
Terlalu panik mendengar kabar tentang papanya, Bima sampai lupa jika dia ke Jakarta tidak sendiri, melainkan membawa serta Raja. Ya, malang betul nasib Raja, sudah Bima katakan tidak perlu ikut, tapi dia yang ingin bertemu Panji bersikeras tetap ikut dan kini dia harus menerima nasibnya.
Terjebak dalam kesendirian, bangun jam sembilan pagi dalam keadaan rumah sudah sepi. Tidak ada Bima maupun Lengkara, yang ada hanya Bu Seruni di ruang tamu. Raja perlahan mendekat, dia agak sedikit malu kala ketahuan menguap begitu lebar seraya menggeliat panjang.
"Kak Bima mana, Bu?"
Orang pertama yang Raja cari ialah Bima. Jelas saja dia bingung andai pria itu benar-benar pergi dan meninggalkannya sendiri. Hendak bagaimana dia nanti? Meski di sini ada Bu Seruni, tapi dia merasa kikuk tanpa kehadiran Bima di sisinya.
"Ke Semarang," jawab Bu Seruni lembut sembari meneruskan rutinitasnya, merajut topi perlengkapan bayi yang dia persiapkan untuk cucu-cucunya kelak.
"Hah? Semarang? Maksudnya pulang, Bu?"
Raja panik? Jelas saja, bagaimana bisa Bima benar-benar meninggalnya pergi. Bukan ke pusat perbelanjaan atau ke rumah mertua seperti yang sempat terlintas di benar Raja, tapi ke Semarang.
Yang benar saja, belum apa-apa Raja sudah meratapi nasibnya. Bagaimana dia setelah ini? Andai Bima lama bagaimana? Selain itu, apa tujuan mereka pulang hingga mendadak begitu.
"Apa sesuatu terjadi pada Papa, Bu?" Meski sedikit tidak sopan, dia nekad bertanya karena memang hati Raja khawatir soal itu.
"Sepertinya begitu, tapi kamu tidak perlu khawatir ... Yudha baru saja mengabari ibu, beliau sudah baik-baik saja," papar Bu Seruni tetap lembut meski yang dia bicarakan adalah sosok luka yang paling nyata dalam hidupnya.
"Benar begitu, Bu?"
"Iya, ibu tidak mungkin berbohong, Raja," jawabnya kemudian, Bu Seruni terkekeh pelan melihat raut wajah Raja.
"Syukurlah, jantungku hampir lepas ya, Tuhan."
__ADS_1
Tanpa perasaan tak nyaman, dia mendekat dan memberanikan diri untuk duduk di sisi Bu Seruni. Melihat dari dekat apa yang dia lakukan, sarung tangan bayi yang ada di keranjang kecil di atas meja membuat Raja gemas sendiri.
"Semua ini ibu yang buat?" Raja terpukau, hatinya bergetar melihat benda-benda sekecil itu.
"Iya, kamu suka?" Bu Seruni berbasa-basi, tanpa dijelaskan dia sudah tahu betapa sukanya Raja pada hal-hal semacam itu.
"Suka, lucu sekali ... apa kak Bima sebentar lagi punya baby, Bu?"
"Entahlah, ibu belum bertanya soal itu, tapi semoga saja," tutur Bu Seruni kemudian, meski tidak pernah dia katakan di hadapan Bima, tapi memang harapan tentang cucu jelas saja ada.
"Sepertinya begitu, kak Bima sehat ... dia rajin olahraga dan selalu makan makanan bergizi, dia tidak merokok, bukan pemabuk, apalagi narkoba, ah aku yakin kak Lengkara sudah berisi, Bu."
Bu Seruni sampai mengerjap pelan mendengar celotehan Raja. Agaknya dia memang menemukan kenyamanan ketika berada di hadapan Bu Seruni hingga berani berbicara panjang lebar.
Seolah lupa jika kemarin-kemarin sempat menangis darah, Raja hanya fokus dengan hasil rajutan Bu Seruni. Ada begitu banyak di sana, sarung tangan, jaket, baju, bahkan topi yang begitu menggemaskan hingga Raja menciumnya berkali-kali.
"Iya, mereka lucu dan tidak berdosa," jawab Raja menatap nanar seolah tidak lagi pada makna yang sebenarnya, ada kesedihan di balik mata Raja yang tampak berkaca-kaca.
Entah apa maksud Raja, tapi Bu Seruni belum sempat bertanya karena kini salah-satu putri cantiknya muncul di balik pintu utama. Hampir salah menduga, dia pikir Lengkara karena menggunakan gaun yang sama persis, tapi ternyata Ameera.
"Tumben, ada apa, Meera?"
"Kara mana, Bu? Kakinya sudah mendingan?" tanya Ameera sembari meletakkan bolu kukus kesukaan Lengkara.
"Loh? Apa mereka tidak menghubungimu? Bukan mendingan lagi, dia sudah sembuh bahkan tadi pagi ke Semarang, Nak," jawab Bu Seruni sontak membuat Ameera mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Hah? Bisa-bisanya ... tadi malam dia minta bolu kukus, Bu!! Dia bilang kakinya masih sakit, dan aku begadang demi bolu ini."
Seketika Ameera merasa dikhianati, bagaimana tidak? Semalam Lengkara menganggu waktunya dan merengek minta bolu kukus lantaran tergoda melihat unggahan Ameera beberapa bulan lalu.
Kini, setelah semua Ameera usahakan, dia dengan santainya pergi begitu saja bersama Bima tanpa aba-aba. Jujur dia sempat ingin marah, tapi penjelasan Bu Seruni seketika membuat amarahnya padam segera.
"Ya, Tuhan, lalu bagaimana sekarang, Bu?" tanya Ameera turut khawatir, dia menganga seraya mengerjap pelan.
"Sudah lebih baik, jangan khawatir. Mungkin nanti sore atau besok mereka pulang," tutur Bu Seruni kemudian, seketika Ameera menghela napas panjang.
Ameera mengalihkan pandangan, dia mengerutkan dahi kala menyadari Raja terlihat aneh. Pandangan pria itu terlihat kosong, entah karena gugup akibat kemarin Ameera memberikan bonus tanda tangan di tangannya atau bagaimana, tapi yang jelas Raja terlihat mengkhawatirkan.
"Raja, are you okay?"
"I-iya, Kak ... aku mau," jawab Raja tak sesuai pertanyaan yang dilontarkan.
"Lap hidungmu, kau mimisan," ujar Ameera menarik telapak tangan Raja agar tersadar.
"Ouh? Mimisan ... ini bukan masalah, aku sudah terbiasa," jawabnya kemudian berlalu pergi meninggalkan kedua wanita yang tengah bingung berbalut khawatir padanya.
Sementara yang dikhawatirkan tidak punya pikiran lain selain ingin melarikan diri ke kamar segera."Sial!! Kenapa harus mimisan, Raja? Mahkotamu lepas saja, tidak ada harganya lagi."
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -