
"Bu-bukan untukmu, tapi memang Bima yang banyak mau jadi aku harus masak banyak menu."
"Ah Bima rupanya?" tanya Papa Atma tampak salah tingkah, beberapa kali dia mengusap pelan wajahnya demi menutupi kegugupan yang tetap kentara.
"Iya, akhir-akhir ini dia memang banyak mau."
.
.
"Kau dengar? Bisa-bisanya ibu memfitnahku," bisik Bima dengan tatapan fokus ke depan, selain khawatir ketahuan posisi mereka terlalu dekat dan Yudha membuat punggungnya merasa tertekan.
"Sesekali, ibu mana mungkin mengaku ... malu lah."
"Apa dalam diri ibu tertanam gengsi juga?" tanya Bima mendongak, menatap keseriusan wajah saudaranya di sana.
"Tentu saja, bukankah ibu juga wanita biasa? Pasti ada walau sedikit, Bima."
Siapa yang menduga, jika keheningan di kediaman Bima adalah rencana besar mereka. Dua pria dewasa yang bak pinang dibelah dua itu mengatur siasat untuk mencuri dengar pembicaraan kedua orang tuanya.
Tidak ada yang tidur lebih dahulu, sejak tadi Bima memantau CCTV sementara Yudha menonton drama favorit yang baru tayang beberapa minggu lalu. Momen ini sudah mereka tunggu sejak dua jam yang lalu, bahkan Lengkara sudah tidur lebih dahulu.
Jelas saja ketika saat yang dinanti tiba tidak akan mereka sia-siakan. Mungkin bagi Yudha ini bukan pertama kali, dia sempat menguping pembicaraan orang tuanya di rumah sakit. Namun, kali ini sensasinya berbeda dan detak jantung Yudha berdetak dua kali lebih cepat lantaran merasa seolah tengah melakukan perbuataan terlarang.
Pembicaraan mereka kurang lebih sama, tapi lebih intens dan terlihat tenang. Bu Seruni juga tidak menggunakan emosi, begitu juga dengan Papa Atma. Semakin lama, pembicaraan mereka semakin dalam saja hingga Bima dan Yudha saling melempar tatapan penuh tanya.
"Apa tangisan Papa tidak berbohong?" tanya Bima berbisik pelan, dapat dia lihat bagaimana kini Papa Atma menyeka air matanya kasar usai mengucapkan kata maaf berkali-kali.
"Menurut buku yang aku baca, titik terendah seorang pria adalah menangis ... aku rasa tidak berbohong, Bim."
"Benar juga, tapi aku masih ra_"
"Kalau kau ragu, coba saja jilat air mata papa ... jika asin maka artinya tidak berbohong," ucap Yudha melontarkan ide paling brilian yang pernah Bima dengar, sontak pria itu mendelik tajam pada saudaranya.
Terserah, Bima tidak terlalu peduli dengan teori-teori yang Yudha katakan. Pria itu lebih memilih untuk kembali menajamkan telinga demi mendengar pembicaraan papa dan ibunya.
__ADS_1
.
.
"Cukup, Mas, tidak perlu begini ... semua sudah berlalu, jangan pernah bersikap seakan kamu menyesali hari itu," ucap Bu Seruni seraya menghela napas panjang, sama sekali tidak dia duga jika pembicaraan singkat tadi berakhir akan seserius ini.
Seorang Atmadjaya yang dahulu dengan tega menciptakan luka kini kembali datang dengan sejuta maaf yang dia punya. Terlambat, luka itu telanjur menganga untuk waktu lama. Bahkan Seruni tidak menyadari kapan sembuhnya, anggap saja waktu yang bicara.
"Faktanya memang aku menyesal, Runi ... kebodohanku membuatmu dan anak-anak kita terluka, kenapa sesulit itu kamu memaafkanku?" tanya Papa Atma dengan manik sendu yang tetap menunggu Bu Seruni menegaskan jika dia menerima maafnya.
"Tidak ada gunanya menyesal, sekarang Yudha dan Bima sudah baik-baik saja ... mari jalani hidup sebagaimana mestinya, aku sudah sangat bahagia bisa melihat kedua putraku tumbuh dewasa," tutur Bu Seruni pelan, tapi tetap saja jawaban itu tidak membuat Papa Atma merasa puas.
"Hatimu tetap keras ternyata, apa sampai akhir kamu tidak akan memaafkanku?" Tanpa perlu dijelaskan, Papa Atma sangat tahu sebesar apa kesalahannya, tapi entah kenapa sebelum Seruni menerima permohonan maafnya, dada pria itu seakan dihimpit bongkahan batu besar.
"Sejak dahulu aku selalu mengatakan, jika merasa bersalah minta maaflah pada anak-anak."
"Tapi kesalahanku bukan hanya pada mereka, tapi padamu juga, Runi," ucap Papa Atma bergetar dengan tatapan yang begitu lekat pada mantan istrinya.
