
Cukup mudah bagi Bima membuat asisten rumah tangganya mengaku, hanya dengan ancaman potong gaji dia berhasil mendapat informasi seakurat itu. Tidak hanya kebenaran tentang Papa Atma yang memang benar-benar datang, tapi juga Bu Seruni yang termenung hingga larut malam di ruang tamu pasca kepergian Papa Atma juga berhasil Bima dapati.
Padahal, memotong gaji seseorang bukan gaya Bima sama sekali. Sejak dahulu, dia tidak pernah menindas dengan cara itu. Entah kenapa ide untuk mengancam itu muncul, mungkin karena dia malas mendapati kebohongan padahal faktanya sudah terlalu kentara.
Niat Bima untuk segera ke kamar dia urungkan, pria itu beralih mencari sang ibu yang kemungkinan besar masih terus merajut di depan sana. Setelah sekian lama, dia justru gemas sendiri dengan hubungan kedua orang tuanya.
Papa Atma yang seolah pasrah dengan penolakan Bu Seruni selama ini ternyata tengah berbohong pada Bima. Pasca perceraian itu resmi, Papa Atma secara terang-terangan bertanya tentang kesempatan untuk kembali pada mantan istrinya lewat Bima.
Namun, yang Bima ingat sang ibu menolak dan nengatakan tidak memiliki keinginan untuk kembali merajut tali kasih bersama mantan suaminya. Bima sama sekali tidak memaksa, dia sangat membebaskan kedua orang tuanya hendak bagaimana.
Hanya saja kali ini Bima merasa keputusannya untuk diam dan percaya begitu saja sedikit salah. Terlebih lagi kala dia mendengar penuturan asisten rumah tangganya terkait kesedihan wanita yang telah melahirkannya itu semalam. "Kenapa? Kamu kena imbasnya? Hahaha kerjaan papa mertuamu, Bim ... sudah ibu duga dia ngambek," ucap Bu Seruni tanpa menatap ke arah Bima yang kini duduk di hadapannya.
"Kemarin papa pulang jam berapa?" tanya Bima langsung pada intinya, padahal dia tidak pernah mengabaikan ucapan sang ibu seperti kali ini.
"Hah? Apanya pulang jam berapa?"
"Ya orangnya, masa rohnya," jawab Bima sekenanya dan berhasil membuat Bu Seruni menghela napas kasar.
Entah ajaran siapa, seingat dia Bima tidak pernah bicara asal seperti itu. Mungkin terlalu lama bergaul dengan sang mertua dan Yudha, jadi ada sesuatu yang terjadi di otak Bima.
"Kenapa tanya ibu? Papamu tidak datang kemari," pungkas Bu Seruni kembali meneruskan kegiatannya, berusaha sebaik mungkin menghindari tatapan Bima.
"Kenapa tidak dipakai? Bukankah dulu ibu ngidam kalung itu?" Tidak sekali dua kali, Bima kembali melontarkan pertanyaan yang tidak sejalan dengan ucapan sang ibu.
__ADS_1
Sorot tajam Bu Seruni menghunus relung hati Bima, kalung yang kini berada di tangan Bima membuat wanita itu bungkam seketika. Dia diam, sama sekali tidak punya alasan yang bisa dia lontarkan.
Juga, sejak kapan Bima tahu tentang kalung itu? Besar kemungkinan mulut Papa Atma adalah penyebab utamanya. Seolah tidak bisa menjaga rahasia, kini Bu Seruni yang susah payah hendak bagaimana.
"Dulu, Nak ... sekarang tidak lagi," jawab Bu Seruni tersenyum kecut, pada akhirnya dia menyerah dan mengakui tentang kalung itu.
"Aku pernah melihat kalung ini di ruang kerja papa ... sampai aku dewasa juga masih tetap di sana, aku tidak tahu jika kalung ini milik Ibu sebenarnya, tapi beberapa bulan lalu papa bercerita tanpa kuminta," papar Bima panjang lebar meski sama sekali klarifikasinya tidak dibutuhkan.
"Sudahlah, Bim, jika kamu ingin membicarakan soal benda itu lebih baik jangan ... itu bukan kalung ibu, tapi kalungmu, ambil saja jika mau," ucap Bu Seruni dengan tatapan sendu ke arah Bima.
"Kenapa jadi kalungku? Jelas-jelas ibu yang minta."
"Kata orang, ngidam itu adalah keinginan bayinya ... kamu tahu, saat kalian berdua masih di dalam kandungan ibu sangat-sangat menginginkan benda itu. Bahkan, ibu nekat memintanya meski ibu tahu saat itu papamu mulai berkhianat."
Sejak tadi Bu Seruni diam, pada akhirnya dia berani bersuara dan membuat Bima hanya bisa mengerjap pelan saat ini. "Tapi, hingga kalian lahir ke dunia keinginan ibu tidak dikabulkan ... sampai akhirnya perasaan itu sudah hilang, ibu tidak lagi menginginkannya waktu itu."
"Ibu semalam bersedih karena benda ini?" tanya Bima lagi, meski sudah tahu dari pelayan, tapi Bima lebih suka dengan pengakuan seseorang yang mengalami.
"Sama sekali tidak, ibu hanya sedih mengingat kita bertiga ... itu saja."
"Benarkah? Bukan karena hal lain?" selidik Bima penasaran, dia benar-benar ingin mendengar isi hati sang ibu kali ini.
"Hal lain apalagi? Tidak ada alasan ibu sedih selain kalian berdua," tutur Bu Seruni tetap lembut meski ingin sekali mencubit bibir putranya.
__ADS_1
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Yang paham apa mau ibu adalah hati ibu sendiri ... tanyakan pada hati, bicarlah bersama diri sendiri sendiri dan ibu akan mendapat jawabannya."
"Tidak ada yang salah andai di hati ibu masih ada papa, terkadang kita memang harus berhenti lebih dahulu untuk memahami bagaimana langkah ke depannya," lanjut Bima lagi, dia menatap lekat sang ibu yang kini memilih diam dan tampak berpikir matang-matang.
"30 tahun sudah cukup untuk menjawabnya, Nak. Tidak munafik, ibu memang mencintai papamu karena mungkin sampai akhir juga begitu ... tapi yang harus kamu tahu, sekalipun perasaan itu masih ada ibu rasa cukup jadi kenangan saja."
"Tapi bagaimana dengan papa?"
"Jawaban ibu tetap sama seperti dulu, berhubungan baik mungkin iya tapi jika kembali lagi tidak. Sudah terlalu tua untuk memulai dan tidak ada alasan yang mengharuskan ibu kembali pada papamu."
"Tapi aku ngidam papa sama ibu rujuk gimana dong?" tanya Bima seraya mengerucutkan bibir.
"Ngawur, sana masuk ... istrimu makin ngambek tahu rasa," celetuk Bu Seruni yang membuat Bima panik seketika, bisa-bisanya dia lupa kalau boneka mampang itu pantang didiamkan jika sedang kacau hatinya.
.
.
- To Be Continued -
Ohayo, ini senin 😙 Vote boleh di sini boleh di Yudha.
Buat pemenang GA mohon segera konfirmasi nomornya ke aku ya❣️
__ADS_1