Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 152 - Tidak Sesuai Harapan


__ADS_3

Kepergian Papa Atma ternyata berlangsung hingga keesokan hari. Bima mana mungkin menunggu karena di Jakarta cukup banyak yang harus dia lakukan, untuk itu dia terpaksa pulang meski tanpa kehadiran papanya.


Pagi menjelang siang mereka sudah tiba di kediaman utama. Sudah tentu Bima dan Lengkara tampak seperti pengantin baru di mata para pelayan di rumahnya. Setiap pergi berdua, mereka seolah pulang dari bulan madu kemanapun tujuannya.


"Pagi, Non Kara, gimana kabarnya hari ini?" sapa pak Iwan baik-baik dengan senyum hangat yang membuat Bima mengerutkan dahi.


"Pagi, Pak ... ganteng banget mau kemana? Mau ngapelin mbak Sofia ya?"


Sebelumnya Bima sudah terkejut, tapi mendengar respon Lengkara dia makin terkejut lagi. Agaknya perasaan ini sedikit salah, tapi jujur saja Bima seolah tak terima lantaran sang istri terlalu ramah pada siapapun bahkan memuji pria lain di hadapannya secara terang-terangan.


Bima tahu memang pak Iwan sudah tua, tapi tetap saja dia sebal. Terlebih lagi kala pak Iwan yang merupakan duda lanjutan tampak salah tingkah usai Lengkara puji ketampanannya.


"Aih Non bisa saja, saya kan jadi malu."


"Hahah sudah sana, semoga berhasil," bisik Lengkara seraya mengangkat tangannya, apa perlu hal semacam itu dilakukan, pikir Bima.


Lain halnya dengan Lengkara, Bima hanya menghela napas kasar melihat kepergian pria itu. Sengaja dia menambah dua security untuk berjaga, para pekerja dapat bekerja dengan santai dan menjalani hidup sebagaimana manusia biasa yang tidak melulu harus bekerja.


"Ayo masuk, aku sudah tidak sabar mau makan durennya, Mas." Lengkara berseru seraya menarik paksa Bima agar lebih cepat.


Hanya papanya pamer durian semalam, Lengkara sampai tidak bisa tidur tenang. Entah bagaimana cara dia merayu Papa Mikhail, tapi tadi pagi Lengkara seakan tidak sabar untuk tiba di rumah hanya demi buah durian.


Bima hanya menggeleng pelan, padahal jika meminta padanya jelas saja tidak diperbolehkan. Kendati demikian, karena Papa Mikhail yang turun tangan, ya apa boleh buat.


Sama seperti Bima, mungkin Papa Mikhail juga mengutamakan kebahagiaan hati Lengkara. Selagi putrinya senang, maka sedikit durian saat hamil bukan suatu masalah.


Langkahnya kian cepat hingga Bima sendiri kewalahan dibuatnya. Tidak pernah meminta macam-macam, tapi sekalinya meminta tidak tertahankan. Bima terkekeh pelan kala genggaman tangan itu Lengkara lepas demi menghampiri Bu Seruni.


"Ibu!! Durennya mana?"

__ADS_1


Baru juga tiba, tapi yang ditanya adalah durian. Bu Seruni mengullum senyum seraya mencubit wajah menantunya yang kini semakin chubby saja. Pemandangan yang sangat amat manis untuk disaksikan seorang suami yang mencintai ibu dan juga istrinya.


"Ada di kulkas, tadi pagi Ameera yang anterin," jawab Bu Seruni mengusap pelan pundaknya.


"Asik, papa tidak bohong berarti," seru Lengkara bertepuk tangan, tenggorokannya kini seolah mengalirkan air dan tidak lagi kuasa menahan hasrat bertemu duriannya lebih lama.


"Tidak dong, Sayang ... Bima, sana." Bu Seruni meminta Bima yang turun tangan, sementara wanita itu harus menyelesaikan jaket rajut untuk sang menantu kesayangan.


.


.


Bima mengekor di balik punggug Lengkara, begitu sigap dirinya hingga ketika tiba di depan lemari es Lengkara mengedipkan mata entah apa tujuannya. Sedikit lagi dia akan dipertemukan dengan primadona yang dia dambakan sejak di Semarang.


Matanya yang berbinar dapat menjelaskan sebahagia apa dirinya saat ini. Hingga, senyum di wajah Lengkara mendadak pergi setelah lemari es itu terbuka dengan sempurna.


"Papa bohong, mana durennya." Dia mencebik, Bima yang tahu hatinya kini sekacau apa hanya bisa menguatkan Lengkara dengan usapan lembut di pundaknya.


Lengkara menggerutu, dia masih terus menatap kesal ke depan seraya merogoh ponselnya. Sudah jelas tersangka utama akan dia hubungi saat ini, besar kemungkinan Lengkara tengah meminta pertanggung jawaban dari Papa Mikhail.


"Hai, bidadarinya Papa ... kenapa telpon? Kangen?"


"Mana durennya? Papa bohong sama Kara, 'kan?" tanya Lengkara dengan suara bergetar, tangannya mengepal erat dan tengah menegaskan jika dia benar-benar marah.


"Bohong dari mana? Mana ada papa bohong ... itu sudah dikasih durennya, banyak lagi."


"Mana ada, ini mochi!!" kesal Lengkara meninggi, gelak tawa Papa Mikhail terdengar jelas di sana. Sontak hal itu membuat Bima tidak kuasa menahan tawa.


"Ya kan benar, duren dalam bentuk mochi."

__ADS_1


"Papa!!" Geram sekali rasanya, gigi Lengkara bergemelutuk dan rahang wanita itu kini mengeras, kecewa sekali kala harapan tidak sesuai ekspetasinya.


"Hahaha sudah sana, jangan telepon Papa ... lagi sibuk mau nonton bioskop sama mama," ucap sang papa sebelum kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.


"Pa? Papa? Hallo? Eeugh!! Ngeselin semua!!"


Menyisakan mereka berdua, jelas saja Bima harus mengubur dalam-dalam gelak tawanya. Dia menatap lekat sang istri yang kini menoleh ke arahnya, bisa dipastikan sebentar lagi sang istri akan melemparkan amarah padanya.


"Mas kenapa senyam-senyum begitu? Lucu ya?"


"Tentu saja, sangat-sangat lucu," balas Bima tanpa takut sedikitpun, sama sekali dia tidak peduli andai nanti telapak tangan Lengkara mendarat di pipinya.


"Semua laki-laki memang sama, habisin tu mochi!!" kesal Lengkara berlalu pergi meninggalkan Bima yang kini kembali terbahak hingga perutnya merasakan sakit.


Tidak anak, tidak papanya semua benar-benar lucu. Bima beruntung sekali berada di lingkungan keluarga sehangat itu. Tidak ingin istrinya semakin marah, pria itu bermaksud menghampirinya di kamar.


Namun, baru saja hendak meniti anak tangga, Bima menghentikan langkah kala menatap kotak perhiasan yang tampak familiar di dalam lemari kaca. Aneh, benda itu tidak tersimpan di tempat seharusnya.


"Kalung ini? Bukannya ... Bi, papa datang kesini selama aku pergi?" Di tengah kebingungan Bima, salah-satu pelayan berada di dekatnya, kebetulan sekali.


"Ti-tidak, Den."


"Oh iya? Sampai bohong saya potong gajinya mau?"


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2