Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 121 - Tidak Sesederhana Itu


__ADS_3

"Raja?"


Bima menelan salivanya pahit, dia benar-benar lupa soal Raja. Tepatnya, terbawa suasana dengan Gilsa yang memancing emosinya. Bima menatap Lengkara yang juga sama bingungnya, mungkin saat ini batin mereka mempertanyakan hal yang sama.


Baru saja Bima hendak berlutut demi menenangkan Raja, lelaki itu berdiri dan menarik napas dalam-dalam. Kepalanya sakit, pandangannya tertutup kabut kesedihan, tapi bibirnya dipaksakan untuk tersenyum kala menatap mata Bima.


"Kau harusnya tidur, kenapa di sini?"


"Apa mamaku memang sejahat itu, Kak?" Suara Raja terdengar bergetar, dia sakit jujur saja.


Bukan sakit karena Bima mencaci maki sang mama, tapi sebaliknya. Apalagi, dia bisa mendengar suara Gilsa di balik telepon, jelas Raja memahami sejahat apa mulut mamanya. Niat hati tidak ingin merahasiakan apapun dari sang istri, tapi justru berakhir begini dan bukan keinginan Bima sebenarnya.


"Aku malu."


Hanya itu yang Raja utarakan, dia malu. Terlebih lagi, mengingat bagaimana dirinya selama ini, diutamakan dan memang dirajakan oleh kedua kakak dan papanya, mengetahui jika dia anak dari selingkuhan ibunya jelas dia malu. Terlebih lagi, dari seorang wanita yang merasa berkuasa dan menginjak-injak putra Atmadja yang sesesungguhnya.


"Kau tidak bersalah, Raja ... jangan sehancur ini."


Benar kata Yudha, meski sempat tidak mengakui ternyata dia terluka melihat hancurnya Raja. Hanya saja, Bima bukan kakak yang romantis seperti Yudha, mana mungkin dia akan menyeka air mata Raja di hadapan Lengkara.


"T-tapi, Kak ...." Raja sesenggukan, sungguh dia memang sehancur.


"Duduklah, jangan di sini malu dilihat pak Iwan," tutur Bima menuntun Raja untuk duduk ke sofa, setidaknya kalau pingsan tidak ke lantai, pikir pria itu.


Namun, isak tangis Raja kian pilu dan dia yang tidak terarah membuat hati Bima porak-poranda. Sial, sejak kapan hatinya hati begini, padahal dahulu dia akan memaki Raja dalam hati jika sang adik merengek dan menangis layaknya bayi agar keinginannya bisa dipenuhi.

__ADS_1


"Raja berhenti, kau seperti perem_"


"Orang nangis tu ditenangin, bukan dibentak, Mas."


Niat untuk memeluk memang ada, tapi gengsi di hadapan istri. Alhasil, Lengkara yang ambil alih dan menarik Raja dalam pelukan. Sontak mata Bima membola dengan mulut yang kini menganga, lebih menyebalkan lagi Raja justru pasrah dan terlihat nyaman di pelukan kakak iparnya.


"Mod_"


"Mas, Bima!!" Mata Lengkara mendelik hingga Bima hanya bisa pasrah dan duduk di hadapan mereka.


"Modus sekali, Ah Lengkara dia playboy asal kau tahu!!"


Menyaksikan bagaimana Lengkara menenangkan Raja yang masih terus terisak hati Bima tak karu-karuan. Beruntung saja Lengkara tidak memeluknya begitu lama, wanita itu mencoba bicara dan menenangkan Raja dengan pengalaman yang dia punya.


Maklum, masalah menenangkan seseorang Lengkara adalah ahlinya, tidak sia-sia dia menjadi pengasuh tanpa gaji selama ini. Dia mengerti kesedihan Raja, jelas sama hancurnya seperti Bima.


Tidak mengapa, toh dia juga tidak bisa sebaik Lengkara. Untuk saat ini, dia kembali fokus dengan ponselnya. Pesan singkat dari Gilsa hanya membuatnya tersenyum tipis, umpatan, cacian dan makian serta sumpah serapah yang Gilsa layangkan hanya Bima anggap lelucon semata.


Jika dilihat dari pesannya, jelas wanita itu tidak terima dengan apa yang Bima lakukan. Gilsa masih menuntut keadilan, jika Bima bayangkan saat ini mungkin dia tengah berontak di depan rumah utama.


.


.


Benar saja, sesuai dugaan di kediaman utama keluarga Atmadja tampak Gilsa yang marah besar kepada para penjaga yang menghalangi jalannya. Dia murka, sudah berulang kali dia mencoba dan semua yang kemarin tunduk kini berani menatapnya tanpa takut.

__ADS_1


"Kalian mau dipecat? Dengar ya, akulah nyonya di rumah ini ... yang seharusnya kalian patuhi adalah aku, bukan Bima!!" pekik Gilsa benar-benar marah, dia menatap tajam satu-persatu penjaga yang melemparkan tas berisikan pakaiannya.


"Sekarang tidak lagi, sesuai dengan permintaan tuan Bima setelah Anda resmi berpisah denga tuan Atma maka Anda harus angkat kaki dari rumah ini."


Gilsa terdiam kala mendengar suara tegas Pak Chan, dia memperbaiki rambutnya yang sedikit acak-acakan akibat mencoba melawan dua penjaga yang menghalanginya.


"Oh jadi kau yang menjadi pengkhianatnya? Ya, salahku kenapa tidak menyingkirkanmu sejak dulu," ucap Gilsa menatap Pak Chan dingin, dia mengepalkan tangan seraya mengeraskan rahang.


Sejak dahulu mereka memang Gilsa sudah meyakini Pak Chan berbahaya. Berkali-kali dia mencoba agar Atma menyingkirkannya, tapi ternyata percuma. Tanpa Gilsa ketahui, setelah tiga puluh tahun seorang Chandra justru menjadi duri yang paling beracun dalam rumah tangganya.


"Hahah iya, Anda memang salah ... silahkan sesali seumur hidup. Pergilah, Nyonya selagi kami masih bersikap baik," tekan Pak Chan sekali lagi, sejak lama dia menunggu masa ini, tapi Atma yang bodoh baru tergerak hatinya ketika Bima yang bertindak.


"Ck, sungguh tidak dapat dipercaya, jadi kalian benar-benar tidak menghargai aku? Aku masih berhak dan rumah in_"


"Atas nama tuan muda Bima, sedari Bima kecil suami Anda sudah merencanakan hal itu, dan sejak Bima berusia 17 tahun dia adalah pemilik istana yang kau bangga-banggakan ini ... harusnya kau bersyukur Bima tidak mengusirmu sejak lama."


"Mas Atma benar-benar keterlaluan!! Kenapa bisa aku tidak tahu soal ini."


"Selamat siang, Ibu Gilsa," sapa seseorang dengan suara tegas yang membuat Gilsa mendadak lemas.


"Apalagi ini!! Kau memang kurang ajar Bima!!"


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2