
Tidak habis-habis kebahagiaan Papa Mikhail. Penerus Megantara junior kembai bertambah setelah empat tahun kelahiran putra Sean. Tidak ada yang namanya pilih kasih seperti dugaan Zean, otak pria itu saja yang terlalu picik dalam berpikir dan menganggap tengah hidup di lingkungan kerajaan.
Bahkan, setelah satu bulan kepulangan Lengkara dari rumah sakit, Hudzaifah tetap berada di sisi opanya demi bisa berdekatan dengan malaikat kecil itu, begitu juga dengan cucu Mikhail lainnya. Anak-anak mereka tampak akur saja, hanya orangtua mereka saja yang berdebat tiada habisnya.
Setelah melahirkan, Lengkara begitu dimanjakan banyak pihak. Tidak hanya suami, tapi juga keluarga besarnya, persis seorang tuan putri. Terkadang, dia mendadak ingin punya anak lagi jika diperlakukan semanis ini.
Tugasnya hanya sebatas menyusui, itu juga dibantu Bima. Sementara yang lain suami dan mamanya yang turun tangan, sungguh indah sekali nikmat seorang ibu yang Lengkara rasakan.
Setelah sekian lama, Lengkara melewati ujian cinta, bahkan menjalin asmara enam tahun lamanya gagal juga akhirnya bertemu titik bahagia. Dia kembali pada dudanya, Bimantara Aksa yang datang dengan versi terbaik dalam hidup Lengkara setelah tiga tahun berpisah.
Sebuah penyatuan setelah sama-sama berdiam diri untuk menyadari perasaan. Satu tahun lalu mereka kembali mengikrar janji setia, dengan tujuan yang sama untuk mencapai bahagia. Tanpa terduga, Tuhan tidak menunda kebahagiaan mereka kedua kalinya.
Setelah satu tahun pernikahan, mereka dikaruniai dua malaikat kecil yang akan menjadi pelengkap keluarganya. Mata Bima seakan tidak pernah lelah untuk selalu terjaga demi buah cintanya, Dewantara Aksa dan Dewangga Pramudya Aksa.
Dua dewa yang membuat Lengkara hidup sehidup-hidupnya. Bukti nyata dia mencintai Bima, tidak hanya sekadar bersedia menjadi rumah, tapi juga mengikat Bima dalam penyatuan darah.
Seperti biasa siang ini Lengkara akan menyusui putranya di bawah pengawasan Bima. Cukup lama Lengkara pandangi bibir mungil putranya, entah karena salah lihat atau memang nyata, tapi sungguh dia bingung kenapa hal ini bisa terjadi.
"Kenapa, Sayang?" tanya Bima bingung, sejak beberapa hari putranya lahir, tatapan Lengkara selalu sama jika tengah memandangi Dewantara.
"Bibirnya," sahut Lengkara tersenyum tipis, sedikit lucu tapi memang nyata adanya dan hal itu membuat Lengkara geli.
__ADS_1
"Kenapa memangnya? Bagus, bibirnya belah."
"Mirip kak Zean, kenapa bisa begitu ya?" Mendadak frustrasi, Lengkara menggeleng pelan dan mengecup putranya begitu lama, aroma tubuh Dewantara benar-benar menjadi candu baginya.
Bukan pertama kali Bima mendengar hal itu. Sejak masih begitu merah, Zean sudah menegaskan jiwa salah-satu putra mereka memiliki kemiripan dirinya. Namun, beberapa anggota keluarga mengatakan jika Zean terlalu percaya diri dan bisa saja salah lihat.
Hingga, seiring dengan berjalannya waktu, bibir Dewantara semakin mirip Zean dan Bima jelas harus menerima fakta itu. Toh tidak ada salahnya, wajah kedua putranya adalah perpaduan keluarga Lengkara dan dirinya, ya meski tetap saja dominan keluarga Lengkara dan Bima lebih dominan dapat hikmahnya.
"Ya wajar saja, kan masih ada hubungan darah," tutur Bima tersenyum simpul.
"Tapi kenapa harus mirip bibir kak Zean? Seperti tidak ada pilihan lain saja, Dewa ih!" Lengkara gemas sendiri, di saat bersaman putranya justru tersenyum seolah mengerti ucapan sang mama.
"His, kamu itu ya harusnya mirip papa, bibir papa adalah bibir terbaik di dunia loh, Nak, tahu kamu?" tanya Lengkara pada sang buah hati seakan Dewantara sudah bisa diajak bercanda.
"Oh iya? Kenapa begitu, Ra?" Dewantara yang ditanya, Bima yang menjawab hingga Lengkara mengullum senyum.
"Ehm, karena hanya bibir kamu yang bisa aku nikmati seumur hidup," jawabnya mengedipkan mata hingga membuat Bima kini memerah.
"Ck, jangan digoda aku tersiksa, Ra." Bima memelas hingga membuat Lengkara tertawa pelan, bahagia sekali dia melihat Bima yang seperti itu.
Jika biasanya dokter khawatir suami lepas kendali dan tidak sanggup puasa selama masa niffas, terkhusus pasangan ini justru berbeda. Mikhayla yang turun tangan dan menjelaskan bahayanya pada Lengkara, dia khawatir saja keduanya melanggar hal itu.
__ADS_1
"Tersiksa? Mau aku bantuin, Mas? Aku bisa pakai tang_"
"Shuut!! Kamu tidak malu bicara di depan Dewa? Dia senyum lagi itu." Bima sudah biasa menghadapi sang istri yang kerap di luar nalar akhir-akhir ini, dia menempelkan jemari tepat di bibir Lengkara agar bisa diam.
"Hihi iya, dia lagi mikir apa ya sampai senyum begini."
"Mungkin dia sedang bertanya pada Tuhan," jawab Bima tampak serius seraya menatap lekat Lengkara.
"Oh iya? Tanya apa?" Lengkara kini tampak berpikir, dia juga penasaran jujur saja.
"Hm mungkin begini, ' Ya, Tuhan kenapa mamaku messum sekali?' gitu kira-kira," jawab Bima sebelum menjauh dan loncat dari atas tempat tidur, sebuah tatapan tajam melayang bersamaan dengan bantal yang Lengkara lempar ke arahnya.
"Mas Bima balik!! Mau kemana kamu? Hah?" teriak Lengkara kala Bima sudah berlalu pergi dan menghilang dari balik pintu kamar.
"Benar begitu, Dewa? Mama messum? Hm? Iya kah, yakin Mama messum?" Setelah Bima pergi, dia beralih pada Dewantara yang kini terlelap dan kembali mengulas senyum usai Lengkara bicara.
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1