Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 43 - Part Of Yudha


__ADS_3

"Ada, dia bersamaku sekarang ... apa kau ingin bicara dengannya, Yudha?"


Jika Lengkara dibuat terdiam mendengar nama Yudha, di sisi lain pria yang dimaksud tampak tersenyum penuh makna. Lengkara ada dan tengah bersama Bima, itu artinya kepergian Bima tidak sia-sia.


"Tidak, Bim ... aku hanya memastikan kau bertemu dengannya," jawab Yudha kembali menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.


Hendak bangun masih terlalu pagi, udara pagi ini masih terlalu dingin. Yudha yang dahulu pernah berjanji tidak akan bermalas-malasan andai diberikan kesempatan normal, terkadang belum bisa dia tepati.


"Kau yakin, Yudha?"


"Iya, sampaikan saja salamku padanya," ucap Yudha sebelum kemudian mengakhiri sambungan teleponnya.


Sejak kepergian Lengkara, Yudha memang benar-benar melepasnya. Selain karena telanjur menyeret Bima dalam permainannya, Yudha juga malu pada pihak keluarga Lengkara.


Penolakan yang dia berikan pada Lengkara tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Bahkan dia memohon untuk kembali di saat saudaranya sudah menjadi suami Lengkara, besar kemungkinan Bima tahu soal itu. Namun, saat itu juga Yudha memang menolak.


Menurutnya, dunia Lengkara masih panjang dan alangkah kasihannya jika harus terputus demi menjadi seorang pengasuh. Begitu mendengar pengakuan Bima bahwa menemukan Lengkara dalam versi yang lebih baik, jelas Yudha lega.


Bagaimana tidak dia lega, selama ini hanya meraba bagaimana kehidupan Lengkara setelah dunia sang kekasih jungkir balik karena keegoisannya. Sebuah keputusan menggebu akibat kekhawatiran berlebih di titik putus asa yang ternyata membuat Lengkara tersiksa.


Dia yang memohon, bahkan meminta Bima turut memohon demi memberikan izin agar Lengkara menjadi milik Bima dengan segudang janji yang Yudha ucapkan. Namun, pada akhirnya janji itu tidak bisa ditepati dan berakhir menyakiti Lengkara dua kali.


Bukan main kecewanya Yudha pada Bima yang tiba-tiba menjatuhkan talak tanpa dibicarakan lebih dulu. Karena itu pula, Yudha semakin merasa hidupnya tidak berguna bahkan enggan ditemui siapapun lantaran terlampau malu.


Hingga kini, rasa tidak percaya diri seorang Yudha memang melekat sempurna. Sekalipun saat ini dirinya merupakan seorang Direktur utama di perusahaan papanya, perasaan itu tidak berubah. Bagi Yudha, sudah terlalu banyak cacatnya jika dia yang maju untuk menggapai Lengkara.


Terlebih lagi, kala dia menyadari bagaimana kehidupan Bima yang semakin lama semakin kacau pasca perceraian terjadi. Sudah dia duga dari awal, bahwa Bima tidak akan mampu menolak pesona Lengkara, sayang saja tidak bisa lebih sabar.


Untuk itu, dia melepas semua tentang Lengkara karena tidak ingin kembali menyiksa dua batin orang-orang dia sayangi, Bima dan juga Lengkara sendiri. Tidak masalah kenangan bertahun-tahun itu terganti oleh pria lain, semua terjadi juga karena dirinya sendiri.


"Huft ... sudah tahu tidak pandai merayu, salahmu kenapa ditalak, Bim."


Yudha tertawa sumbang membaca pesan singkat dari Bima, agaknya pria itu kesulitan hendak membicarakan apa. Membayangkan Bima mencoba bercanda, tapi Lengkara tidak memberikan reaksi benar-benar lucu.

__ADS_1


Seorang Bima sampai bercanda demi bisa mencairkan suasana, padahal selama ini Bima bahkan mencari cara demi menghindari pembicaraan dari orang-orang di sekelilingnya.


