
Berani berbuat, maka harus berani pula bertanggung jawab. Ya, begitulah faktanya. Satu hari pasca kepulangannya ke tanah air, Bima segera kembali mendatangi tanah kelahiran mantan istrinya. Seperti yang sempat dia katakan, tujuan pulang kali ini adalah untuk meminta restu Mikhail, mantan mertua sekaligus calon mertuanya.
Nyali Bima besar juga untuk menginjakkan kaki di kediaman keluarga Megantara. Sebuah hunian mewah yang menampilkan dua istana mewah dengan bentuk hampir sama di sana, gambaran keluarga harmonis yang begitu menyayangi anak-anaknya.
Namun, dengan bodohnya, Bima menciptakan luka dan membuat permata keluarga itu merasakan pahitnya pernikahan. Dia tahu akan berat, dan itu pasti. Sebenarnya bisa saja dia kembali pada Lengkara dengan cara yang lain, tapi untuk kali ini dia ingin mecoba dengan baik-baik.
Sebelum melangkah lebih jauh, jelas dia sempat mengutarakan niatnya pada Zean, mantan kakak iparnya. Bukan tanpa alasan, meski terkesan menjilat, tapi Bima ingin tahu cara meluluhkan hati Papa Mikhail. Maklum saja, dia tidak memiliki pengalaman mendatangi anak gadis orang sebelumnya.
Bermodalkan oleh-oleh khas kotanya dan keyakinan dalam diri, Bima perlahan melangkahkan kaki menuju gerbang utama. Dia tidak memiliki keberanian untuk masuk begitu saja, khawatir kedatangannya sama sekali tidak diterima.
"Cari siapa, Mas?"
Penjaga rumah telah berganti, jauh lebih muda dan mungkin usianya di bawah Bima. Pria itu tampak asing di mata Bima, apa mungkin om Bastian tidak lagi di sana, pikirnya.
"Cari papa ehm maksudnya pak Mikhail, apa beliau ada di rumah, Mas?"
Bima masih berbasa-basi tentu saja, sebelumnya Bima sempat memastikan keberadaan papa Mikhail pada Zean. Pria itu mengatakan jika akhir-akhir ini memang Mikhail tidak diizinkan berkeliaran keluar rumah membawa cucunya pasca Azkara dan Hudzaifah masuk selokan akibat menghindari seekor an-jing ketika lari pagi bersamanya.
"Sebentar saya pang_"
"Nak Bima ... benar, 'kan?"
__ADS_1
Bima terperanjat sekaligus tenang seketika kala menyadari kehadiran pria yang tampak menua itu menghampirinya. Bima membatin, dan sejenak bersyukur lantaran orang kepercayaan keluarga ini masih sehat-sehat saja.
"Mahen pulanglah, biar ayah yang jaga di sini ... kau istirahat saja, besok kerja," tutur om Babas pada pria tampan yang Bima kira adalah putranya, seketika Bima merasa jika posisinya terancam.
Setelah mendengar percakapan mereka, Bima baru ingat jika ini akhir pekan. Maklum saja, sejak tidak lagi memimpin perusahaan, pria itu benar-benar diminta pensiun dini hingga tidak begitu memerhatikan tanggal dan juga hari.
Jika ditanya Bima sibuk apa sekarang, hingga detik ini dia hanya menikmati waktu setelah bertahun-tahun tenaga dan otaknya dipaksa bekerja. Andai Mikhail bertanya, mungkin dia akan bungkam terkait pekerjaan sekalipun aset dan beberapa saham di banyak perusahaan tertera atas namanya.
Sebelum benar-benar bertemu, dia sudah keringat dingin dan khawatir akan menerima perlakuan yang buruk sekalipun memang pantas sebenarnya. Bima mengekor di belakang om Babas, agaknya mantan papa mertuanya itu sibuk sekali hingga harus ditemui begini.
Tiba di sana, benar saja dugaan Bima. Pria yang begitu Bima segani itu tampak dengan pakaian bak petani dan cangkul di tangannya, sama sekali tidak Bima duga jika tanah kosong di belakang rumah mewah itu disulap menjadi sebuah perkebunan.
Mungkin begitu cara menikmati hidup, dia lihat-lihat tubuhnya justru masih tetap bugar meski tidak muda lagi. Mikhail belum menyadari kehadiran Bima di sana, dia masih terus fokus dengan pekerjaannya dan berteriak kala menemukan sesuatu di sana.
Bima bergidik, seketika dia mundur beberapa langkah kala melihat cacing yang menggeliat di tangan pria itu. Saat itu juga dia sadar jika yang mendekat bukan hanya Bastian, tapi ada tamu yang seketika membuat raut wajahnya berubah.
"Bas ... siapa yang mengizinkan dia masuk?" tanyanya dingin, sementara cacing super besar itu masih dia pegang.
"Bima datang baik-baik, ada yang ingin dia sampaikan pada Anda, Tuan."
Tidak ada tatapan bersahabat dari Mikhail, yang ada hanya kemarahan. Bisa dipastikan juga penuh kebencian, wajar saja Zean sedikit terkejut kala Bima menyampaikan niatnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Pa."
Bima berusaha untuk bersikap sopan, meski cacing yang ada di tangan papa Mikhail seolah menari-nari dan membuat Bima meremang, sebisa mungkin dia tenang. Bima menunduk, dia menyerahkan oleh-oleh yang dia bawa, tidak bermaksud menyuap, tapi itu salah-satu caranya.
"Waalaikumussalam, mau apa lagi?"
Meleset dari dugaan, beliau tidak melunak dan membuat Bima hampir putus asa. Cukup lama dia bertahan dengan posisi itu hingga tangan Bima agak sedikit lelah. Beruntungnya, beberapa saat kemudian om Bastian menerima oleh-oleh dari Bima, atas perintah meski memang tanpa suara tentu saja.
"Lain kali tidak perlu ... aku tidak akan melunak hanya karena lumpia!!"
Bentakan itu cukup keras, tapi Bima tersenyum tipis mendengarnya. Kenapa bisa tahu salah-satu isinya, apa mungkin Mikhail yang diam sebenarnya tengah memerhatikan yang dia bawa atau bagaimana? Ya, begitulah batin seorang Bima yang kini dirundung kebingungan.
"Bicaralah, ada perlu apa kau datang kemari?" Kali ini serius, detik itu juga Bima mengangkat wajah dan mengutarakan niatnya.
Lucu, sudah Bima duga reaksi yang dia terima kemungkinan seperti ini. Pria itu terbahak, bukan karena lucu tapi seolah menertawakan Bima. Tidak apa, Bima tahu rasa sakit hati papa Mikhail teramat besar sebagaimana kata Lengkara, jadi wajar saja ketika sembilu yang dulu lancang menggoresnya datang lagi, dia teriris.
"Hahah ya Tuhan, lucu sekali ... aku pikir kau bahkan tidak punya keberanian untuk menginjakkan kaki ke rumah ini, tapi ternyata kau masih memiliki keberanian untuk menatap mataku. Hebat!! Aku suka pria pemberani dan agak sedikit tidak tahu malu sepertimu."
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -