadi berusaha menjaga pandangan agar tidak menimbulkan masalah, kini mendongak dan menatap ke arah mereka.
Aneh, bukankah tawaran itu adalah bukti jika papanya sudah merestui pernikahan mereka? Lantas atas dasar apa Bima justru tampak tak suka? Sungguh, Yudha benar-benar dibuat bingung dengan hal ini.
"Tidak perlu? Kenapa?"
"Aku akan pergi bersama Lengkara suatu saat nanti ... bersama ibu juga," jawab Bima tanpa menatap ke arah papanya, sontak jawaban itu membuat papa Atma dan istrinya naik darah.
"Bisakah kau berhenti menyebut wanita itu di hadapan papa? Kau sudah tahu jika papa tidak suka, Bima," jawab papanya menatap ke arah sang istri yang tiba-tiba berubah masam, terlihat jelas dia juga tidak suka.
Faktanya, meski mereka terlihat baik-baik saja perang dingin itu masih berlangsung lama. Terbukti dengan papanya yang masih anti, dan juga mama tirinya mendadak membuang muka kala Bima menyebutkan sosok ibu dengan sebegitu jelasnya.
"Maaf, Pa, aku hanya menjawab pertanyaan papa."
Seketika suasana di ruang makan kembali suram seperti biasa. Bima sama sekali tidak merasa bersalah, dia hanya mengatakan apa yang dia rasakan. Jika ditanya bagaimana perasaannya pada papa Atma jelas saja sayang, layaknya seorang anak pada papanya mana mungkin tidak sayang.
Namun, di sisi lain dia juga sangat menyayangi ibunya. Dia tahu tidak akan pernah bisa egois, dan dia juga tidak meminta agar papanya bersikap baik. Hanya saja, jawaban mama tirinya membuat Bima seolah terbakar, sungguh.
Tidak peduli sebaik apapun wanita itu bicara, tapi Bima sama sekali tidak akan lupa bagaimana perlakuannya. Bima mungkin masih cukup kecil, tapi ingatan seorang anak yang merasakan siksaan di waktu kecil ternyata abadi hingga dia dewasa, dan hari itu sama sekali tidak akan Bima lupa.
Hari dimana dia mendengar dengan jelas Gilsa mengatakan jika dia bukan mama kandungnya. Tidak hanya itu, hari itu adalah pertama kalinya Bima merasakan dikurung di dalam kamar mandi dalam keadaan basah kuyup karena tidak sengaja memecahkan vas bunga di ruang tamu.
__ADS_1
Kala itu Bima berpikir dia masih punya papa, tempatnya mengadu dan berencana akan mengadukan semua perbuatan mama tirinya. Sayangnya, rencana itu hanya sebatas angan karena setelah Papa Atma pulang dia justru kembali merasakan sakit yang berkali-kali.
Kutukan jika dia anak sial yang tidak seharusnya lahir ke dunia Bima terima dan tertanam jelas di kepalanya. Jika saja tidak ada pak Chan, mungkin malam itu dia cacat akibat pukulan papanya.
Semakin hari, perlakuan mama tirinya semakin menjadi. Selalu saja ada celah yang membuat Bima terlihat salah hingga kembali disakiti. Terlebih lagi, ketika Raja lahir dan kasih sayang papanya benar-benar tercurah pada sang adik.
Bima tidak memiliki siapa-siapa kala itu, mama tirinya mengatakan jika ibu kandung Bima meninggal dunia setelah melahirkan dirinya, hal itulah yang membuat Bima dibenci sang papa. Bodohnya, Bima percaya saja dan naluri sebagai anak kecil yang dipaksa patuh hanya bisa menerima perlakuan sang ayah seburuk apapun.
Hingga menjelang dewasa, dia memang tidak lagi merasakan kekerasan fisik, tapi batinnya. Dipaksa mengeyam pendidikan dan menjadi sempurna di mata papanya, lalu dipaksa memimpin perusahaan tanpa menerima kesalahan sudah Bima rasakan.
Papanya memang sejahat itu, hanya ketika Yudha sengsara hatinya baru terketuk, sebelum itu tidak. Kendati demikian, hati Bima tetap merasakan sepercik kebencian yang tidak akan pernah hilang pada mereka.
Oleh karena itu, dia bahkan tidak tertarik dengan hadiah pernikahan yang dimaksudkan papanya. Hal itu mungkin tidak hanya berlaku untuk Bima saja, karena kini Mama Gilsa tampak memutar bola matanya malas dan memalingkan wajah usai Bima menjawab demikian.
"Pa, sudahlah," ucap Yudha berusaha menjadi penengah, sudah dia duga antara Bima dan papanya tidak akan bisa sejalan.
"Sudah bagaimana? Dengan jelas dia tidak menghormati papa sejak bertemu wanita sialan itu!!"
"Papa!!"
"Papa!!"
__ADS_1
Bukan hanya Bima, tapi Yudha ikut terbawa suasana. Kedua pria itu melayangkan tatapan tajam usai mendengar ucapan papanya. Yudha sudah mengalah, dia berusaha menjadi anak yang baik dengan mengabdi di perusahaan menggantikan Bima hingga waktu bersama sang ibu terkikis.
Namun, semua yang Yudha berikan sebagai tanda berbakti dan terima kasih atas usaha papanya ternyata tidak membuat pria paruh baya itu berubah. Di matanya, wanita yang melahirkan Yudha dan Bima tidak lebih dari sampah.
"Yudha!! Kenapa kau juga ikut-ikutan? Ah papa tahu ... pasti karena wanita ini bukan? Benar pasti kau yang membuat kedua putraku jadi pembangkang seperti ini?"
Lengkara tidak tahu apa-apa juga kena getahnya, sontak Bima menggebrak meja dan berdiri segera. Sudah dia duga jika papanya yang terlihat baik pagi ini hanya berpura-pura, faktanya memang otak pria itu sakit.
"Jangan pernah menyeret istriku!! Sudah kutegaskan semalam ... aku tidak segan meninggalkan papa jika tidak sopan padanya."
"Hahaha lihat anak ini? Berani kau meninggalkan papa? Tanpa papa kau tidak akan menjadi sehebat sekarang."
"Terserah!!"
Tanpa pikir panjang, Bima menarik pergelangan tangan Lengkara dan mengajaknya untuk pergi. Dia datang pada orang tuanya hanya untuk mengenalkan Lengkara sebagai istri agar berhenti mengusik kehidupan pribadinya, itu saja.
"Berani kau tinggalkan rumah ini artinya sudah siap hidup sengsara!! Ingat, Bima ... tanpa papa kau tidak ada bedanya seperti pengemis yang terlunta-lunta."
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -