
Tidak pernah tidur siang, sekalinya tidur siang lama. Bima terperanjat kaget kala menatap jam di dinding, begitu juga kala dia menatap ke luar sudah gelap. Buru-buru Bima membersihkan diri, andai keluarga besar Lengkara tahu hal ini jelas saja dia malu setengah mati.
Seperti biasa, tidak butuh waktu lama untuk Bima menuntaskan kegiatan pribadinya. Meski sedikit malu, Bima mencoba menguatkan hati untuk keluar. Namun, baru saja membuka pintu dia semakin merasa bingung karena suasana justru semakin ramai.
Layaknya anak perawan yang hampir tidak pernah keluar, Bima melangkah ragu sebelum kemudian bergabung ke ruang keluarga. Mulutnya menganga kala menyadari kehadiran kiyai Husain yang dahulu sempat hadir saat dia akad di rumah sakit.
Bima menepuk wajahnya beberapa kali, memastikan jika dia tidak sedang bermimpi. Yang tadinya hanya ada kedua calon kakak iparnya, kini sudah bertambah. Jika Bima lihat-lihat dan tidak salah ingat, di sana juga ada om Syakil dan juga kedua putranya, Eshan dan Zian.
Ada apa ini? Apa dia tidak seharusnya berada di antara keluarga ini? Seketika Bima merasa bak pengganggu yang tidak dibutuhkan dan duduk di sudut ruangan. Begitu pelan Bima lakukan, tapi mata julid Zean menangkap pergerakannya.
"Astaghfirullah, Bima ... abi lihat, sepertinya dia perlu dinasihati lagi, bagaimana bisa memimpin rumah tangga kalau tidur siang bangunnya menunggu matahari tenggelam."
Sial, Bima bungkam seketika usai mendengar ucapan Zean. Benar-benar tepat menghunus dada dan itu adalah faktanya, tapi dia begitu karena tidak sengaja dan bukan karena terbiasa.
"Ck, Zean diam!!"
Bima menghela napas panjang, dia pikir Sean akan turut membuat suasana jadi panas. Beruntung saja nasibnya tidak begitu buruk kali ini, Sean seolah penengah paling bijaksana walau matanya kerap membuat takut.
"Kak ... ini acara apa?"
Hingga sudah sejelas ini, Bima masih belum mengerti apa yang sebenarnya tengah terjadi. Untuk itu, Bima mencoba bertanya pada kakak ipar Lengkara yang paling tua, terpaksa dia memberanikan diri pada pemilik rahang tegas dan mata tajam yang kerap membuatnya panas dingin itu.
__ADS_1
"Acara apa ya bilangnya ... intinya proses penyatuan dua insan dalam ikatan halal, kira-kira begitu." Sebuah momen langka, Evan berucap panjang kali lebar meski wajahnya tetap datar.
"Ikatan halal? Ameera?"
Keyvan enggan menjawab lagi, biarlah makhluk itu tenggelam dalam kebodohannya. Sudah jelas-jelas yang berjuang sekuat tenaga selama sebulan ini adalah dia, lantas kini dengan wajah polosnya itu bertanya acara apa.
Bima adalah seseorang yang begitu menghargai keputusan orang lain. Ketika lawan bicaranya sudah malas, maka dia tidak akan bertanya lagi lantaran khawatir suasana hati orang itu jelek akibat ulahnya.
Tidak masalah, seiring berjalannya waktu nanti dia juga akan tahu. Bima masih mengikuti alurnya, hingga perlahan mata Bima terbuka kala Kiyai Husain dengan jelas memanggil namanya.
Dia yang tadi pasrah saja menunggu apa yang akan terjadi, mendadak gugup seketika kala kiyai Husain bertanya bagaimana perasaan dan keyakinan dalam hatinya. Tidak hanya itu, jantungnya seakan berdetak dua kali lebih cepat kala Papa Mikhail memanggil Lengkara.
"Lengkara?"
Permintaan Bima untuk kembali kepada Lengkara tidak hanya sekadar diterima, tapi juga diperlakukan layaknya akad pertama kali. Atas kemauan dalam diri Lengkara dan dia mengetahui dengan jelas bahwa yang bersamanya adalah Bima, bukan pria lain.
Awalnya Bima mengira tidak perlu akad ulang, akan tetapi karena memang sudah habis masa iddah dan juga pernikahan pertama Lengkara bisa jadi keberatan dan dipenuhi kebohongan, untuk itu dia kembali menjabat tangan Mikhail sebagai wali Lengkara malam ini.
Selalu saja mendadak, entah apa alasannya, tapi mungkin ini adalah yang terbaik. Kembali, tanpa kehadiran keluarganya, bahkan Yudha saja tidak ada di sana, Bima dengan tegas mengucapkan janji kedua kali untuk menjaga Lengkara di hadapan Tuhan dengan disaksikan banyak mata.
Sama sekali tidak pernah dia bayangkan, bangun tidur lalu menikah dan statusnya berubah dalam hitungan jam. Semua tampak khidmat selama proses akad berlangsung, sementara dirinya masih bingung dan mengambang antara sadar dan tidak sadar.
__ADS_1
Tanpa tuxedo yang membalut tubuh tegapnya, untung saja Bima mengenakan baju koko yang sempat dia gunakan untuk shalat magrib sebelum keluar kamar. Dia tidak menyangka secepat itu, tapi anehnya Lengkara seolah telah siap lahir batin, bahkan dia memoles wajahnya seakan pengantin yang melakukan akad di sebuah gedung mewah.
"Sudah sah, Bim tidak masalah dicium," desak Zean kala Bima seragu itu ketika dipersilahkan untuk mencium kening sang istri.
Sang istri? Iya, Bima tidak salah dengar dan memang nyata Lengkara adalah istrinya. Wanita yang dia perjuangkan sejak tiga bulan pasca perceraian dan puncaknya satu bulan terakhir ini benar-benar menjadi miliknya.
"Lengkara ...."
"Iya, Mas ... kaget ya?" tanya Lengkara mengulas senyum hangat seraya mengusap wajahnya, Bima yang terpaku dan belum juga berhasil menciumnya menunjukkan jika dia memang seolah membeku.
"Biasa saja, Bim ... jangan terlalu berlebihan, yang bentukannya begitu di rawa-rawa juga banyak," celetuk Zean yang sedikit sebal lantaran Bima selalu menitikkan air mata setiap kali menatap Lengkara.
"Kau!! Memang sebaiknya tidak perlu kuundang di pernikahan anakku!!" Begitu jelas Bima mendengar Papa Mikhail berucap demikian sebelum kemudian melempar bantal tepat di wajah Zean.
Sedikit dipercepat, setelah dahulu Lengkara yang dibuat terkejut dengan statusnya sebagai istri setelah koma. Kini, Bima yang dibuat terkejut lantaran tiba-tiba diminta jadi suami setelah bangun dari tidur.
"Bim, setelah ini temui aku," ucap Sean kemudian berlalu meninggalkan tempat itu, Bima yang mengangguk patuh sebelum kemudian kembali mengecup kening Lengkara begitu lama.
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -