
Layaknya pasangan yang baru saja menikah, Bima membawa sang istri ke hadapan orang tuanya beberapa hari setelah mereka melangsungkan pernikahan. Seperti yang dia katakan, niat untuk membawa Lengkara ke hadapan papanya jelas saja ada.
Meski tidak tahu bagaimana reaksi papanya, yang jelas Bima akan membawa Lengkara lebih dulu. Dari penuturan Yudha, papanya tidak lagi membahas masalah Bima akhir-akhir ini, entah kecewa atau hanya marah lantaran sandiwaranya pagi itu tidak Bima pedulikan sama sekali.
"Mas kenapa?"
"Ti-tidak, Ra."
Lengkara bingung, seharusnya dia saja yang gugup, bukan Bima. Anehnya, pria itu justru pucat pasi dengan tangan yang begitu dingin. Mereka tiba di Semarang sebelum siang, untuk kepergiannya kali ini sang mertua melarang berkendara sendiri.
Bima tidak mengatakan pada Papa Atma akan tiba jam berapa, tapi ketika di Bandara pak Chan sudah menjemputnya. Bima senang? Tentu saja, ketakutannya tadi bahkan gugur seketika.
Jika Pak Chan sudah turun tangan, maka besar kemungkinan yang meminta adalah papanya. Hal itu sudah cukup menjadi bukti bahwa Papa Atma peduli dan menunggu kehadirannya.
"Ini nona muda? Cantik sekali," puji pria paruh baya bermata sipit itu, Lengkara yang mendapat pujian sontak memerah dan turut tersenyum hingga matanya hanya segaris saja.
"Pak Chan ... beliau segalanya bagiku," ucap Bima mengenalkan pria yang sejak dahulu memposisikan diri seolah ayah kandung untuk Bima.
Lengkara menunduk demi menghormati pria itu. Asistennya saja terlihat sangat kaya, lantas bagaimana papanya. Mobil yang digunakan untuk menjemput mereka sudah menjelaskan jika Bima bukan berasal dari keluarga sembarangan.
Seketika Lengkara yang belum memiliki pekerjaan tetap mendadak ciut andai nanti ditanya sang mertua. Ya, walau dia juga bukan orang sembarangan, tapi sejak dahulu Lengkara tidak diajarkan untuk membanggakan nama besar papanya. Mereka terlatih mencari jalan hidup sendiri dan tidak mengandalkan warisan papanya.
Sepanjang perjalanan dia hanya membisu, memandangi hiruk pikuk kota yang menyimpan sejuta kenangan buruk dalam dirinya. Munafik jika Lengkara lupa, sedikit banyak tentu dia masih ingat. Hanya ingat, tidak lebih dan tidak pula kurang.
"Yang kita temui bukan hanya papa ... tapi juga Yudha, yakinkan hati kamu, Ra."
Lengkara kembali mengingat ucapan Bima malam itu. Dia menghela napas panjang seraya memejamkan mata. Jujur, yang membuatnya agak sedikit gusar adalah Yudha, dia tudak begitu siap jika harus bertemu pria itu.
__ADS_1
Kendati demikian, Lengkara sudah meyakinkan diri andai bertemu dia tidak akan menatap Yudha dengan dendam ataupun kekecewaan lagi, sungguh. Sama halnya seperti bertemu Bima kala itu, semua baik-baik saja karena Lengkara mengubur amarah yang membuncah dalam dirinya.
Tidak begitu lama perjalanan yang dibutuhkan untuk tiba ke kediaman orang tua Bima. Lengkara mengatupkan bibir seraya mengatur napasnya, Bima yang sejak tadi menggenggam jemari Lengkara seolah mengerti jika sang istri sama gusarnya.
"Mas adik kamu banyak ya?"
"Dua, Sayang ... kenapa memangnya?"
Banyak sekali hal yang membuat Lengkara gugup sebenarnya. Dia takut merasakan hal-hal seperti Sean yang kala itu tidak terima saudara iparnya. Untuk itu dia berkali-kali bertanya pada Bima terkait adik yang Bima maksud.
"Laki-laki semua, 'kan?"
"Hm, laki-laki semua."
Bukan tanpa alasan Lengkara begini, dahulu dia sempat membuat Nasyila tersinggung kala Zean membawa istrinya ke rumah. Meski tidak ada niat untuk membuat tersinggung, tetap saja dia takut akan karma karena memang dia akui sikap Lengkara terhadap orang baru terkadang kerap membuat salah paham.
Bima menggenggam jemarinya begitu erat. Beberapa tahun lalu papanya menunggu Bima membawakan calon menantu untuknya, kini Bima datang dengan seorang wanita yang benar-benar dia sebut sebagai istri. Meski sebenarnya Papa Atma sudah mengtahui sosok Lengkara, tapi memang untuk bertemu sama sekali belum pernah.
Biasa menyambut kakaknya membawa istri ke rumah, kali ini Lengkara merasakan posisi sebagai istri. Jangan ditanya bagaimana perasaannya, dia yang tadinya sudah gugup kini sangat-sangat gugup.
Terlebih lagi kala sudah memasuki pintu utama dan beberapa pelayan yang menunduk kala Lengkara melewatinya. Lengkara anak orang kaya, bahkan sangat kaya. Namun, di rumahnya tidak seperti ini, sekalipun ada penjaga tapi tidak diminta memperlakukan mereka bak petinggi kerajaan.
Sejauh ini belum ada Yudha, dia tidak melihat dimana pria itu berada. Hanya adiknya yang menatap Lengkara sedalam itu hingga membuat Bima mengerutkan dahi.
"Matamu biasa saja, Raja."
"Galak banget sih ... aku cuma mastiin dia artis bukan?" tanya Raja mendekat, laki-laki bertubuh tinggi benar-benar penasaran sejak Bima turun dari mobil.
__ADS_1
"Bukan, cuma mirip."
"Masa iya? Persis begitu ... Ameera, 'kan? Yang main film kujemput maut sama dua garis miring?"
Lengkara sampai takut dan mundur beberapa langkah kala pria itu semakin mendekat bahkan hendak meraih pergelangan tangannya. Jika dia perhatikan dari gelagatnya, adik Bima satu ini adalah fans berat Ameera.
"Bukan, Raja, cuma mir_"
"Ah bener, foto dulu, Kak!! Aku mau pamer ke temen-temen ... kakak iparku artis ternyata," pinta Raja benar-benar merogoh ponsel dan meminta Bima mengabadikan mereka, sungguh sopan sekali bukan.
"Sekali lagi, Kak Bima ... yang ikhlas sedikit."
Egois, pemaksa dan kerap membuat Bima tersiksa. Ya, begitulah konsep hidup Raja, adiknya. Usai meminta foto bersama, dia berlalu begitu saja dan mengecup Lengkara dari kejauhan.
"Love you, Kak Ameera!!"
Bima hendak marah, tapi hal itu terhenti kala dia mendengar langkah papanya menuruni anak tangga. Bima mendongak, dia mengulas senyum kala menatap Papa Atma diiringi mamanya dengan pakaian senada. Agaknya mereka akan pergi bersama, entah kemana yang jelas ada urusan pekerjaan.
"Pa ...."
Senyum Bima luntur kala sang papa seakan tidak menganggap kehadirannya. Jangankan menyapa Lengkara, dia bahkan pura-pura tidak melihat Bima, putranya sendiri.
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1