Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 155 - Sama Iyanya


__ADS_3

"Kenapa masalahku tidak ada habisnya."


Bima bergumam pelan, setelah tenang lantaran sang istri tidak marah berkepanjangan kini dia kembali dibuat sakit kepala akibat memikirkan hadiah pernikahan sang papa yang dia hancurkan waktu itu.


Wajahnya memang terlihat amat tenang, seolah berita yang tengah disiarkan di televisi itu memang dia nikmati. Namun, yang terjadi saat ini sangat jauh berbeda. Lain yang dilihat, lain pula yang dia renungkan.


"Seorang pria di kota A terpaksa dilarikan ke rumah sakit setelah cekcok dengan ayah mertua ... hal itu bermula lantaran korban terlibat asmara terlarang dengan ibu mertua yang membuat ayah mertuanya nekat menusuk korban dengan senjata tajam."


"Awwww ...."


Lengkara mendesis mendengar berita siang ini. Matanya membulat sempurna dengan mulut yang kini menganga, dia berceloteh dan menegaskan pada Bima bahwa dunia memang sudah gila. Sayangnya, sang suami diam saja hingga Lengkara menepuk dadanya.


"Mas?"


"Hah? Kenapa, Sayang?" tanya Bima menatap sang istri yang sejak tadi tidur di pangkuannya, mata tajam Lengkara kembali menimbulkan tanya.


"Mas yang kenapa? Ada masalah memang?"


"Haha tidak, acaranya lucu jadi tidak dengar," jawab Bima sangat-sangat membuat Lengkara curiga.


"Lucu? Lucu dari mananya? Itu tragis, Mas." Dia bangun dan kembali membahas berita yang kini tengah panas-panasnya.


"Oh iya? Bisa kamu jelaskan?"


Tidak lelah Lengkara memberikan penjelasan agar pikiran Bima terbuka. Tidak tanggung-tanggung, Lengkara membuat berita yang tadinya mungkin terdengar biasa saja di telinga Bima berubah menjadi berita paling menakutkan yang pernah ada.


"Ditusuk?" tanya Bima memastikan, jujur saja dia tidak mendengar berita di televisi itu dengan jelas sebenarnya.


"Hm, korban lagi enak-enak tidur ditusuk sama mertuanya!!"

__ADS_1


Mata Bima membulat sempurna, pikirannya semakin liar saja. Sejak tadi dia memikirkan mertua, permasalahan dengan mertua dan kini berita di televisi membahas mertua dan menantu yang membuat Bima ciut seketika.


"Auh mengerikan, ganti saja acaranya ... dunia memang semakin gila, kenapa tidak damai dan diselesaikan baik-baik? Kan sama menantu sendiri, harusnya dimaafkan, kan itu khilaf." Panjang lebar Bima bicara, pernyataan Bima kali ini sempat membuat Lengkara bingung seketika.


"Hah? Kenapa Mas bela menantunya? Ini perselingkuhan loh, bisa-bisanya."


"Oh iya juga ya, ah sudahlah kenapa kita jadi berdebat, mereka yang selingkuh kita yang panas," pungkas Bima mengakhiri pembicaraan dan segera mengganti acara televisi yang lain.


"Mas aneh, orang salah dibelain," gumam Lengkara seraya mencebikkan bibir, tapi secepat mungkin dia juga berusaha untuk kembali fokus dengan acara televisi yang kini sudah berganti.


Ya, gosip selebritis jadi pilihan kedua. Bingung juga kenapa Bima memilihnya, padahal sejak dahulu Bima anti sekali melihat hal-hal semacam itu dan dia memang tidak begitu peduli dengan kehidupan pribadi orang lain.


Sayangnya, pilihan Bima kali ini tidak dapat dipastikan benar. Acara yang dia pilih justru membuat Lengkara semakin sedih, "Ini lagi, orang-orang kenapa pada selingkuh semua? Aduh Mas lihat Itu!! Istrinya lagi hamil tega selingkuh sama karyawannya ... arrggh jahatnya, hatiku sakit melihat drama rumah tangga orang-orang ini!!"


"Ya, Tuhan!! Apa lagi ini?!"


Bima mengusap wajahnya kasar, ini adalah sebab kenapa dia tidak suka menonton televisi. Sejak menikahi Lengkara saja Bima beberapa kali menghabiskan waktu demi mendengar berita semacam itu, kalau tidak sensasi, perselingkuhan terkadang juga kontroversi yang membuat Bima tidak habis pikir.


.


.


"Takut? Takut kenapa, Ra?"


"Kata presenternya, awal mula perselingkuhan artis itu kebongkar karena suaminya kebanyakan diem dan melamun loh, hayo mau bilang apa kamu?"


"Astaga pikiranmu, kamu berpikir mas akan melakukan hal segila itu? Dengarkan mas ... berita-berita semacam itu tidak dapat kamu jadikan tolak ukur bahwa laki-laki semuanya sama, masih banyak laki-laki setia cuma tidak diumbar saja, Sayang." Bima berucap begitu lembut usai mematikan televisi yang membuat pikiran keduanya kian runyam, tidak dapat dipungkiri bahwa televisi di hadapan mereka adalah akar masalahnya.


"Lalu kenapa Mas melamun sejak tadi? Tidak fokus, aku ajak ngomong juga kebanyakan diemnya? Ada masalah ya? Coba cerita, masalah di kantor atau di rumah yang buat Mas sakit kepala?" tanya Lengkara beruntun, tapi tetap selembut itu lantaran khawatir Bima jadi malas untuk bercerita.

__ADS_1


"Bukan dua-duanya," jawab Bima kemudian mengatupkan bibir, demi Tuhan hal ini benar-benar mengusik ketenangannya.


"Lalu apa?"


"Guci papa, Ra ... Mas tidak tenang, takut kalau papa benar-benar marah bagaimana?" tanya Bima terlihat begitu khawatir, detik itu juga Lengkara terbahak dan menepuk wajah sang suami yang tampak pasrah begitu saja.


"Sayang, Mas serius, tolong kasih pencerahannya kali ini, nanti malam ulang tahun Hudzai loh. Sampai papa tanya di depan semua orang, bisa mati, Ra."


"Hahaha tenang saja, aku sudah kasih tahu papa tadi. Papa bilang tidak masalah," ungkap Lengkara seketika membuat Bima menghela napas lega.


"Be-benarkah? Kamu tidak bohong, Sayang? Tapi kenapa Papa semudah itu memaafkan? Bukannya itu guci mahal?"


"Katanya dulu begitu, tapi tadi Papa bilang kalau guci itu sebenarnya imitasi juga hahaha," jawab Lengkara disertai gelak tawa yang kemudian menular pada Bima. Cukup lama keduanya tenggelam dalam kebohongan, nyatanya benda itu tidak asli dan Papa Mikhail tengah berbohong pada mereka.


"Hahaha jadi papa bohong?"


"Iya, kenapa kita tidak sadar ya, papa kan tukang bohong," timpal Lengkara lagi, agaknya Bima mulai bisa diajak bergosip setelah ini.


"Iya juga, mas lupa kalau kata kak Zean terlalu percaya pada papa disebut juga sebagai_"


"Musyrik!!" lanjut Lengkara cepat, semangat sekali dia diajak menggunjingkan papanya.


"Bukan mas yang bilang, tapi kamu ya, Ra."


"Ih kan memang benar, kata kak Zean beg_"


"Ehem!! Papa lihat kalian bahagia sekali ya."


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2