Tidak berselang lama, pintu kamarnya kini terbuka. Yudha menghela napas kasar kala mendapati Arjuna, sang adik yang sudah berdiri dengan pakaian yang membuat Yudha mengerutkan dahi.


.


.


"Kau mau kemana?"


"Lari pagi," ucapnya santai dan kini duduk di tepian tempat tidur.


Bersama Bima mungkin tidak bisa akur, pria itu terlalu kaku dan tidak mampu mengimbangi adik-adiknya yang terlalu manja, Yudha yang mampu hingga mereka tampak baik-baik saja.


"Lalu apa masalahmu? Kenapa ke kamarku? Hm?" tanya Yudha menarik adiknya dalam pelukan, sebuah interaksi tak biasa dan terkadang membuat Arjuna bergidik ngeri.


"Damn it!! Aku lanang loh, Mas!!" pekik Arjuna kala Yudha justru mengeratkan pelukannya.


"Cepat, Kak, papa sama kak Raja sudah menunggu di bawah."


Terlalu memikirkan Bima, pria itu sampai lupa rencana mereka di pagi ini. Sejak Yudha hadir di keluarga itu, hati Atmadjaya memang melembut dan tidak semena-mena. Mau bagaimanapun, Yudha dan Bima adalah darah dagingnya.


Jadi, sekalipun benci pada Runi yang dahulu menjebaknya hingga terpaksa harus menikah dan meninggalkan wanita yang dia cintai, Atmadjaya mencoba berdamai dengan itu.


Tiba di bawah papanya sudah menunggu dengan raut datar seperti biasa. Dahulu Yudha selalu bertanya, gen dari mana hingga Bima sedatar itu menatap sekitar, kini jelas sekali penyebab awalnya.


"Lama ya, Pa?"


"Masih saja bertanya, kau berhias dulu atau bagaimana, Yudha?" tanya Atmadjaya pada putranya, bibir Yudha yang terlihat lembab jelas menjadi pusat perhatiannya.


"Tidak, Pa," elak Yudha kemudian, padahal sudah jelas wajahnya berseri seperti anak perawan.


"Halah, terus di wajah dan bibirmu apa?"

__ADS_1


"Sunscreen sama lipbalm doang, cuma tipis kok biar tidak seperti orang sakit," jawab Yudha santai sekali, Atmadjaya yang terbiasa dengan karakter Bima justru terkejut dengan fakta dia memiliki putra semenggemaskan ini.


"Lari pagi padahal," gumam papanya menggeleng pelan.


"Nanti kan ada mataharinya, Pa," balas Yudha tetap membela diri dan merasa langkah yang dia ambil tidak salah sama sekali.


"Dih kak Yudha cucok banget jadi laki, saingan sama Mama," sindir Raja dari kejauhan, padahal jika ke kamar Yudha yang dia tuju juga meja rias Yudha.


"Sudah-sudah, ayo pergi malu sama matahari!!"


Atmadjaya begitu banyak kesalahan, terutama pada Yudha. Untuk itu, tidak peduli sekalipun putranya sudah sedewasa ini. Dia akan memberikan perhatian sekecil apapun itu, termasuk lari pagi demi kesehatan putranya.


"Oh iya, Bima kapan pulangnya? Masih lama?"


"Lusa mungkin, Pa ... kenapa memangnya?" tanya Yudha menoleh ke arah papanya yang tampak ngos-ngosan padahal baru lari beberapa meter.


"Tanya saja, apa dia sedang mencari wanita itu? Siapa namanya?"


"Lengkara, Pa."


"Papa penasaran, secantik apa sampai pohon kaktus itu kehilangan jati dirinya," ucap Atmadjaya yang membuat Yudha mengu-lum senyum.


"Cantik, Pa ... tapi cantikkan aku," jawab Yudha kemudian.


"Ck, papa potong belalaimu lama-lama," ancam Atmadjaya sembari menghentikan langkah, heran juga kenapa bisa dua putranya bertolak belakang begini.


.


.


- To Be Continued -


__ADS_1


__ADS_2