Sejenak, Bu Seruni terdiam dan meghela napas pelan. Dia butuh waktu dan keberanian untuk mengungkapkan sesuatu yang sejak lama membelenggu hatinya.
"Jauh sebelum kamu meminta, aku sudah memaafkanmu ... aku sangat sadar, semua memang berawal karena kesalahanku. Andai aku tidak berobsesi mendapatkanmu, maka kita tidak akan begini," tuturnya tersenyum getir.
Meski terlambat, dia berusaha menebus kesalahan di masa lalu. Hampir setiap hari, setiap kali Bima mengecup punggung tangannya Bu Seruni akan melontarkan kata maaf karena memang merasa bersalah.
"Aku terlalu mencintaimu kala itu, aku menjadikanmu sebagai dunia selama bertahun-tahun ... aku bermimpi sangat indah, dan hanya kamu orang yang aku harapkan di masa depan. Sampai akhirnya, obsesi gila itu merusak semuanya."
"Aku menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian, Gilsa tersakiti hingga rasa sakit itu ternyata menyiksa Bima juga ... jangan merasa bersalah padaku, aku yang minta maaf."
Seketika Papa Atma mendadak bungkam, semua yang Seruni utarakan membuatnya sakit sendiri. Sungguh, tidak dapat dibohongi entah apa alasannya.
"Kenapa justru kamu yang meminta maaf?"
"Aku memang bencana dalam hidupmu ... seharusnya aku tidak perlu memberitahumu soal kehamilanku waktu itu."
Obsesi cintanya memang telanjur salah, tapi satu hal yang Bu Seruni sesali adalah mengakui soal kandungannya pada Atma. Andai saja dia bungkam dan memendam semuanya sendiri, mungkin mereka akan lebih bahagia hidup bertiga.
__ADS_1
"Jadi kamu berpikir semua berawal dari sana?"
"Hm, bukankah begitu? Andai aku diam mungkin hidupmu tidak akan serumit ini ... aku tidak menyesali kehadiran Bima dan Yudha, hanya saja aku menyesal telah merusak kebahagiaan yang sudah kalian tata."
"Tidak, Runi, aku lah yang merusak kebahagiaanku sendiri ... aku menghancurkan semua itu, bahkan dengan sengaja melepaskannya beberapa hari setelah dia melahirkan kedua putraku," ucap Papa Atma tanpa mengalihkan pandangan dari Seruni, manik tajam yang dahulu menatap dengan sorot kebencian kini terganti seolah tengah meminta belas kasihan.
Bingung, terkejut dan ucapan Papa Atma seolah tidak dapat dipercaya. Dia yakin telinganya tidak salah dengar, tapi bibir Seruni seakan kelu dan memilih berlalu tanpa mengucapkan apa-apa.
"Seruni tunggu!!"
"Sudah malam, jika Yudha tahu aku belum tidur dia pasti marah," ucap Bu Seruni berlalu pergi tanpa menoleh sedikitpun.
Papa Atma yang mengerti jika wanita itu sempat sakit parah hingga harus dioperasi tidak lagi memaksa untuk terus bicara padanya. Walau masih banyak yang ingin dia katakan, tapi rasanya sudah cukup dan jiwanya sudah sedikit lebih tenang.
.
.
Tanpa sadar, pria itu menarik sudut bibirnya begitu tipis seiring dengan langkahnya. Sekian lama tidak bicara, dia kembali merasakan kehangatan dari pemilik suara lembut itu. Senyum itu semakin mengembang, hingga raut wajahnya sontak berganti kala menyadari gorden yang menutupi jendela kaca itu tampak menyembul.
"Dasar penguntit, kalian sedang apa?" tanya Papa Atma dengan suara yang seketika berbeda, tidak lembut seperti bicara pada Bu Seruni, melainkan khas Atmadjaya Aksa yang menangkap basah pencuri di rumahnya.
"Ehm lap kaca, Pa," jawab Yudha asal bicara lantaran tak mampu lagi berkutik.
Wajah mereka mendadak pucat kala Papa Atma membuka tirai tanpa aba-aba. Mungkin mereka pikir tidak akan ketahuan, keduanya sama sekali tidak sadar diri jika mereka bukan anak-anak lagi.
"Sejak kapan kalian di sini?"
"Aku baru, Pa, Yudha yang sudah lama ... sungguh."
Setelah kejadian tadi siang, malam ini Bima mendadak balas dendam, Dia menyelamatkan diri sendiri dan membuat Yudha terjebak situasi. Lebih menyebalkan lagi, dia mampu mencari alasan yang lebih baik dari Yudha hingga berlalu pergi dengan langkah seribu andalannya. "Dasar Kampret!! Benar-benar kau Bima!!"
"Hei kau mau kemana? Jawab pertanyaan papa dulu."
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -